
Malam semakin larut saat seorang wanita hamil baru saja terbangun dari tidurnya. Rasa lapar tiba-tiba saja datang dan membuat dia terbangun. Ketika kedua netranya terbuka dan menatap tempat di sampingnya dia tidak menemukan seseorang yang seharusnya tidur di sana.
"Jam berapa ini?"
Rihanna mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan bahwa saat ini sudah masuk jam tengah malam yakni tepat pukul dua belas malam.
"Sudah tengah malam begini apakah Malik belum pulang?" gumamnya lagi merasa heran.
Tidak biasanya Malik sampai tidak pulang hanya karena bertengkar dengannya. Sewaktu mereka tinggal di apartment saja Malik menyempatkan diri untuk pulang meski tengah malam dan langsung pergi pagi-pagi sekali.
Khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya, Rihanna menggapai ponsel yang terletak di atas nakas. Wanita hamil itu menghubungi Malik untuk menanyakan keberadaannya. Namun, baru dering pertama perhatian Rihanna langsung teralihkan dengan suara ketukan pintu dari luar.
"Siapa?"
"Mami, Sayang!"
Wanita hamil itu akhirnya memutuskan panggilan yang belum sempat tersambung. Dia bergegas turun dari ranjang lalu berjalan cepat menuju pintu kamar.
Saat pintu kamar terbuka sang mertua tiba-tiba memeluknya begitu erat. Rihanna kebingungan karena sama sekali tidak paham kenapa tiba-tiba mertuanya itu menangis.
"Mami kenapa?" tanya Rihanna seraya mengelus punggung mertuanya.
"Ma-lik kecelakaan, Sayang," gumamnya lirih di tengah-tengah pelukan.
Rihanna langsung tertegun saat mendengar penuturan sang mertua. Tangan yang semula masih mengelus punggung wanita paruh baya yang memeluknya tiba-tiba terlepas begitu saja. Lututnya pun terasa lemas dan tidak berdaya. Rihanna hampir luruh ke lantai jika saja mertuanya tidak sigap menahan.
"Kamu yang sabar, Rihanna."
"Sekarang gimana keadaan Malik, Mam?" tanya Rihanna menuntut.
"Mami belum tahu, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Riani yang langsung disetujui oleh Rihanna.
Mereka pun bergegas berangkat menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Malik. Sepanjang perjalanan Rihanna terus memegang tangan mertuanya. Tegang, khawatir, serta takut bercampur di benaknya.
"Tangan kamu dingin sekali, Sayang." Riani menggosok tangan sang menantu dengan tangannya agar lebih terasa hangat.
Raut wajah Rihanna sangat kentara bahwa wanita hamil itu sedang mencemaskan keadaan suaminya. Sang mertua menyunggingkan senyum tipis saat melihat reaksi sang menantu. Namun, Rihanna sama sekali tidak dapat membaca situasi yang saat ini terjadi.
__ADS_1
"Papi sudah coba hubungi sekretaris Malik lagi? Tanyakan padanya bagaimana keadaan Malik sekarang!" Riani beralih pada sang suami.
"Belum bisa dihubungi lagi, Mam. Tapi terakhir dia bilang kendaraan Malik ringsek di bagian depan dan belakang," jawab Ibrahim seraya melirik spion di atasnya untuk melihat reaksi sang menantu.
Rihanna menggeleng tidak percaya saat mendengar penjelasan sang mertua. Jika mobilnya saja sampai ringsek di bagian depan dan belakang, itu artinya Malik mengalami kecelakaan beruntun. Semakin panik lah Rihanna ketika memikirkan hal terburuk yang kemungkinan bisa terjadi.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Rihanna hampir berlari setelah turun dari mobil jika saja Riani tidak sigap menahan dengan mencekal pergelangan tangan sang menantu. Wanita paruh baya itu menggeleng pelan.
"Jangan berlari, terlalu berbahaya untuk kandungan kamu, Sayang!" larang Riani yang mengkhawatirkan keadaan janin di dalam rahim menantunya.
"Tapi, Mam … Malik!"
"Tidak apa-apa. Berdoalah agar suami kamu dalam keadaan baik-baik saja," tuturnya lembut.
"Ayo kita masuk!" ajak Ibrahim kepada kedua wanita yang sedang saling menguatkan itu.
Rihanna masuk ke dalam rumah sakit itu dengan digandeng oleh kedua mertuanya. Mereka begitu perhatian kepada Rihanna, dan hal itulah yang membuat Rihanna merasa nyaman berada di lingkungan barunya.
Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang dalam keadaan sepi. Suasana mencekam begitu terasa. Hanya ada beberapa suster yang melintas. Rasanya Rihanna tidak sabar untuk segera sampai di tempat suaminya di tangani. Namun, pegangan sang mertua terlalu erat, membuatnya tidak bisa melepaskan diri.
Dari kejauhan tampak seorang wanita berpakaian tomboi sedang duduk di kursi tunggu. Di depan pintu masuk sebuah ruangan berdiri dua orang laki-laki bertubuh kekar. Wanita tomboi itu berlari menghampiri ketiga orang yang baru sampai.
"Bos Malik sedang ditangani oleh dokter, Tuan. Sejak tadi dokter belum juga keluar," jawabnya sejelas mungkin.
"Mam," rengek Rihanna yang semakin mengkhawatirkan suaminya.
"Nyonya, ini–."
"Iya, dia istri bosmu, Celine."
"Pantas saja bos begitu tergila-gila padanya. Wajah polos saja sudah terlihat begitu cantik. Rasanya ingin aku tenggelamkan diriku di Palung samudera Atlantik saat bersanding dengannya," gumam Celine dalam hatinya.
"Saya sering mendengar bos menceritakan istrinya, Nyonya. Tapi baru kali ini saya dapat kesempatan bertemu dengan Nona muda," ucapnya tanpa sadar membuka aib sang bos.
Beruntung Rihanna sama sekali tidak memperdulikan apa yang diocehkan oleh sekretaris suaminya. Saat ini yang sedang menguasai pikirannya adalah bagaimana keadaan Malik setelah mengalami kecelakaan.
Seorang dokter keluar dari ruangan yang dijaga oleh dua orang kekar di sana. Rihanna, Riani, Ibrahim, serta Celine bergegas mendekati dokter yang menangani Malik.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?"
Tanpa sadar Rihanna sudah mengakui Malik sebagai suaminya. Riani dan Ibrahim saling pandang dengan seulas senyum tipis. Mereka sedikit merasa lega karena kemajuan sikap menantunya tersebut.
Dokter itu menggeleng pelan, "Maaf, Nona. Pasien –"
Belum selesai sang dokter menjelaskan keadaan pasien, Rihanna sudah lebih dulu berpikir negatif. Wanita hamil itu berusaha melepaskan pegangan sang mertua lalu menyingkirkan tubuh sang dokter yang menghalangi pintu masuk.
"Malik!" teriak Rihanna berlari masuk.
Saat masuk ke dalam ruangan itu, Rihanna menghentikan langkahnya. Ditatapnya dalam-dalam laki-laki yang tengah terbaring di ranjang pesakitan dengan selang infus menempel di punggung tangan kanannya. Sementara itu, di bagian wajah juga terlilit oleh perban yang menutupi sebagian wajahnya.
"Malik," gumam Rihanna seraya memaksa kakinya untuk melangkah.
Langkah demi langkah Rihanna semakin dekat dengan seseorang yang terbaring di ranjang pasien tersebut. Bulir bening tiba-tiba mengalir dari kedua sudut wanita hamil itu. Entah kenapa, rasa bersalah lagi-lagi menghantuinya. Mengingat sebelum berangkat ke kantor, mereka sempat bersiteru.
Saat berada tepat di samping ranjang pesakitan itu, Rihanna buru-buru memeluk pasien tersebut dengan erat. Wanita hamil itu menumpahkan air matanya di atas dada si pasien. Aroma yang keluar dari tubuh seseorang yang dipeluk olehnya sedikit membuat Rihanna merasa aneh. Namun, lagi-lagi dia tidak memperdulikan hal tersebut. Hanya rasa bersalah serta takut kehilangan yang menguasai diri wanita hamil itu.
"Malik, bangunlah!" teriak Rihanna seraya menggoncang tubuh laki-laki yang dipeluknya.
Karena rasa khawatirnya yang berlebihan membuat Rihanna bodoh. Wanita hamil itu sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang yang sedang dia dekap erat-erat itu masih bernapas. Berbeda dengan pikirannya ketika melihat reaksi sang dokter. Rihanna mengira suaminya telah tiada karena dokter sempat menggelengkan kepalanya.
"Malik, bangun! Jangan tinggalin aku. Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku padamu sekarang. Tapi, yang jelas aku takut kehilangan kamu!" Rihanna tetap menggoncang tubuh seseorang yang dipeluknya.
"Kamu yakin?"
Suara itu mengejutkan Rihanna. Dia mendongak dan menatap wajah yang tertutup perban itu. Namun, dari sana sama sekali tidak ada pergerakan apapun.
"Aku di sini, Sayang!"
Rihanna mengalihkan pandangan ke arah pintu ruangan. Di depan sana, Malik tengah duduk di sebuah kursi roda. Senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tampan. Melihat sang suami berada di sana, Rihanna kembali mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang masih dipeluk olehnya.
"Jangan memeluk orang lain, Sayang. Suamimu di sini," ujar Malik seraya merentangkan kedua tangannya.
Buru-buru Rihanna melepaskan pelukan eratnya di tubuh pasien yang entah siapa itu. Wanita hamil itu bergegas mendekati sang suami yang duduk di kursi roda dan memeluknya sangat erat. Rihanna tidak memperdulikan siapa seseorang yang terbaring lemah di ranjang pasien yang sejak tadi dia tangis dan dia peluk dengan sangat erat.
"Malik, aku kira kamu sudah mati!"
__ADS_1
"Kamu berharapnya seperti itu?" tanya Malik dengan nada kecewa.