Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Aku Bukan Orang Lain


__ADS_3

Adeline keluar dari kamar mandi dengan bibir mencebik, suami berondongnya ini benar-benar melakukan apa yang di katakan yaitu menghajarnya di bawah guyuran air shower. Berbeda dengan Adeline yang merasa kesal, Danendra yang berjalan di belakang hanya menggunakan handuk putih justru merasa puas atas pelayanan sang istri.


Pria muda itu terkikik saat melihat ekspresi wajah sang istri. Wajar saja jika wanitanya itu kesal karena sudah hampir dua jam dia tidak melepaskan sang wanita tercinta. 


"Sayang, aku hitung sampai tiga kalau kamu masih memasang ekspresi itu, aku tidak segan-segan untuk melakukannya lagi." Danendra mengancam dengan hal yang membuat Adeline semakin kesal.


"Aku lelah, Nendra!" keluh Adeline yang merasa sudah tidak sanggup lagi memberikan perlawanan terhadap suaminya. 


"Ya sudah, di ranjang saja. Aku yang pimpin, kamu tinggal menikmati," celetuk pria muda itu tanpa memfilter ucapannya. 


Pria itu pun segera mendahului langkah istrinya dan berniat kembali mengangkat wanita dewasa yang sudah berhasil membuatnya tergila-gila tersebut. Namun, pelototan mata dari sang istri membuatnya mengurungkan niat dan hanya terkekeh kecil. 


"Iya-iya, aku tidak akan memaksa. Nanti kalau kamu ingin juga akan minta sendiri," ujar Danendra yang akhirnya melenggang meninggalkan sang istri. 


"Dasar, berondong m*sum!" umpat Adeline dalam hati. 


Setelah sepasang suami istri itu memakai pakaiannya masing-masing, Adeline berniat mengeringkan rambut menggunakan hair dryer. Wanita dewasa itu sudah duduk manis di depan meja riasnya dengan sebuah alat pengering rambut yang ada di tangan kanannya. 


Danendra yang awalnya berniat keluar dari kamar tiba-tiba menghentikan langkahnya, padahal tangannya sudah menyentuh handle pintu. Namun, dia justru kembali berbalik dan berjalan mendekati istrinya. 


"Biar aku bantu, Sayang." Pria itu mengambil alih benda yang ada di tangan sang istri. 

__ADS_1


"Tidak perlu, Nendra, aku bisa sendiri." Adeline menolak niat baik suaminya karena tidak ingin bergantung pada orang lain. 


Wajar jika Adeline bersikap seperti itu. Sejak kecil dia selalu hidup mandiri tanpa bantuan siapapun, apa lagi setelah kehilangan nenek dan kakeknya yang meninggal akibat kecelakaan tragis. 


"Jangan menolak, Sayang. Aku tidak pernah menerima penolakan, meskipun itu dari kamu," ujar Danendra tetap memaksa untuk membantu sang istri. 


"Tapi, Nendra … aku tidak ingin bergantung pada orang lain," ucap Adeline tetap berusaha menolak. 


"Aku bukan orang lain!" seru Danendra yang sedikit merasa kesal karena di anggap sebagai orang lain oleh istrinya sendiri. 


Dari pantulan cermin di depannya, Adeline dapat melihat raut wajah sang suami yang tiba-tiba berubah warna. Sepertinya pria itu sedang berusaha menahan amarah, dan Adeline tahu, pria itu kesal karena ucapannya barusan. 


"Maaf," lirih Adeline tidak enak hati. 


Pada akhirnya Adeline memutuskan untuk tidak lagi berkomentar apapun. Wanita dewasa itu membiarkan sang suami melakukan apapun sesuka hati tanpa mengajukan keberatan apapun. 


Sekilas Danendra dapat melihat wajah sang istri yang saat ini memilih bungkam. Wanita tercintanya itu terlihat sangat manis meski sedang merasa terintimidasi oleh sikapnya saat ini. 


Akan tetapi, Danendra memilih untuk tidak mengucapkan apapun. Pria itu dengan telaten mengeringkan rambut istrinya yang basah akibat ulahnya tadi. Pria berusia muda itu benar-benar meratukan sang istri seperti niatnya sejak awal.


"Sudah selesai, Sayang." 

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Adeline tulus, jujur saja selama ini dia memang belum pernah merasakan rasanya di cintai begitu dalam oleh seseorang. 


Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan dengan tangan yang saling bertaut. Tentu saja Danendra yang memaksa istrinya untuk bersikap mesra dimanapun mereka berada. Di tempat itu ternyata sudah ada kedua orang tua Danendra, mereka terlihat sudah selesai menyantap makan malam. 


Danendra menarik kursi dan mempersilahkan sang istri untuk duduk lebih dulu, setelah itu barulah dia juga ikut menjatuhkan pant*tnya di kursi biasa. 


"Mama tumben tidak menunggu kita?" tanya Danendra yang merasa ibunya itu agak lain. 


"Mama tadi sudah suruh bibi untuk panggil kalian, tapi kata bibi kalian tidak menjawab. Bibi bilang kalian tidur," jawab Silvia dengan malas. 


Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah sangat paham kenapa putranya tidak keluar makan malam tepat waktu. Laki-laki yang dua puluh delapan tahun lalu dia lahirkan itu sedang menikmati indahnya pengantin baru.


"Kenapa bibi bilang kita tidur? Kami sama sekali tidak tidur," jawab Danendra dengan sengaja, pria muda itu seolah ingin memancing ibunya untuk mengeluarkan perasaan sesungguhnya. 


"Mungkin bibi mengira kalian sangat mengantuk, sampai meninggalkan belanjaan di ruang tamu dalam keadaan berantakan." Silvia tampaknya sudah mulai terpancing, wanita paruh baya itu memberikan sindiran telak yang membuat wajah Adeline berubah warna kemerahan.  


"Kalian ini bahas apa, sih, Ma?" tanya Ale pada akhirnya, padahal pria paruh baya itu sejak tadi hanya diam mendengarkan saja.


"Bahas Terong di cabein, Pa! Anakmu itu sekarang kurang aj*r. Suka berbuat sesuka hati tanpa berpikir waktu dan tempat yang tepat. Mama rasanya ingin menghajar kepala besarnya itu!" jelas Silvia dengan ekspresi wajah kesal.  


"Papa semakin tidak paham." 

__ADS_1


"Papa orang judul, mana bisa tahu bahasa gaul." Danendra dengan sombong menghina sang ayah. 


__ADS_2