Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Terhalang si Bulan


__ADS_3

Setelah selesai menyantap hidangan makan malam sederhana yang dimasak oleh Adeline sendiri dan mereka sedikit mengobrol agar hubungan mereka mengalami kemajuan, mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Seperti kesepakatan yang telah disetujui bahwa selama seminggu mereka akan tidur di kamar terpisah. 


Adeline yang memang merasa lelah segera mengistirahatkan tubuhnya tanpa membuang waktu. Sementara itu, di kamar sebelah Danendra masih sibuk menerka-nerka tentang sesuatu yang sepertinya di sembunyikan oleh istrinya. 


"Aku akan mendapatkan jawabannya jika aku langsung melakukan survei di tempat itu. Aku juga penasaran, kenapa Adel lebih memilih tinggal di bar dari pada di rumah orang tuanya?" gumam Danendra. 


Ketika dia sedang sibuk dengan pikirannya tentang masa lalu istrinya, Danendra melirik ponsel di atas nakas samping ranjang yang tiba-tiba berdering. 


"Apa?" tanya Danendra kepada sang penelepon tanpa basa-basi. 


"Saya menemukan bukti yang dapat menguatkan kecurigaan saya, Tuan." 


"Kirimkan padaku sekarang juga," perintahnya dengan tegas. 


"Baik," jawab Gerry tanpa bantahan. 


Danendra langsung mengambil laptop miliknya untuk memeriksa bukti-bukti yang di kirim Gerry ke email. Pria itu memperhatikan dengan seksama semua data dan rekaman yang di kirim sang sekretaris. 


Dari data diri lengkap keluarga Adeline, bahkan Richard tidak luput dari pencarian Gerry. Tidak terkecuali dengan rekaman yang di rentas oleh sang asisten serba bisa andalan Danendra sejak dulu di bar milik Adeline. Rekaman yang berisi tentang pertengkaran Adeline dan Richard beberapa hari sebelum terjadinya pernikahan Richard dengan Grasiella. 


"Jadi benar, sebelum menikahi adik kandung Adel, dia memiliki hubungan dengan istriku. Mulai sekarang aku harus lebih waspada terhadap pria tua itu," ujar Danendra yang pada akhirnya tahu sedikit celah untuk mengungkap kecurigaan sang asisten. 


Selesai memeriksa beberapa data serta rekaman yang dikirim oleh Gerry, Danendra memutuskan untuk beristirahat. Dia akan bersiap untuk memainkan skenario yang sudah dia pikirkan matang-matang. 


Keesokan harinya Danendra terbangun dari tidurnya yang tidak sepulas hari kemarin. Pria berparas tampan itu meregangkan otot-ototnya yang kekar sebelum akhirnya turun dari ranjang. 

__ADS_1


"Sabar ya Nendra, nanti malam juga kamu akan tidur bersama dengan si semangka matang kesayanganmu itu," gumamnya sambil masuk ke kamar mandi. 


Danendra keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan ritual paginya. Dia segera keluar dari kamar untuk menemui istri yang baru dua hari dia nikahi itu. Namun, sepertinya sang istri belum keluar dari kamar. Akhirnya pria itu mengetuk pintu kamar fang istri. 


"Sayang," panggilnya dengan suara lembut. 


Tidak ada jawaban dari dalam membuat pria itu menyentuh handle pintu yang ternyata langsung membuat pintu kamar sang istri terbuka. 


"Dia tidak mengunci kamarnya?" gumam Danendra yang langsung masuk dengan langkah waspada, takut jika sang istri mengamuk saat melihat dia tanpa permisi masuk ke kamarnya. 


Sayangnya ketika sudah berasa di dalam, pria itu tidak melihat sang istri di ranjangnya. "Aku kira masih tidur." Pria itu menoleh ke arah kamar mandi yang terdengar suara gemericik air. "Oh, sedang mandi ternyata. Aku tunggu saja disini," ujarnya yang langsung menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu kamar mandi. 


Tidak lama kemudian, Adeline yang sudah selesai membersihkan diri akhirnya keluar. Perempuan dewasa yang hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi area dada hingga bawah paha itu sama sekali tidak menyadari bahwa di ruangan itu sudah ada seorang pria yang menatapnya bagaikan singa kelaparan. 


Perempuan yang baru saja menyandang gelar seorang istri itu berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Dia segera menuju lemari yang sudah berisi pakaian miliknya, berniat mengambil pakaian yang akan dia kenakan hari ini. 


Jakun Danendra naik turun saat berusaha menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dan menguasai dirinya. Juniornya pun sudah berontak ingin segera di pertemukan dengan lawan mainnya. 


Sementara itu, Adeline yang merasa terkejut dengan suara dari belakang justru membuatnya ceroboh. Tangan yang sempat hampir melepas handuk itu justru tidak sengaja melepaskan genggaman di kain minim itu membuat melorot ke lantai. 


Beruntung Adeline sigap mengambil serta kembali memakai kain itu untuk menutupi tubuh sinyalnya. Namun, sayangnya Danendra sudah lebih dulu melihat tubuh sang istri dalam keadaan polos. 


Pria itu meneguk air liurnya saat benar-benar merasa tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Danendra berjalan maju, mendekati sang istri yang menatapnya penuh selidik. 


"Kamu mau apa?" pekik Adeline waspada. 

__ADS_1


Pria itu tidak menjawab, hanya saja kedua matanya tertuju pada area bawah sang istri yang tadi sempat dia lihat tanpa penghalang sedikitpun. 


Saat Danendra terus berjalan maju, begitu juga dengan Adeline, perempuan itu terus mundur ke belakang. Berniat untuk menghindari singa lapar di depannya. Meskipun Aadeline belum pernah melakukan hal intim, akan tetapi dia juga tidak terlalu bodoh sebagai seorang wanita. 


Dia sadar, saat ini suami berondongnya itu tengah dikuasai oleh hasrat bercinta. Adeline yang terus mundur sekarang sudah tidak bisa lagi mundur, dia sudah terantuk ke dinding. Merasa langkah sang suami semakin dekat, Adeline melirik bagian kanan dan kiri untuk mencari sesuatu yang dapat melindungi diri. Akhirnya Adeline mengambil sebuah sapu yang terletak tidak jauh darinya. 


"Nendra, jangan mendekat. Kalau kamu nekat, aku pukul kamu pakai sapu," ancam Adeline sambil mengangkat sapunya. 


Raut wajah Danendra sudah tidak bisa lagi di kondisikan. Wajah tampan itu kini berubah merah karena terkuasai oleh hawa naf*u. Hal itu juga membuat Adeline semakin merasa terancam. 


"Nendra, jangan macam-macam!" bentak Adeline masih berusaha menyadarkan sang suami. 


Kini jarak antara Adeline dan Danendra hanya tersisa dua jengkal saja. Perempuan itu berniat untuk lari dan kabur dari pria yang sudah dikuasai oleh hasrat membara itu. Namun, terlambat sudah. Danendra dengan mudah membuat Adeline terkunci di antara dinding dan tubuh kekar berondong itu. 


Danendra mengunci tangan Adeline menggunakan kedua tangannya dan mengangkat tangan itu ke atas lalu mengunci tangan itu agar tidak bisa bergerak dengan cara menekannya di dinding. 


Setelah berhasil membuat sang istri tidak bisa menghindar, Danendra mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Tanpa membuang waktu lagi, kedua bibir itu bertemu. 


Danendra memberikan gigitan kecil saat Adeline tidak mau membuka mulutnya. Berhasil membuat bibir itu sedikit terbuka, Danendra segera menerobos masuk untuk mengeksplorasi berbagai macam yang ada di dalamnya. Dia asik bermain dengan lidah si istri yang kini mulai terbawa suasana. 


Perempuan dewasa itu akhirnya membalas ciuman darinya suaminya. Ketika mendapat balasan dari sang istri, Danendra melepaskan kuncian tangannya dan begitu tangan itu terlepas, Adeline justru melingkarkan tangannya di leher sang suami yang sedikit lebih tinggi darinya. 


Keduanya sama-sama terbakar hasrat untuk segera melakukan ritual pengantin baru. Adeline benar-benar lupa akan keadaan tubuhnya saat ini. Perempuan itu membiarkan sang suami menjelajahi tubuh moleknya hingga si suami kini asik bermain di  leher jenjangnya, mengecup, serta memberikan gigitan kecil disana yang membuat Adeline merasakan sensasi yang luar biasa. Namun, ketika tangan kekar sang suami beralih ke bagian bawah dan berusaha melepas kain tipis yang menghalangi kesenangannya, Adeline baru teringat sesuatu. 


"Nendra, aku sedang datang bulan!" pekik Adeline yang seketika menghancurkan kesenangan sang suami. 

__ADS_1


"Sial!" gerutu Danendra seraya mundur ke belakang. 



__ADS_2