
Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga inti Alefosio pun tiba. Pagi-pagi sekali mansion itu sudah dipadati oleh para WO yang mulai mengurus urusan catering dan memastikan bahwa semua persiapan sudah benar-benar sempurna.
Danendra masih sibuk mendandani putra pertamanya. Sementara itu, Adeline juga tengah dirias oleh MUA profesional. Begitu juga dengan Silvia dan Nabila. Mereka sudah siap untuk menyambut para tamu undangan.
"Nah, sempurna. Nyonya terlihat semakin cantik," puji MUA setelah selesai menata rambut Adeline.
"Terima kasih, Madam. Ini semua berkat tangan ahli madam," sahut Adeline yang kembali melempar pujian.
"Ah, Nyonya memang sudah cantik, kami hanya memoles sedikit saja." MUA profesional yang telah selesai mengerjakan tugasnya langsung membereskan peralatan make up-nya.
"Saya permisi dulu, Nyonya," pamitnya sopan.
"Silahkan," balas Adeline dengan senyum manisnya.
Para perias itu pun pergi meninggalkan Adeline yang masih duduk menghadap cermin bulat di hadapannya. Wanita dewasa itu memperhatikan wajahnya yang memang terlihat lebih cantik. Tiba-tiba dari belakang Danendra datang dan langsung memeluk pinggang ramping istrinya seraya memberikan sedikit kecupan di leher wanita tercinta.
"Sayang, nanti berantakan lagi," protes Adeline ketika Danendra seperti akan melanjutkan kegiatannya.
"Sebentar saja, Sayang." Tangan yang awalnya melingkar di pinggang kini perlahan mulai naik.
Kedua tangan Adeline mencegah tangan sang suami yang akan menggerayanginya. "Percuma, Sayang. Kamu tidak akan mendapatkan jatah sampai sebulan ke depan," bisik Adeline dengan suara manja.
Hasr*t kelaki-lakian Danendra seketika hilang setelah mendengar ucapan sang istri. Dia baru sadar bahwa istrinya itu belum boleh disentuh. Apalagi ingin bercinta seperti yang dia inginkan sekarang.
Adeline terkikik geli saat melihat suaminya itu langsung lemas dan lunglai. Kedua tangannya juga langsung melepaskan sang istri. Wajah tampan bak pangeran yang ditumbuhi sedikit jambang itu seketika murung.
"Kok lemes gitu, sih," cibir Adeline menggoda.
"Kamu enggak asyik." Danendra melipat bibirnya tanda merajuk.
"Nanti malam, yah."
"Kalau nanti malam memangnya boleh?" tanya Danendra penuh semangat.
Tawaran itu seketika membuat Danendra kembali bersemangat. Kedua mata tajam itu bahkan berbinar-binar. Namun, detik berikutnya dia merasa seperti dijatuhkan ke dasar jurang setelah diajak terbang ke awang-awang.
__ADS_1
"Boleh, pakai tangan." Wanita dewasa itu tertawa riang setelah melihat wajah suaminya kembali datar.
*****
Sementara itu, di lantai bawah mansion Alefosio, para tamu mulai berdatangan. Tempat mewah yang kini dihiasi oleh balon berwarna biru dan putih yang mendominasi itu sudah ramai oleh para kerabat.
Mereka semua adalah kerabat dekat dan jauh keluarga Alefosio dan Silvia. Sedangkan Nabila, dia sekarang seperti orang yang hidup sebatang kara. Hanya Adeline yang menerima dan mencintainya dengan tulus.
Silvia sedang menyambut kedatangan para kerabat yang memang hanya bisa bertemu ketika mereka ada acara-acara besar seperti ini.
"Loh, mana cucu kamu, Sil? Aku penasaran seperti apa anak Danendra."
"Ada kok! Masih sama Opanya," jawab Silvia dengan suara lembutnya.
"Oh iya, terus Danendra sama istrinya mana? Aku kemarin belum sempat datang saat mereka menikah," timpal salah satu kerabat.
Silvia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan sepasang orang tua baru itu. Ketika melihat ke arah tangga wanita paruh baya itu mengulas senyum lega saat melihat kedua anaknya sedang menuruni tangga dengan bergandeng tangan.
"Itu mereka." Tunjuk Silvia ke arah tangga.
Danendra pun tidak kalah keren dan berwibawa dengan tuxedo berwarna senada dengan gaun sang istri. Mereka terlihat begitu serasi. Setiap orang yang melihat, tidak akan menyangka bahwa usia Adeline jauh di atas sang suami.
"Sayang, sini." Silvia melambaikan tangan untuk memanggil anak serta menantunya.
Keduanya langsung berjalan menghampiri Silvia yang sedang bersama beberapa kerabat. Adeline sedikit mengangguk dan menundukkan kepalanya sebagai sapaan kepada para kerabat yang belum dia kenal.
"Wah, Nendra. Kamu hebat, pinter banget pilih istri. Nggak sia-sia nunggu waktu lama, ya," puji salah satu kerabat sambil mencubit lengan laki-laki itu.
Danendra hanya tertawa kecil sedangkan Adeline tersenyum malu-malu. Tingkah sepasang suami istri itu tentu saja membuat para orang tua semakin gencar menggoda mereka.
"Nggak ada yang sia-sia, Kak. Apa lagi setelah menikah langsung dapat momongan," timpal salah satu kerabat kembali melontarkan pujian dengan nada menggoda.
Silvia mendekap erat menantunya itu, seolah merasa begitu bangga dan ingin menunjukkan kelebihan sang menantu kepada dunia.
"Aku beruntung banget punya menantu sepertinya loh, Kak. Dia itu wanita baik hati yang sangat menyayangi keluarga," puji Silvia membanggakan sang menantu.
__ADS_1
"Mama bisa aja," balas Adeline malu-malu.
"Oh iya, kenalin dulu. Ini Tante Irene, terus itu Tante Alina, nah itu Tente Cheline," ucap Silvia memperkenalkan ketiga orang yang sejak tadi bersamanya.
"Salam kenal, Tante." Mereka saling cipika-cipiki.
"Ma, Sayang, aku temui tamu yang lain dulu, ya," pamit Danendra kepada kedua wanita tersayang.
"Oh iya, sekalian panggilkan Mama Nabila, Nendra."
"Okey," balasnya seraya mengacungkan ibu jari.
Acara pun dimulai saat Alefosio turun dari tangga sambil menggendong sang cucu. Kedatangan laki-laki penguasa yang terkenal dingin di luar itu langsung menjadi pusat perhatian. Dia naik ke atas panggung kecil yang terletak di tengah.
"Mohon perhatian kalian semua. Hari ini aku Ferdinand Alefosio, mengundang kalian datang kesini untuk memperkenalkan cucu pertamaku."
Setiap undangan yang hadir menatap ke arah yang sama, yaitu tempat sang penguasa sedang memberikan sambutan. Ketika laki-laki paruh baya itu sedang berbicara, tidak ada satupun orang yang berani menyela ataupun mengeluarkan sedikit suaranya.
"Dia Devandra Alefosio, calon penerus keluarga Alefosio. Mulai saat ini, semua harta dan jabatan dan semua yang aku miliki adalah miliknya." Alefosio menatap penuh kasih sang cucu yang kini tengah tertidur lelap.
Setelah acara penyambutan serta memperkenalkan identitas cucu pertamanya, Alefosio turun dari panggung. Laki-laki itu menghampiri sang menantu yang tengah berada di dekapan hangat istrinya. Wanita dewasa yang sudah memberikan dia penerus itu terlihat terharu. Tampak dari kedua matanya yang mengembun.
"Elin, terima kasih sudah memberikan papa seorang cucu yang tampan ini." Alefosio menyerahkan sang cucu pada istrinya.
"Papa tidak akan pernah bisa membalas meskipun memberikan semua harta kami padamu. Mulai saat ini, semua aset kekayaan keluarga Alefosio telah resmi berpindah nama atas nama kamu sebagai wali untuk Devan," lanjutnya dengan suara tegas.
Seseorang yang berada dua meter dari Alefosio seketika melangkah maju setelah melihat isyarat tangan tuan besarnya. Di tangan orang tersebut memegang sebuah koper berukuran sedang yang langsung dia serahkan kepada Alefosio.
Laki-laki berusia senja itu membuka koper yang baru saja dia terima lalu menyerahkannya pada sang menantu. Namun, Adeline tidak langsung menerimanya.
"Ini apa, Pa?" tanya Adeline masih belum paham.
"Surat-surat kepemilikan harta keluarga atas nama kamu, Elin. Papa dengan sadar dan tanpa paksaan menyerahkan semua ini kepada kamu," ujarnya tanpa ragu yang seketika membuat semua orang membulatkan mata tidak percaya.
__ADS_1