
Rihanna langsung melepaskan pelukan eratnya di tubuh Malik. Wanita hamil itu menatap sang suami penuh selidik. Dia baru sadar jika ada yang aneh dari kejadian ini.
"Kalau kamu di sini, lalu dia siapa?" tanyanya ketus.
"Siapa? Aku juga tidak kenal," jawabnya enteng.
"Kau … mengerjaiku, yah!"
Kesal karena merasa dipermainkan oleh sang suami, Rihanna memukul pelan dada bidang suaminya. Malik justru terkekeh dengan reaksi lucu istrinya itu. Sesaat kemudian, laki-laki itu menahan tangan sang istri yang sedang memukulinya.
"Stop, Sayang. Aku sedang sakit, loh!"
"Kamu bohong!" seru Rihanna kesal.
"Aku tidak bohong, Sayang. Kakiku memang sakit," ungkap Malik seraya menunjuk bagian kakinya.
Rencana yang sudah dipersiapkan oleh Malik gagal total saat tiba-tiba ada seseorang yang mengambil alih mobilnya. Semula dia sudah mempersiapkan kecelakaan terencana untuknya. Namun, semuanya berantakan ketika mobilnya di curi oleh seseorang tidak dikenal.
Mobil mewah itu memang saat ini sudah ringsek di beberapa bagian karena kecelakaan sungguhan yang dialami oleh si pencuri. Sementara itu, luka di kaki Malik itu merupakan kecerobohan alaminya. Dia yang saat itu panik karena kendaraannya yang sudah sedikit di sabotase tiba-tiba dibawa orang lain membuatnya gegabah dan mengejar si pencuri itu.
Akibat mengebut di jalan raya menggunakan motor sport yang sebenarnya Malik tidak menguasai bagaimana cara penggunaan motor tersebut membuatnya mengalami kecelakaan sungguhan. Malik terjatuh dari motor saat kendaraan roda dua itu menyalip sebuah truk besar. Beruntung laki-laki tampan itu tidak terlindas oleh kendaraan besar itu. Hanya saja motor yang dia pinjam dari salah satu anak buahnya harus hancur.
"Memangnya kaki kamu kenapa?" tanyanya penasaran seraya melirik kaki suaminya.
Wanita hamil yang awalnya berlutut di hadapan suaminya itu kini bangkit. Ternyata rasa khawatirnya ini merupakan sesuatu yang sia-sia. Kenyataannya sang suami terlihat baik-baik saja, mungkin hanya kakinya saja yang terkilir.
"Hampir terlindas truk tadi," jawabnya santai.
Rihanna yang justru membulatkan matanya tidak percaya. Suaminya itu hampir terlindas truk dan masih bisa bicara dengan normal seperti ini. Sepertinya laki-laki itu memang sudah gila, pikir Rihanna.
"Gimana bisa kaya gitu?" Rihanna berkacak pinggang.
"Ceritanya panjang," timpalnya sambil memperhatikan wajah cantik istrinya.
"Pendekin biar ga panjang!"
"Kalau enggak panjang ya enggak enak."
"Astaga, Malik!"
"Astagfirullah, Sayang!" tegurnya dengan cepat.
__ADS_1
"Terserah. Kamu tega banget bohongin aku."
Rihanna bergegas pergi dari sana. Ingin rasanya wanita hamil itu mengamuk di tempat. Namun, rasa malu kini mulai mengganggunya. Jika dulu dia memiliki sifat bar-bar dan tidak peduli dengan penilaian orang lain, berbeda dengan sekarang. Rasanya untuk mengomel di tempat umum saja sudah sangat memalukan.
Malik mengejar langkah sang istri yang kini sedang membuka pintu ruangan. Tangan kanannya dengan cepat menggapai tangan istrinya. Rihanna melirik Malik yang sepertinya mulai menyesal karena telah mengerjainya.
"Aku minta maaf, Kayla."
"Kamu keterlaluan, Malik. Kalau karena tingkah usil kamu ini sampai menyebabkan anak kita menjadi korban gimana?"
Malik terdiam seribu bahasa. Sejak awal dia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Yang ada dalam pikirannya adalah ingin mengetahui perasaan sang istri yang sesungguhnya.
Rasa sesal tiba-tiba saja hadir membuat seluruh tubuh Malik rasanya hilang tenaga, bahkan tangan yang semula memegang tangan sang istri ikut terlepas. Apa yang dikatakan oleh Rihanna memang benar. Perbuatannya kali ini sudah diluar batas.
"Aku kecewa, Malik. Kamu terlalu egois untuk menjadi seorang ayah!" seru Rihanna sebelum pergi meninggalkan suaminya.
Saat keluar dari ruangan itu, Rihanna langsung meminta mertuanya untuk mengantarnya pulang. Bukan untuk kembali ke mansion, Rihanna justru meminta di antar ke tempat ibunya berada.
"Kamu serius, Rihanna?" tanya Riani memastikan.
"Iya, Mam. Rihanna sedang ingin menenangkan diri," jawabnya tanpa ragu.
"Tapi kenapa, Rihanna? Bukankah seharusnya kamu ikut pulang bersama kami?" tanya Ibrahim yang belum menyadari perubahan wajah sang menantu.
"Maaf, Papi. Rihanna sedang ingin bertemu mama," jawabnya enggan menjelaskan masalah sebenarnya.
"Terus Malik di mana?" tanya Riani seraya menengok ke belakang tubuh Rihanna.
"Malik akan pulang di antar Celine, Mam."
"Baiklah kalau begitu, Papi dan Mami akan mengantarkan kamu ke sana," ujar Ibrahim mengalah.
Rihanna di antar oleh kedua mertuanya ke tempat tinggal sang ibu kandung. Meski Riani dan Ibrahim belum paham jika ternyata keputusan mereka untuk mengerjai Rihanna justru berakhir seperti ini, akan tetapi keduanya tetap menuruti permintaan sang menantu.
"Rihanna, jaga diri baik-baik di sana, yah!"
"Iya, Mam." Rihanna memaksa bibirnya untuk tersenyum, meskipun hatinya sedang kecewa.
Mereka akhirnya sampai di gerbang mansion besar keluarga Alefosio. Ibrahim membunyikan klakson berkali-kali hingga dua orang penjaga datang mendekat. Pria paruh baya itu menurunkan kaca pintu mobil agar kedua penjaga itu mengenalinya.
"Ah, Tuan Ibrahim," sapa mereka dengan sopan.
__ADS_1
"Buka pintunya!" perintah Ibrahim tegas.
"Baik, Tuan."
Penjaga gerbang itu langsung buru-buru membukakan pintu gerbang untuk seorang kerabat sang tuan besar yang tiba-tiba datang pada dini hari. Setelah pintu gerbang terbuka, Ibrahim kembali menginjak pedal gas mobilnya.
Kedua penjaga itu berlari menghampiri kendaraan yang baru berhenti di parkiran. Mereka membukakan pintu mobil bagian depan.
"Terima kasih, Tuan mudamu ada?"
"Ada, Tuan. Tetapi sedang beristirahat," jawab si penjaga gerbang.
"Tolong panggilkan Nyonya Nabila!" perintah pria paruh baya itu.
Kedua penjaga itu saling tatap. Bingung untuk menuruti atau menolak perintah pria di depannya. Walau bagaimanapun mereka merasa tidak berani jika mengganggu tidur para majikannya. Namun, jika menolak pun mereka juga takut menyinggung perasaan kerabat sang tuan besar.
"Kenapa malah bengong? Cepat panggilkan!" gertak Ibrahim tegas.
Keduanya pun memberanikan diri untuk menuruti perintah dari kerabat sang tuan besar. Walaupun mereka ragu dan takut jika keputusan mereka bisa membuatnya dihukum.
Mereka masih saling dorong karena tetap tidak berani melakukan hal tersebut. Hingga seseorang dari dalam mobil turun dan mengejutkan mereka.
"Biar aku sendiri yang panggil," ujarnya mengejutkan kedua penjaga mansion.
"Nona Rihanna!" pekik keduanya kompak.
"Kenapa? Kalian kaget karena aku datang ke sini?"
"Tolong jangan masuk, Nona. Kami takut anda akan membuat keributan!" larang keduanya memberanikan diri.
Mendengar larangan itu, Ibrahim tersulut emosi. Berani sekali pekerja di mansion itu bersikap kurang ajar pada menantunya. Meskipun sedikit banyak Rocky sudah mengatakan permasalahan yang ada akibat sifat dan sikap Rihanna di masa lalu, tetapi pria itu tetap saja tidak terima.
"Kalian berani sekali melarang menantuku!" bentak Malik emosi.
Keributan yang terjadi di halaman depan mansion terdengar oleh seorang wanita paruh baya yang sedang berniat pergi ke dapur. Rasa haus mengganggu tidurnya yang akhirnya menuntun kakinya untuk keluar dari kamar.
"Ada ribut-ribut apa, Sih?" gumamnya penasaran.
Dia mengayunkan langkah keluar dari mansion. Saat baru saja membuka pintu, wanita itu membulatkan matanya saat melihat seseorang yang sedang berdebat dengan para penjaga mansion mewah itu.
"Rihanna!" teriak wanita paruh baya itu dengan keras.
__ADS_1