Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Mencintai Orang Lain


__ADS_3

"Udah sana mandi, malah bengong aja di situ!" tegur Malik kepada Rihanna yang duduk di atas ranjang. 


Rihanna memperhatikan sang suami yang kini sedang mengambil pakaian di lemari. Laki-laki itu terlihat cuek, tidak seperti biasanya yang banyak omong. Hal itu tentu saja membuat Rihanna semakin menyesal karena sudah membahas perkara sayap pelindungnya. 


Sementara itu, Malik melirik sekilas sang istri yang belum juga beranjak dari tempatnya. Laki-laki dengan dada terbuka itu tersenyum tipis. Dia memang sengaja tidak merespon penjelasan sang istri tentang sayap pelindung masa kecil istrinya itu. 


Meski berlagak seperti seorang yang sedang merajuk, tetapi sebenarnya hati Malik tengah berbunga-bunga. Pada akhirnya Rihanna tahu kebenaran itu tanpa dirinya harus menjelaskan. Padahal waktu itu Malik sudah memutuskan untuk melupakan kejadian tersebut dan memulai semuanya dari awal. Namun, ternyata takdir yang justru membuka kisah masa lalu itu. 


"Kay, kamu tidak mau ikut?" tanya Malik tanpa menatap sang istri. 


"Kamu tadi bilang Pak Hartawan ingin bertemu istrimu, kalau aku tidak ikut, memangnya kamu mau bawa siapa?" 


"Ya sudah, sana mandi. Aku tidak mau kita terlambat dan mengecewakan Pak Hartawan." 


Rihanna turun dari ranjang, kemudian berjalan gontai menuju kamar mandi. Tidak ada sedikitpun semangat dalam diri Rihanna sebab suaminya tiba-tiba berubah sikap. Dia menyadari bahwa perubahan Malik adalah akibat kesalahan dirinya. Namun, Rihanna sama sekali tidak berpikir Malik akan semarah ini sampai bersikap cuek padanya. 


Selesai membersihkan diri, Rihanna keluar hanya dengan memakai handuk saja. Wanita hamil itu mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan suaminya yang sudah tidak terlihat. 


"Mungkin dia sudah keluar duluan. Aku harus cepat bersiap agar Malik tidak semakin marah padaku," gumam Rihanna segera mempercepat langkahnya. 


Di sisi lainnya, Malik tengah duduk di ruang keluarga setelah sang ibu memanggilnya. Sepasang ibu dan anak itu duduk berdampingan dengan secangkir kopi berada di hadapannya masing-masing. 


"Kenapa tiba-tiba ngajak Malik ngopi, Mam?" 


"Mami mau bicara berdua sama kamu," jawab Riani seraya mengambil secangkir kopi miliknya. 


Uap panas menguar ke atas setelah si pemilik meniupnya perlahan-lahan, Riani menyesap kopi hitam buatan asisten rumah tangganya itu sedikit demi sedikit. Sedangkan Malik hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh ibunya. 


"Bicara tentang apa?" 


Riani kembali menaruh cangkir kopinya setelah menyesap kopi itu beberapa kali. Kini wanita paruh baya yang terlihat anggun itu menatap lekat wajah sang putra. 


"Mami tahu, kamu sedang mengerjai Rihanna," balas Riani seketika membuat Malik tertawa lirih. 

__ADS_1


"Mami tahu?" tanyanya setelah berhasil menghentikan tawanya. 


"Sifat kamu dari dulu kan suka usil sama orang-orang yang kamu sayangi. Pasti kamu sedang mengerjai Rihanna tentang masa kecil kalian, 'kan?" 


Malik kembali tertawa, sekarang volumenya lebih keras dari pada tadi. Sedangkan Riani hanya menggeleng pelan. Beberapa saat kemudian tawa Malik berhenti. 


"Mami masih ingat saja dengan keusilanku." 


"Usil itu boleh-boleh saja, Malik. Tapi mami pesan kali ini jangan keterlaluan. Istrimu masih hamil muda. Kasihan dia," tutur Riani menasehati. 


"Malik ga jamin, Mi. Habisnya ekspresi Kayla itu sangat menggemaskan kalau lagi bingung," jawab Malik seraya membayangkan wajah manis sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan. 


"Mami ga masalah kalau Rihanna enggak sedang hamil. Tapi hormon wanita hamil itu berbeda, Malik. Dia tidak boleh berpikir terlalu berat," tegur Riani yang mengkhawatirkan menantunya. 


"Iya-iya, nanti Malik minta maaf sama Kayla." 


"Benar, yah! Jangan bohong." 


"Iya, Mam." Kini giliran Malik menggapai cangkir kopi dan segera meminumnya hingga tandas karena kopi itu sudah dalam keadaan tidak terlalu panas. 


"Itu karena Malik bukan orang yang suka mengumbar janji, Mam. Jadi Allah kasih Malik kemudahan saat Malik mengucap janji," ujarnya percaya diri. 


"Ya-ya-ya. Hasil didikan mami," puji Riani kepada dirinya sendiri. 


Obrolan mereka terhenti saat Rihanna datang. Tatapan Malik tertuju pada Rihanna yang terlihat semakin cantik dengan polesan make up tipis. Rambutnya yang indah tergerai. Aura Rihanna semakin terpancar setelah wanita itu berbadan dua. Penampilan Rihanna kali ini benar-benar mempesona. 


"Aku sudah siap, Malik," ujar Rihanna berdiri di samping Malik, jarak mereka hanya tersisa satu meter saja. 


"Ya sudah, kita berangkat sekarang!" Malik beranjak setelah menaruh kembali cangkir kopi di tempat semula. 


"Kita berangkat dulu, Mam," pamit Malik kemudian mencium punggung tangan sang ibu begitupun juga dengan Rihanna. 


"Hati-hati, Sayang. Kalau Malik berulah, bilang aja sama mami. Nanti mami adukan ke papi," ujarnya saat Rihanna berpamitan. 

__ADS_1


"Iya, Mam." Rihanna yang memang masih terbebani oleh sikap cuek Malik, hanya menjawab seadanya perkataan sang mertua. 


Mereka pun berangkat menggunakan mobil. Kali ini Malik tidak menyetir sendiri kendaraan miliknya. Sopir pribadi yang hanya dia gunakan disaat-saat tertentu saja kini sedang mengendarai mobil mewah itu. 


Rihanna sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan untuk bernapas pun dia lakukan dengan hati-hati. Rupanya sikap cuek Malik benar-benar membuat Rihanna tertekan.


Malik mengalihkan pandangan sejenak untuk menatap sang istri yang duduk di sampingnya. Wanita tercintanya itu memang terlihat seperti orang yang gelisah. Melihat itu, Malik mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan sang istri yang berada di pangkuan. 


"Eh," lirih Rihanna saat merasakan ada tangan besar yang menyentuh tangannya, seketika Rihanna menoleh ke samping, suaminya itu sedang tersenyum hangat. 


"Kamu masih memikirkan tentang itu?" 


Rihanna mengangguk kecil, "Maaf, aku kira sayap pelindungku itu adalah kamu," jawab Rihanna sambil memalingkan wajahnya, wanita hamil itu berusaha menyembunyikan matanya yang kini berkaca-kaca. 


Malik menarik pelan tangan kanan istrinya kemudian memindahkannya ke pangkuan. Sebelum itu, Malik bahkan mencium punggung tangan mulus sang istri. 


"Laki-laki itu memang aku, Kay. Memangnya kamu tidak mengenali suamimu sendiri?" 


Seketika Rihanna menoleh kearah Malik. Rihanna tidak langsung mengeluarkan suara. Kedua netra yang tadi hampir meneteskan air mata kini menatap lekat-lekat ekspresi suaminya. 


"Aku tidak bohong, laki-laki itu memang aku." 


Cairan bening yang sempat menganak di pelupuk matanya lenyap seketika. Rihanna menatap garang sang suami yang ternyata mengerjainya. 


"Kamu ternyata belum kapok juga, Malik. Suka sekali mengerjaiku!" sungut Rihanna yang kini merasa kesal. 


"He-he-he, aku cuma mau lihat reaksi kamu aja, Sayang. Tapi sekarang aku yakin, cinta itu memang sudah aku dapatkan seutuhnya darimu," tutur Malik dengan wajah cerianya. 


"Percaya diri sekali! Kamu yakin cintaku sekarang hanya untuk kamu?" 


"Yakin, memangnya kamu masih mencintai orang lain?" tanya Malik seketika memasang ekspresi curiga. 


"Tentu saja," jawab Rihanna singkat, tetapi bagaikan bom atom yang siap meledak di telinga Malik. 

__ADS_1


"Siapa orang itu? Apakah Danendra?" 


__ADS_2