
Adeline sudah menggunakan pakaian lengkapnya. Perempuan dewasa yang terpaksa menikahi berondong yang usianya terpaut tujuh tahun darinya itu masih berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Melihat wajah sang suami yang sudah lecek bagaikan pakaian yang belum disetrika membuatnya begitu ingin tertawa lepas. Namun, juga ada sedikit rasa tidak tega pada pria berparas tampan itu karena lagi-lagi harus menahan sesuatu yang sekarang sudah menjadi haknya.
"Kalau mau tertawa, tertawa saja. Tidak perlu di tahan! Aku tahu kau sedang menahannya," ujar Danendra ketus sambil melirik sang istri.
"Tidak, Nen. Aku cuma merasa bersalah saja padamu. Harusnya tadi aku tidak membalasnya, yah?" elak Adeline dengan senyum malu-malu.
Danendra mendengus hingga meniupkan udara ke atas sebagai pelampiasan rasa kesal yang sejak tadi dia rasakan. "Bulanmu itu kapan perginya?" tanyanya dingin.
"Seminggu paling, yang sabar, yah!" Adeline menjawab tanpa rasa bersalah.
"Lama sekali!" pekik Danendra terkejut.
Adeline yang sejak tadi berusaha menahan tawa akhirnya kalah. Perempuan dewasa itu terkekeh geli karena melihat ekspresi kaget sang suami.
"Kau ini dulu sekolah atau tidak? Hal remeh seperti itu sampai tidak tahu."
Danendra melirik sekilas tanpa berniat menimpali ucapan sang istri. Pria yang masih merasa kesal karena lagi-lagi harus menahan diri dari keinginannya itu kembali melanjutkan sarapannya.
Disisi lain Adeline hanya mengedikkan bahunya lalu menyantap makanan yang sejak tadi belum tersentuh olehnya. Perempuan itu beberapa kali melirik sang suami yang ternyata sudah selesai sarapan.
"Nendra, boleh tidak kalau aku memeriksa bar milikku? Aku sudah lama tidak datang kesana setelah kamu membuat ulah."
Danendra dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah lagi mengizinkan kamu datang kesana."
"Memangnya kenapa?" tanya Adeline yang tentu saja tidak terima.
"Aku tidak mengizinkan kamu bekerja lagi, Adel. Sudah cukup sepak terjangmu di dunia karir selama sepuluh tahun ini. Hartaku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keturunan kita nanti," jawab Danendra tegas.
Raut wajah Adeline seketika berubah sendu, tidak mungkin dia begitu saja melepas bisnis yang dia rintis selama ini seorang diri. Di dalam bisnis itu tidak hanya ada kegigihan dan semangatnya saja. Berulang kali jatuh bangun sudah dia rasakan. Penuh perjuangan dengan keringatnya sendiri hingga bisa sesukses saat ini.
"Aku tidak mau, Nendra. Bisnis itu akan selamanya aku pertahankan!"
"Terserah padamu, Adel. Tapi aku tidak akan pernah mengizinkan!"
Malas berdebat akhirnya Danendra memutuskan untuk pergi dari sana. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di kamar. Dengan terpaksa dia juga harus menunda rencana yang sudah dia persiapkan.
__ADS_1
"Enak sekali dia mengaturku sesuka hati. Dasar pria menyebalkan!" gerutu Adeline kesal.
Perempuan dewasa yang masih terlihat sangat cantik itu merapikan bekas makannya bersama sang suami serta mencucinya. Ketika sedang sibuk dengan kegiatannya, tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Buru-buru Adeline mengelap tangannya yang masih basah lalu beranjak menuju pintu untuk memeriksa siapakah yang datang ke huniannya tersebut.
"Zico!" pekik Adeline girang, dia bahkan sampai memeluk sang adik.
"Kakak apa kabar?" tanya Zico basa-basi setelah pelukan terlepas.
"Baik, kamu gimana?"
"Aku baik, Kak."
Adeline mengajak sang adik untuk masuk dan membawa calon ayah itu menuju ruang tamu. Sebelum memulai perbincangan mereka, Adeline sudah lebih dulu membuatkan minuman untuk sang adik.
"Terimakasih, Kak," ucap Zico saat sang kakak menaruh minuman tepat di depannya.
"Sama-sama," jawab Adeline tersenyum lembut. "Kamu ada apa sampai datang kemari?"
"Papa menyuruh kita untuk berkumpul di rumah, Kak. Katanya mau menyambut Kak Nendra sebagai keluarga baru," jawabnya menyampaikan pesan sang ayah.
"Kata siapa? Aku bersedia datang, kok!" Danendra datang menyela. "Zico, bilang ke papa. Kakak akan datang nanti sore," ujarnya kini beralih pada adik iparnya.
"Baik, Kak Nendra. Zico sampaikan pada papa nanti," jawab Zico dengan ekspresi senang.
Setelah menyampaikan hal itu sebenarnya Zico berniat untuk segera pulang. Namun, Danendra menahan adik iparnya itu dengan alasan ingin lebih dekat dengan adik dari istrinya.
Karena tidak enak hati jika menolak akhirnya Zico melayani sang kakak ipar yang mengajaknya untuk mengobrol. Mereka seperti sepasang kakak adik yang kompak saat meledek satu-satunya perempuan yang ada disana.
"Kak, bagaimana rasanya menikahi wanita yang usianya lebih tua dari kakak?" tanya Zico seraya melirik sang kakak fengan ekspresi mengejek.
"Kau tidak perlu menekankan kata tua, Zico. Kakak dengan istrimu saja masih terlihat awet muda kakak, tahu!" sella Adeline jengah.
"Ha-ha, mana ada maling mengaku, Kak. Kakak tidak sadar diri," ujar Zico masih saja mengejek sang kakak.
"Zico, kakakmu ini bukan tua, tahu?"
__ADS_1
"Kalau bukan tua lalu apa, Kak?" tanya balik Zico sambil melirik kembali sang kakak.
"Tidak tua, tapi … matang," jawab Danendra menimpali.
Kesunyian yang sempat terjadi di apartemen itu kini berganti dengan tawa dan canda dari kedua pria yang usianya hanya berbeda tiga tahun itu.
"Awas kau Nendra! Lihat saja nanti." Adeline yang merasa bosan selalu menjadi bahan ejekan memilih untuk meninggalkan mereka berdua.
Kepergian Adeline justru membuat mereka lebih leluasa untuk bergurau. Kali ini Zico dengan jahilnya membahas perkara yang sedikit sensitif.
"Kak, sudah berapa ronde? Obat yang aku berikan ampuh, 'kan?" bisik Zico sambil menaik turunkan alisnya.
"Berapa ronde apaan? Kakakmu baru di cium sudah keluar darah!" gerutu Danendra kesal.
Kedua mata Zico sampai membulat sempurna. "Kakak parah sekali, belum apa-apa sudah membuat Kak Elin berdarah-darah," ujar Zico sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Danendra langsung menggeplak pelan kepala sang adik ipar. "Jangan mes*m kau! Kakakmu berdarah karena kedatangan tamu bulanannya!" seru Danendra setengah berbisik.
Zico tertawa terbahak-bahak ketika mendengar pengakuan sang kakak ipar. Pria itu menertawakan nasib sial pria yang usianya tidak jauh berbeda darinya itu.
"Tenang, Kak. Setelah ini gempur habis-habisan. Gunakan semua gaya agar Elin junior segera launching," bisiknya menggoda sang kakak ipar.
"Dasar bocah sableng!" makinya kepada sang adik ipar. "Tapi boleh juga share ilmu ranjangmu, Co," bisiknya dengan seringai tipis.
"Boleh, Kak. Asalkan …."
"Asal apa?" tanya Danendra penasaran.
"Jangan keras-keras, aku takut kak Elin kesakitan," jawabnya lalu kembali tertawa lantang.
"Kalian ini sedang membicarakan apa? Suaranya sampai terdengar ke kamarku."
Kedua pria itu menoleh dan langsung kicep tanpa mengeluarkan suara apapun. Padahal tadi mereka sedang asyik-asyiknya membahas perihal kedewasaan dalam urusan rumah tangga.
"Kenapa tiba-tiba diam? Aku jadi curiga pada kalian," ujar Adeline menatap penuh selidik
__ADS_1