
Malik sempat kebingungan saat Rihanna bertanya mereka akan pulang ke mana. Rihanna juga sudah menjelaskan keadaannya sekarang yang tidak memungkinkan untuk kembali ke mansion pribadinya. Sama saja dia menyerahkan diri jika dia kembali ke tempat tersebut.
Akhirnya Malik pun terpaksa membawa Rihanna kembali ke apartment miliknya. Laki-laki itu walaupun masih memiliki keluarga yang lengkap, tetapi dia lebih nyaman ketika tinggal sendirian di apartemn dengan alasan ingin lebih mandiri.
Keluarganya sempat menentang, akan tetapi pada dasarnya sifat Malik memang sudah keras sejak kecil. Laki-laki itu sudah terbiasa hidup dengan aturannya sendiri.
Kini keduanya tengah berada di dalam lift untuk menuju lantai 7 tempat dimana unit apartment milik Malik berada. Rihanna beberapa kali mencuri pandang ke arah pria perlente di sampingnya. Meskipun awal pertemuan mereka sangat tidak berkelas, tetapi ternyata laki-laki itu memiliki hati yang baik sehingga mau menolong dan memberikannya tumpangan tempat tinggal.
Mereka keluar setelah lift terbuka. Antara Rihanna dan Malik masih saling diam. Sepertinya mereka baru merasa canggung karena setelah ini mereka akan tinggal bersama dalam satu unit apartment tanpa ikatan apapun.
"Masuk," ajak Malik setelah membuka pintu unit apartment miliknya.
Rihanna sempat ragu untuk ikut masuk ke dalam sana. Senakal- nakalnya dia selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain Danendra yang memang sudah akrab sejak mereka masih kanak-kanak.
"Tenang saja. Aku bukan laki-laki brengs*k," celetuk Malik disertai gelak tawa ringan.
Perempuan muda dengan gaun bercorak bunga itu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Dia merasa tidak enak karena sang pemilik tempat sampai menegaskan bahwa dirinya bukan laki-laki jahat. Itu berarti diamnya dia sedikit membuat laki-laki itu tersinggung.
Rihanna memberanikan diri untuk masuk ke apartment tersebut. Malik berjalan mengekor di belakang memperhatikan si perempuan yang sedang mengamati setiap sudut ruangan.
"Apartement gue kecil ya. Pasti kalah besar dari kamar pribadi lo," ujar Malik yang membuat Rihanna membalik tubuhnya.
"Enggak kok. Gue cuma bingung aja. Lo masih punya keluarga, kenapa milih tinggal sendiri?"
Malik berjalan mendahului perempuan yang berasa di hadapannya. Laki-laki seusia Danendra itu membuka pintu yang ternyata adalah sebuah kamar.
"Ini kamar Lo. Kamar gue di sebelahnya," ucap Malik mengalihkan pembicaraan.
"Oke, makasih udah mau tampung gue disini," katanya dengan sejenak menundukkan kepala.
__ADS_1
"Tampung. Lo kira lo itu air apa?" kelakar Malik seraya melangkah menjauhi Rihanna.
Laki-laki itu membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Rihanna. Dia melangkah masuk, tetapi kembali mundur saat teringat dengan sesuatu.
"Oh iya. Mulai sekarang biasakan buat enggak panggil Lo Gue, ya. Aku sedikit tidak nyaman ngobrol sama cewek pakai bahasa kasar gini," pinta Malik yang terpaksa di angguki oleh Rihanna.
Malik langsung masuk ke kamarnya setelah mendapat persetujuan dari Rihanna. Laki-laki itu bersandar di pintu yang sudah tertutup. Memang dadanya yang tiba-tiba bergetar hebat setelah melihat senyum manis perempuan itu.
"Jantung gue kenapa ya? Enggak mungkin gue jatuh cinta, 'kan?"
Dia memejamkan kedua matanya tetapi bayangan senyuman Rihanna kembali menyapa. Dengan perasaan yang tidak menentu Malik kembali menbuka kelopak matanya. Laki-laki itu berlari ke arah kamar mandi untuk mencuci wajah serta merilekskan pikirannya yang tiba-tiba di kuasai oleh perempuan yang kini tinggal bersamanya.
Berbeda dengan Rihanna, perempuan itu tidak langsung membersihkan diri karena merasa percuma saja. Dia pun tidak memiliki baju ganti untuk dipakai setelah mandi. Rihanna menjatuhkan dirinya di kasur empuk ranjang yang memang ukurannya tidak sebesar ranjang king size miliknya.
Dia menatap langit-langit kamar. Bayangan Danendra yang mengatakan tidak mengenalnya membuat dadanya kembali terasa sesak. Sesakit inikah mencintai tanpa dicintai. Jika waktu bisa diputar, dia tentu akan menjaga perasaannya agar tidak jatuh semakin dalam hanya karena perhatian Danendra yang selalu menjaganya sejak kecil.
Nyatanya apa yang mereka rasakan berbeda. Danendra hanya menganggapnya sebagai adik yang memang harus dia jaga. Sedangkan dia justru terjebak oleh cinta yang akhirnya berubah menjadi obsesi gila.
"Percuma aku menangisi seseorang yang sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri. Terlebih lagi dia sudah menjadi kakak iparku. Nasibku sial sekali, Tuhan."
Cukup lama Rihanna merenung di dalam kamar apartemt tersebut hingga tanpa sadar dia memejamkan kedua matanya. Rihanna tertidur setelah menangisi takdir yang tidak pernah berpihak padanya.
Sore harinya Malik yang lebih dulu keluar dari kamar melihat pintu kamar yang dihuni oleh Rihanna masih tertutup. Tidak ada suara apapun dari dalam sana.
"Mungkin dia sedang tidur," gumamnya lirih.
Malik berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Laki-laki itu memasak sendiri menu sederhananya karena memang itulah kebiasaan yang selalu dia lakukan sejak tinggal sendiri.
Aroma harum yang menguar dari masakan yang masih dieksekusi oleh Malik membangunkan Rihanna dari tidur lelapnya. Kedua kelopak mata itu mengerjap sebelum akhirnya terbuka sempurna. Perempuan itu mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
"Aroma apa ini? Membuat cacing di perutku berdemo."
Rihanna menurunkan kakinya dari ranjang dan segera bangkit dari sana. Perempuan itu lupa untuk membasuh mukanya lebih dulu dan langsung keluar dari kamar. Mengikuti aroma harum itu hingga sampai pada asal datangnya aroma tersebut.
"L-kamu masak?" tanya Rihanna dengan tiba-tiba yang tentu saja membuat Malik sedikit terkejut.
"Astaga, Kayla. Aku terkejut," keluh Malik seraya membalik tubuhnya menghadap ke arah si perempuan.
"Maaf," timpal Rihanna dengan senyum tipis yang lagi-lagi menghipnotis Malik dengan pesonanya.
"Kamu cantik," puji Malik tanpa sadar.
"Apa?" pekik Rihanna yang hanya mendengar samar-samar.
"Ah, tidak-tidak. Kamu baru bangun tidur ya. Lebih baik mandi dulu sana!" perintah Malik dengan gugup.
"Tapi aku tidak memiliki baju ganti," jawab Rihanna dengan cepat.
Sebenarnya tubuhnya sudah terasa sangat lengket dan ingin segera diguyur air dingin agar terasa lebih segar. Namun, yang menjadi halangan adalah tidak ada pakaian gantinya.
"Ah iya. Aku lupa, sebentar ya."
Malik mematikan kompor lalu melenggang pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian laki-laki itu keluar dengan pakaian di tangannya. Setelah berada di jarak dekat dengan Rihanna, dia menyerahkan pakaian itu.
"Ini baju cewek. Kamu kok punya pakaian cewek?" tanya Rihanna setelah menerima pakaian tersebut.
"Kita bahas nanti ya. Kamu mandi dulu dan segera ganti baju. Setelah itu kita makan malam. Nanti aku ajak kamu belanja pakaian untuk kamu," elak Malik yang sebenarnya enggan menceritakan tentang pemilik pakaian itu.
"Ini punya pacar kamu ya, atau istri kamu?" tanya Rihanna yang ternyata merasa penasaran.
__ADS_1