
Sudah satu bulan lebih pasca kejadian yang menghancurkan seluruh hati dan kehidupan Adeline, kini keadaan wanita itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua berkat dukungan positif dari keluarga Alefosio, juga karena Danendra yang memberikan psikolog pribadi untuk sang istri.
Seperti saat ini, Adeline tengah duduk di ruang santai bersama dengan sang mertua. Wanita paruh baya yang awalnya sempat menolaknya pada awal pernikahan, kini justru bersikap selayaknya seorang ibu yang menyayangi putri kandungnya.
"Elin, kamu bosan tidak selalu di rumah terus menerus?" tanya Silvia yang berada tepat di samping sang menantu.
"Bosan, sih, Ma. Tapi … Nendra tidak mengizinkan aku keluar," jawab Adeline jujur.
"Ah, bocah tengil itu biarkan saja menjadi urusan papa. Gimana kalau sekarang kita shopping di mall?"
"Em, memangnya papa memberikan izin, Ma?" tanyanya ragu.
"Justru ini papa yang suruh!" seru Silvia dengan penuh semangat.
Adeline masih bungkam seribu bahasa. Wanita dewasa itu masih ragu untuk menerima ajakan sang mertua untuk keluar dari mansion. Selama satu bulan full Danendra sama sekali tidak mengizinkannya keluar ataupun berkomunikasi dengan orang-orang yang hanya akan membuatnya semakin tertekan.
"Elin, mau, yah!" Silvia belum mau Menyerah untuk membujuk sang menantu.
Meskipun ragu-ragu Adeline mengangguk pelan. Hal itu tentu saja membuat Silvia merasa kegirangan. Akhirnya bujukannya untuk mengajak sang menantu melihat dunia luar berhasil juga. Sebenarnya selain ingin menghibur Adeline dengan suasana luar, wanita paruh baya itu juga memiliki niat untuk mempertemukan menantunya dengan seseorang.
"Good Girl." Saking bahagianya, Silvia sampai memeluk sang menantu dengan sangat erat, Adeline bahkan sampai susah untuk bergerak.
"Mau keluar jam berapa, Ma?" tanya Adeline.
"Sekarang saja. Kamu siap-siap dulu, gih!" perintah Silvia dengan ekspresi gembira.
"Ya udah, Elin siap-siap dulu, yah!" pamitnya yang langsung beranjak dari tempatnya.
Wanita dewasa itu mengganti baju santainya dengan dress lengan pendek sebatas paha dengan warna Salem. Memoles tipis wajahnya agar terlihat lebih segar, dan terakhir dia memakai flat shoes yang nyaman untuknya.
__ADS_1
Danendra memang banyak sekali mengubah gaya penampilan Adeline menjadi lebih sederhana. Bukan karena laki-laki itu tidak mampu membiayai sang istri, tetapi karena pria itu sangat over protective. Dia hanya mengizinkan Adeline berpenampilan seperti dulu ketika sedang pergi bersamanya saja.
Selesai bersiap Adeline mengambil tas yang dia sampirkan di bahunya. Wanita itu keluar untuk menemui sang ibu mertua yang ternyata sudah menunggunya di ruang tamu.
"Sudah?" tanya Silvia mengamati sang menantu dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa dia semakin mirip dengan Nabila jika berpenampilan sederhana seperti ini, sih? Aku jadi makin yakin dengan dugaanku," batin Silvia masih menatap tanpa kedip sang menantu.
"Sudah, Ma. Ayo berangkat!" ajak Adeline yang masih berdiri di depan mertuanya.
Wanita paruh baya itu masih diam saja, tidak menjawab dengan ucapan, pun tidak bereaksi dengan gerakan. Tentu saja sikap aneh sang mertua membuat Adeline sedikit bingung.
"Mama, ayo berangkat." Adeline sedikit menyentuh bahu sang mertua.
Sentuhan lembut itu menyadarkan Silvia dari lamunannya. Wanita itu memaksa kedua sudut bibirnya untuk mengulas senyum.
"Ayo, Sayang!" ajaknya yang langsung menggandeng Adeline.
Begitu turun dari mobil, Silvia terlihat mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Kamu sudah sampai, 'kan? Aku tunggu di tempat biasa kita," ujarnya kepada orang di seberang sana.
"Siapa, Ma?" tanya Adeline setelah sang mertua mengakhiri panggilan telepon.
"Sahabat mama, Elin. Mama sudah janjian sama dia untuk bertemu di sini, sekalian mama mau pamerin menantu tunggal mama ini." Tanpa basa-basi, Silvia menggandeng Adeline masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Silvia membawa Adeline yang hanya bisa pasrah ketika tubuhnya di tarik oleh sang mertua. Mereka menuju sebuah cafe tempat biasa Silvia berkumpul bersama teman-temannya.
"Sil!" Seseorang memanggil Silvia sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Bila." Wanita paruh baya itu bergegas mendekati sang sahabat, tangannya masih menggandeng erat lengan sang menantu.
"Kamu sudah sampai lebih dulu," ujarnya yang langsung memeluk sang sahabat setelah melepaskan lengan menantunya.
Adeline memperhatikan seseorang wanita yang usianya tidak jauh dari mertuanya. Wajahnya juga masih terlihat cantik, tidak jauh berbeda dengan sang mertua. Adeline bahkan sampai menatap tanpa kedip wanita itu.
"Tentu saja! Aku tidak mau jika sahabatku menunggu terlalu lama," ujarnya seraya melerai pelukan.
"Kamu masih saja seperti biasa, Bila. Padahal aku saja biasa ngaret kalau ketemuan sama kamu," ucap Silvia sambil menepuk lembut lengan sang sahabat.
Mereka tertawa bersama, Adeline hanya tersenyum tipis saat wanita itu tiba-tiba memandangnya tanpa kedip. Sorot matanya seperti sedang menatap seseorang yang sudah lama dikenal olehnya.
"Ini siapa, Sil?" tanya Nabila tanpa mengalihkan pandangan.
"Oh, ini menantuku, Bila."
"Istrinya Danendra?" tanyanya masih saja menatap Adeline tanpa kedip.
"Putraku kan memang hanya satu itu, Bil. Kalau bukan istri dia, istrinya siapa lagi?" jawab Silvia yang justru memutar kembali pertanyaan.
"Oh, iya. Dia cantik, Sil. Pantas jika Nendra tergila-gila padanya," puji Nabila.
"Terima kasih, Tante, tapi Elin tidak secantik itu, kok!" Adeline sedikit merasa tidak enak saat mendapatkan pujian yang berlebihan menurutnya.
"Usia kamu berapa, Sayang?" tanya Nabila sambil membelai lembut pipi menantu sahabatnya.
Entah kenapa rasanya dia begitu ingin memberikan sentuhan lembut untuk wanita di depannya. Hati serta raganya seperti memiliki magnet yang menariknya mendekat pada wanita yang baru pertama kali dia temui.
"Tahun ini Elin berusia tiga puluh lima tahun, Tante," jawab Adeline sopan.
__ADS_1
Jantung Nabila terasa berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari wanita di depannya. Wanita berusia lima puluh dua tahun itu tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang baru saja di ungkapkan oleh sang ayah.
"Boleh Tante peluk kamu, Elin?"