
Malik tengah termenung sendirian di kamar tamu. Mulai saat ini, mungkin dia akan tidur di sana demi kenyamanan sang istri. Di tangan kanannya memegang sebuah kalung berwarna silver dengan inisial huruf A sebagai bandulnya.
Laki-laki rupawan itu membolak-balikkan benda yang dipegangnya tersebut. Meneliti apakah kalung itu memang merupakan sesuatu yang hilang darinya saat kecil dulu. Seingatnya, dia kehilangan benda tersebut setelah menolong seorang gadis cilik yang tenggelam di danau.
"Benar, kalung ini memang milikku. Tapi bagaimana bisa kalung ini berada di lemari Kayla?"
Bayang-bayang wajah cantik seorang bocah dengan pakaian basah kuyup menari di ingatannya, menciptakan lengkungan tipis di kedua sudut bibir sedikit tebal itu.
"Terima kasih sudah menolongku, Kak!" kata-kata itu mengalun indah di pendengarannya.
Ketukan pintu menarik kesadaran Malik dari ingatan di masa lampau. Ketika pertemuan tanpa sengaja dengan seorang gadis kecil yang berhasil menarik perhatiannya saat itu. Netranya mengerjap sebelum akhirnya dia menatap pintu kamar yang semakin lama semakin keras diketuk.
Buru-buru Malik menyimpan benda yang sudah mengingatkannya kepada seseorang di masa lalunya itu ke saku celana. Dia segera bangkit lalu berjalan cepat menuju pintu, sebelum pintu yang terbuat dari kayu jati itu jebol karena ulah si pengetuk yang tidak sabaran.
Ketika pintu terbuka, dari sana muncul seorang wanita paruh baya yang menatap kesal kepada laki-laki yang sudah berani menguji kesabarannya. Malik menautkan kedua alisnya ketika melihat ekspresi wajah sang ibu.
"Kenapa, Mam?" tanyanya bingung.
"Kamu ngapain di sini?" tanya balik sang ibu dengan nada tinggi.
"Mulai saat ini Malik akan tidur di sini, Mam."
"Dasar suami gila! Istrimu sedang hamil, malah pisah ranjang." Riani memaki sang putra.
"Apa salahnya, Mam? Kami sudah terbiasa tidur di kamar yang berbeda selama ini," jawabnya tanpa beban.
__ADS_1
Riani mendelik tajam ke arah sang putra saat laki-laki yang sudah susah payah dia besarkan itu berani menjawab semua ucapannya dengan kurang sopan. Sadar akan kesalahannya, Malik pun menelan ludahnya kasar. Dia yakin sebentar lagi, serigala buas akan bangkit dari tidur panjangnya.
"Kau benar-benar minta dihajar, yah! Mami tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pengecut. Kehamilan Rihanna terjadi karena perbuatanmu, lalu sekarang kau justru menghindarinya!"
"Itu kan karena keusilan mami," gumam Malik lirih.
Mata tajam itu semakin membulat sempurna. Putranya ini sekarang semakin berani saja menjawab meski masih dengan nada lirih. Riani menyingkirkan tubuh tegap sang putra lalu mengayunkan langkah masuk ke kamar itu. Wanita yang masih tetap cantik meski usianya sudah tidak lagi muda itu mendudukkan diri di sofa panjang.
"Terus saja menjawab. Mami menyuruh kalian pindah ke mansion karena mami ingin memastikan hubungan pernikahan kalian akan semakin membaik. Jika kau saja sebagai imam tidak bisa menjalani kewajibanmu, bagaimana bisa istrimu akan jatuh cinta, Malik!" omelnya panjang lebar.
Malik diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh ibunya. Jika dipikir-pikir memang ada benarnya juga. Jika dia sebagai kepala rumah tangga tidak berusaha menunjukkan perhatian, lalu bagaimana sang istri akan tertarik padanya. Cinta, itu hanya mimpi belaka jika tidak pernah diperjuangkan.
"Lalu Malik harus bagaimana, Mam?" tanyanya meminta saran.
Laki-laki berkharisma itu berjalan menuju sofa untuk menyusul sang ibu. Dia menjatuhkan bokongnya di sofa yang sama dengan yang diduduki oleh Riani. Tangan kirinya menyugar rambut ikalnya ke belakang.
Lagi-lagi Malik terdiam. Mungkin dia akan merasa bahagia dengan hal tersebut. Namun, bagaimana perasaan Rihanna. Wanita yang tengah mengandung benihnya itu belum juga membuka celah agar dia bisa lebih mendekatkan diri.
"Kalau kamu ragu, tanya pada Tuhanmu. Lakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari-Nya. Bukankah kehamilan Rihanna juga terjadi atas kehendak-Nya? Mami yakin, hadirnya janin di rahim Rihanna juga merupakan salah satu cara Tuhan mendekatkan kamu dengan istrimu."
Riani paham, putranya itu memang sangat minim dalam urusan pendekatan dengan lawan jenis. Wajar saja, laki-laki itu tidak pernah memiliki kedekatan dengan perempuan manapun selama ini. Hanya saja, Malik pernah mencurahkan hatinya yang tertarik dengan seorang anak kecil saat usianya masih memasuki tahap awal remaja.
Dari cerita itu, Riani menyangka itu hanyalah ketertarikan biasa karena usia yang masih kecil. Tidak mungkin tumbuh rasa cinta pada anak-anak seusia Malik saat itu. Terlebih mereka hanya bertemu satu kali dalam insiden yang hampir merenggut nyawa si gadis kecil.
"Baiklah, Mam. Malik akan meminta petunjuk-Nya lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Jujur, Malik tidak ingin membuat Kayla tertekan jika harus berdekatan dengan Malik," ujarnya terus terang.
__ADS_1
Mendengar sendiri keluhan sang putra yang benar-benar terlihat frustasi membuatnya meninju lengan kekar putranya. Wanita yang sebentar lagi menjadi calon nenek ini terkekeh dengan sedikit menggelengkan kepala.
"Rihanna itu wanita, Malik. Dia butuh perhatian lebih dari pasangannya, apa lagi saat ini dia sedang mengandung. Seharusnya kamu lebih peka dan berusaha menunjukkan bahwa kamu sangat peduli padanya," tutur Riani memberi wejangan.
"Tapi ... kalau dia justru membenciku, bagaimana, Mam?"
"Pikirkan itu belakangan. Sekarang yang terpenting, jadilah suami dan calon ayah yang siaga! Mami yakin, lambat laun hatinya akan luluh."
Setelah mendapat nasihat-nasihat dari sang ibu, Malik pun kembali ke kamarnya untuk menemui sang istri. Mulai saat ini, dia bertekad akan mengubah semua sikapnya kepada Rihanna, istri yang belum mencintainya.
Malik kembali mengetuk pintu kamar saat berada di depan kamarnya bersama sang istri. Sahutan dari dalam membuatnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Begitu pintu sudah terbuka, Rihanna menatap ke arahnya. Tatapan itu hanya dibalas dengan senyum tipis oleh Malik.
"Kayla, boleh aku bicara sesuatu?" tanyanya saat berada di jarak yang sangat dekat dengan Rihanna yang duduk di ranjang.
"Bicara apa?" tanya balik Rihanna sambil menutup buku yang tadi dibacanya.
"Apakah kamu keberatan jika aku ikut tidur di kamar ini? Di ranjang yang sama bersama kamu."
Rihanna belum menjawab, dia terlihat sedang berpikir. Malik masih setia menunggu jawaban dari istrinya dengan detak jantung yang berpacu begitu cepat. Sebenarnya Malik takut, jika ternyata Rihanna akan menolak permintaannya.
"Ini kamar kamu, kenapa meminta izin dariku, Malik?"
Pertanyaan Rihanna seketika membuat Malik membulatkan matanya dengan pandangan tidak lepas dari wajah cantik sang istri. Tatapannya berhenti di bibir mungil berwarna merah muda sang istri yang terlihat begitu menggoda. Ingin rasanya Malik mengecup bibir itu tanpa rasa takut. Namun, dia masih sadar diri bahwa cinta itu belum berhasil dia dapatkan.
"Jadi kamu setuju jika kita tidur bersama?"
__ADS_1