
Seorang wanita tengah duduk di atas pasir putih di tepi pantai. Dia termenung sendirian tanpa seorangpun yang menemani. Tatapannya fokus pada deburan ombak yang menggulung-gulung di depannya. Meski tatapan wanita itu tertuju pada keindahan laut serta senja yang begitu cantik, tetapi tidak dengan pikirannya.
Dia tengah terluka oleh cinta yang selama ini dia rawat dengan pupuk obsesi yang ternyata salah. Cinta yang dia harap bisa memberikan kebahagiaan, justru semakin menambah luka.
"Kak, aku benar-benar mencintai kamu. Kenapa rasaku tak pernah kau balas dengan rasa yang sama? Apa kurangnya aku, Kak?" Teriakan lantang dilakukan oleh si wanita untuk melepas segala beban hatinya.
"Kau tidak sadar kekuranganmu itu apa?"
Sebuah suara asing menyapa pendengarannya. Namun, wanita itu hanya melirik sekilas, dia terlalu enggan menoleh. Menurutnya tidak penting meladeni orang asing seperti seorang pria di belakang.
"Hey, aku bicara padamu."
Wanita itu menghela napas panjang dengan mata terpejam. Dia pikir dengan menenangkan diri di tempat ini, tidak akan ada satupun hama yang akan menggangu.
Malas menanggapi pria aneh di belakang sana, wanita itu membalik tubuhnya untuk segera pergi dari tempat itu. Moodnya semakin kacau setelah kedatangan pria kurang kerjaan yang mengganggunya.
"Dasar wanita aneh. Dia bertanya apa kurangnya dia, tetapi tidak mau mendengar jawaban dari orang lain. Memangnya dia berharap siapa yang akan menjawab? Penunggu pantai ini."
Baru satu langkah si wanita hendak meninggalkan tempat yang kini sudah gelap itu, sindiran si pria membuat wanita itu menghentikan langkah sejenak.
"Tenanglah, Rihanna. Dia hanya seekor hama pengganggu," batin wanita itu yang tidak lain adalah Rihanna.
Rihanna akan kembali mengayunkan langkah untuk segera pergi dari sana. Namun, lagi-lagi pria itu mengucapkan sesuatu yang kini membuatnya geram.
"Dasar wanita freaks! Di pantai seperti ini menggunakan gaun panjang. Lihatlah, dari ujung kepala sampai ujung kakinya, semua berwarna merah. Membuat orang yang melihatnya sakit mata," cela si pria disertai tawa menggelar.
Hinaan pria itu tentu saja membuat Rihanna tidak terima. Wanita bergaun merah itu membalik tubuhnya menghadap si penghina penampilannya. Dia menatap tajam pria yang masih menertawakan dirinya. Langkah demi langkah dia mendekati pria yang semakin kurang ajar itu.
Suara tawa menggelar itu berhenti bersamaan dengan suara tamparan keras yang menjadi hadiah spesial untuk pria asing tersebut. Tenaga Rihanna memang terlalu kuat hingga membuat sudut bibir pria asing itu mengeluarkan darah segar.
"Sudah puas kau menghinaku, Orang asing?" tanya Rihanna masih dengan tatapan horor.
Pria asing itu meraba sudut bibirnya yang ternyata benar-benar berdarah terbukti kini di jarinya juga ikut tertempel bekas noda darah.
__ADS_1
"Kau gila, yah!" bentak si pria yang baru kali ini mendapat serangan dari seorang wanita.
Rihanna berkacak pinggang. Entah kenapa kesedihannya tiba-tiba lenyap begitu saja ketika berhadapan dengan pria asing yang bertubuh tinggi menjulang bagaikan pohon bambu tersebut.
"Jika kau tidak tahu apapun tentangku, jangan pernah berani menghinaku."
Sesudah menebar ancaman untuk pria asing yang berani bersikap kurang ajar padanya itu, Rihanna bergegas pergi dari tempat itu. Untuk mempercepat langkahnya dia bahkan sampai mengangkat sedikit gaun panjang yang dia kenakan.
"Benar-benar wanita gila. Kau pikir aku takut padamu?" tanyanya dengan berteriak.
Sedih akibat penolakan-penolakan dari Danendra kini justru berganti rasa kesal kepada pria yang masih berteriak di belakang tubuhnya itu. Tetapi Rihanna terlalu malas untuk meladeni pria menyebalkan yang sudah berani menghinanya. Wanita itu memutuskan untuk pulang ke mansion.
Rihanna masuk ke mobil masih dengan perasaan kesal, emosi, dan tidak percaya bahwa ada orang asing yang berani bersikap seperti itu padanya. Wanita itu segera menginjak pedal gas hingga mobil melesat.
Sepanjang perjalanan mobil mewah itu penuh dengan umpatan serta makian Rihanna yang ditujukan kepada pria asing tadi.
"Sia*an. Pria itu benar-benar tidak tahu siapa aku. Awas saja, jika kita bertemu lagi. Aku pasti akan membuat perhitungan," tekadnya dengan yakin.
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan kini Rihanna sampai di mansion yang sekarang hanya dia tinggali bersama sang ayah, sedangkan ibunya sudah lama tidak pulang setelah kejadian salah tembak waktu itu.
"Papa mau kemana?" tanya Rihanna penasaran.
"Ada sesuatu yang harus diselesaikan. Kamu jangan pergi-pergi atau keluar dari mansion sendirian."
"Memangnya kenapa?"
"Turuti saja perintah papa. Jangan banyak membantah!"
Rocky pergi meninggalkan sang putri yang masih merasa heran. Tidak biasanya sang ayah melarangnya keluar dari mansion.
Rihanna mengedikkan bahunya acuh. Lagi pula moodnya memang sedang buruk. Dia tidak mau dipusingkan dengan urusan sang ayah yang terkadang hanya berisi tentang dunia gelap.
"Lebih baik aku berendam dengan air hangat agar moodku kembali membaik," ucapnya lalu segera menaiki anak tangga menuju kamar.
__ADS_1
Seorang pelayan berlari mendekat setelah melihat nona mudanya itu akan membuka pintu kamar.
"Nona, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya si pelayan dengan kepala sedikit tertunduk.
Rihanna menatap heran si pelayan yang seolah-olah sedang berusaha menyembunyikan wajahnya. "Kau merasa melakukan kesalahan?" tanya Rihanna dengan mimik wajah bingung.
"Ti-tidak, Nona."
"Lalu kenapa menunduk?"
"Tidak apa-apa, Nona."
"Cepat siapkan air hangat dengan aroma mawar untukku," ucap Rihanna yang memang sudah merasa seluruh tubuhnya lengket.
"Baik, Nona. Permisi," jawab si pelayan patuh.
Pelayan itu mendahului langkah Rihanna masih dengan wajah tertunduk. Rihanna memperhatikan cara jalan si pelayan yang sedikit berbeda. Pelayan itu seperti sedikit kesulitan berjalan, sepertinya dia pernah terluka di bagian kakinya.
Seingat Rihanna, di mansion tidak ada satupun pelayan yang memiliki keterbatasan semacam itu. Dia pun sedikit curiga bahwa ada yang tidak beres dengan si pelayan yang ada di dalam kamar mandinya.
"Aku harus waspada. Sepertinya memang ada yang tidak beres," gumam Rihanna yang kini memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar.
"Nona, mau kemana? Air hangatnya sudah siap."
Rihanna tidak memperdulikan ucapan si pelayan. Instingnya saat ini sedang benar-benar merasa terancam. Meski belum mengetahui dengan pasti, tetapi Rihanna yakin di kediamannya saat ini sudah di masuki oleh penyusup.
Semakin pelayan itu berteriak, semakin cepat pula Rihanna berjalan. Wanita bergaun merah itu bahkan sedikit berlari agar lebih cepat keluar dari tempat itu.
"Nona. Berhenti!" bentak si pelayan dengan berani.
Bentakan itu diiringi dengan suara tembakan pistol yang terdengar nyaring di susul dengan jatuhnya lampu gantung tepat di depan Rihanna yang terpaksa menghentikan langkah diujung tangga.
"Ternyata benar, pelayan itu adalah seorang penyusup."
__ADS_1
"Kembali ke kamar anda, sekarang!"