Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Introgasi


__ADS_3

"Tuan, bagaimana, apakah kita lanjutkan perjalanan menuju kediaman mertua anda, atau kembali saja ke mansion? Kita tidak mungkin kembali ke jalan tadi," tanya Gerry meminta keputusan dari sang tuan muda. 


"Bagaimana, Sayang?" tanya Danendra kepada Adeline. 


"Kita pulang saja! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon anakku. Mereka pasti orang-orang yang ingin mencelakai kami," jawab Adeline dengan cepat tanpa ragu. 


Walaupun mereka sudah berhasil lolos dari serangan itu berkat kegesitan Gerry dalam mengendarai mobilnya. Namun, mereka kehilangan mobil yang terakhir mengawal mereka untuk melarikan diri dari penyerangan tersebut. 


"Kita pulang sekarang, Gerr!" perintah Danendra tegas, laki-laki itu masih sibuk menenangkan sang istri yang masih ketakutan. 


Mereka kembali ke mansion Alefosio dengan selamat. Meskipun satupun bodyguard yang tadi mengawalnya tidak ada satupun yang kembali. Namun, Gerry sudah merasa lega karena kedua atasannya masih dalam keadaan baik-baik saja. 


Danendra menggendong tubuh gemetar istrinya ala brydal style. Laki-laki itu paham, istrinya itu sedang merasa syok atas kejadian barusan. 


Dia menemani sang istri di kamar hingga wanita hamil itu ketiduran. Danendra menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal lalu beranjak dari tempatnya setelah memastikan sang istri sudah benar-benar tertidur. 


"Maaf, Sayang. Lagi-lagi aku ceroboh dalam menjagamu," gumam Danendra dengan rasa bersalah. 


Laki-laki bertubuh kekar itu berjalan dengan langkah tergesa meninggalkan mansion. Dia bersama dengan Gerry berniat kembali ke tempat penyerangan tersebut. Selain ingin memastikan keadaan para anggotanya, mereka juga penasaran dengan siapakah orang yang sudah berani menyerang mereka.


"Salah satu dari mereka tidak bisa di hubungi?" tanya Danendra yang duduk di kursi penumpang. 


"Tidak ada, Tuan. Apa mungkin mereka tidak ada satupun yang selamat," jawab Gerry mengambil kesimpulan terburuk. 


Danendra mengepalkan kedua tangannya, amarahnya kian membuncah. Dia sendiri tidak pernah mencari musuh, tetapi selalu saja kedatangan musuh yang menyerang tanpa melihat siapa yang akan menjadi korban. 


"Kalau begitu percepat laju mobilmu. Kenapa kau mengendarai mobil seperti siput?" cibir Danendra kesal.  

__ADS_1


Gerry menuruti perintah sang tuan muda. Mereka benar-benar kembali ke tempat penyerangan tadi. Di sana, ternyata perkiraan Gerry meleset. Anggota bodyguardnya memang beberapa ada yang menjadi korban, akan tetapi mereka berhasil mengamankan beberapa orang yang menyerang mereka untuk di introgasi. 


"Bagus, kerja kalian benar-benar memuaskan. Tunjukan pada mereka bahwa kelompok kita tidak mudah ditindas." Danendra memuji pekerjaan para bodyguardnya. 


Beberapa penyerang yang masih hidup itu segera dibawa ke markas ALF untuk di introgasi. Danendra juga ikut ke markas karena merasa penyerangan ini masih berhubungan dengan Rihanna ataupun Rocky. 


Sesampainya di markas, para penyerang itu diikat dengan kuat di sebuah tiang tinggi. Mereka masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa luka tembak yang masih mengeluarkan cairan berwarna merah. 


Gerry memegang ember berisikan air dingin. Pria kepercayaan Danendra itu menyiramkan air bergantian pada para penyerang itu hingga mereka sadar dari pingsannya. 


Beberapa penyerang itu membuka mata saat merasakan perih di bekas luka yang di siram air dingin. Mereka menatap sekeliling yang terlihat asing, tetapi raut wajah mereka seketika berganti ketakutan saat melihat seseorang yang duduk dengan angkuh di sebuah kursi tidak jauh dari mereka. 


"Kenapa? Kalian takut karena tertangkap hidup-hidup olehku?" tanya Danendra dengan seringai licik. 


Mereka semua bungkam tanpa satupun yang berani menjawab. Beberapa yang paham dengan kekejaman Danendra bahkan menundukkan kepala. Laki-laki itu tidak suka memb*nuh targetnya secara langsung, dan lebih sering menyiksanya lebih dulu hingga targetnya m*ti secara perlahan. 


"Siapa yang menyuruh kalian? Rihanna, atau Rocky?" tebak Danendra masih dengan posisi duduk. 


"Aku bertanya, apakah kalian semua tuli dan bisu?" tanya Danendra dengan nada tinggi. 


Danendra berjalan memutar, mengelilingi kelima orang yang sudah hampir melukai istrinya. Sorot matanya menajam saat melihat seseorang yang berani menatapnya dengan ekspresi berani. 


Langkah Danendra kini semakin dekat dengan seseorang yang berani menatapnya. Laki-laki itu mengulurkan tangan dan mencengkram kuat-kuat rahang si penyerang dengan dendam yang membara. 


"Kau berani sekali menatapku dengan mata tidak bergunamu itu!" bentak Danendra emosi, laki-laki itu mendorong kasar kepala si penyerang hingga terantuk ke tiang penyangga. 


Danendra kini berjalan menjauh, membuat para penyerang itu sedikit merasa lega. Namun, detik berikutnya suara dari si penyerang yang berani menatap Danendra itu terdengar menggema di ruangan itu. 

__ADS_1


"Mata tidak berguna itu memang sebaiknya menjadi target panahanku. Sayangnya aku hanya membawa pisau saja," ujarnya dengan santai. 


Ternyata Danendra melemparkan pisau miliknya hingga menancap di mata kanan si penyerang. Hal itu tentu saja membuat penyerang lain semakin ketakutan. Jika hanya di tembak lalu m*ti, mereka mungkin akan lebih memilih cara itu, dari pada harus merasakan penyiksaan seperti rekannya yang sudah kehilangan sebelah matanya. 


"Tuan, apakah jika saya menjawab jujur, anda akan memberikan keringanan hukuman saya?" Suara dari seorang salah satu penyerang itu bertanya kepada Danendra. 


Danendra membalikkan tubuhnya. "Jika kau tidak ingin merasakan apa yang di alami oleh rekanmu, aku sarankan, lebih baik kau berbicara jujur!" seru Danendra dengan lantang. 


"Bo*oh! Mau kau jujur seperti apapun, dia tidak mungkin mengampunimu!" timpal salah satu rekan yang menghalangi seseorang itu mengungkap kebenaran. 


Emosi dengan ucapan salah satu penyerang itu, Danendra dengan cepat meraih pistol yang terselip di pinggang Gerry lalu menembakkan peluru ke perut si penyerang yang menghalangi introgasinya. 


Suara teriakan kesakitan kembali menggema di ruangan kedap suara tersebut. Danendra tertawa dan bertepuk tangan. "Kau benar-benar b*doh! Sudah berada di tanganku, masih berani membela bos pengecutmu itu." Danendra memaki. 


"Tuan, saya akan berbicara jujur. Tapi saya meminta agar anda berkenan memberikan perlindungan untuk keluarga saya, dan membiarkan saya m*ti dengan cepat." Seseorang yang benar-benar takut atas penyiksaan Danendra itu tetap bersikeras meminta keringanan. 


"Bagus! Kau mengambil langkah tepat." Danendra menoleh ke arah Gerry. "Pisahkan dia dari pelaku yang lain!" perintahnya kepada sang tangan kanan. 


"Baik, Tuan Muda," jawab Gerry menurut. 


Si penyerang yang memutuskan untuk berpihak pada Danendra kini di pisahkan dengan para penyerang lainnya. Mereka duduk berhadapan hanya dengan satu meja yang menjadi pembatas. 


"Baiklah, mulai kejujuranmu sekarang. Setelah itu, kau boleh meminum air di hadapanmu. Itu akan membuatmu m*ti dengan cepat!" perintah Danendra tanpa basa-basi. 


Seseorang itu memang ketakutan, apa lagi nyawanya kini di ujung tanduk. Namun, dari pada harus merasakan penyiksaan lebih dulu, dia merasa pilihannya memang yang terbaik. Setidaknya dia tidak akan merasakan sakit dengan jangka waktu yang lama. Terlebih lagi, laki-laki di hadapannya ini bersedia menjamin keselamatan keluarganya. 


"Kami menyerang anda atas perintah Tuan Rocky. Dari informasi yang saya dapatkan, dia ingin melenyapkan putri rahasia Nyonya besar," jelas si penyerang itu tanpa menutupi suatu apapun.

__ADS_1


"Kurang ajar! Ternyata pria tua itu sudah tahu tentang identitas istriku. Ini semua pasti ulah Rihanna," batin Danendra dalam hati.


Laki-laki itu melampiaskan emosinya dengan memukul meja dengan sangat kencang. Suara dari kayu jati yang di pukul menggunakan tangan itu bahkan menggema di ruangan berukuran lebih kecil itu. Si penyerang pun terkejut karena merasa takut jika penjelasannya ini tidak di percayai oleh sang penguasa. 


__ADS_2