Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Pengganti Rasa Sayang


__ADS_3

Adeline menggelengkan kepala karena sama sekali tidak setuju dengan ucapan Zico barusan. Walau bagaimanapun semua orang di dalam sana adalah keluarga kandung pemuda itu, tidak seperti dirinya yang ternyata hanyalah seorang anak yang di adopsi. 


"Kau tidak perlu melakukan itu, Zico. Tetaplah jadi anak baik untuk papa dan mama. Biarkan saja jika memang mereka sudah tidak menganggapmu sebagai anak mereka," ujar Adeline seraya memaksa bibirnya untuk tersenyum meski rasanya sangatlah perih. 


Danendra mengusap lembut bahu sang istri untuk menguatkan wanita dewasa yang ternyata sangatlah rapuh tersebut. 


"Turuti saja permintaan istriku, Zico. Terima kasih karena selama ini selalu bersikap baik padanya," timpal Danendra tulus. 


Si daun muda kesayangan Adeline itu sudah cukup tahu tentang asal usul keluarga sang istri. Tentang siapa saja yang bersikap baik maupun yang selalu menyakiti istrinya itu, semua tidak luput dari pengetahuan Danendra. 


"Ayo, Sayang, kita pulang! Rumah ini bukanlah tempatmu lagi," ajak sang suami dengan lembut. 


"Kak, apakah kita masih bisa menjadi saudara?" tanya Zico ketika Adeline dan Danendra sudah hampir mengayunkan langkahnya. 


"Kamu tetaplah adikku, Zico. Kakak menyayangi kamu lebih dari apapun di dunia ini," jawab Adeline yang langsung mendapatkan pelukan erat dari pemuda itu. 


Sebenarnya Danendra sedikit tidak suka ketika tubuh istrinya tersentuh orang lain, apa lagi dia pria yang usianya tidak jauh darinya. Namun, melihat persaudaraan keduanya, dia paham bahwa mereka saling menyayangi sebagai saudara saja. 


"Terima kasih, Kak. Jangan pernah berubah menjadi seperti mereka, yah!" pinta Zico sambil menahan air mata yang akan meluncur dari kedua sudut matanya. 


"Kau salah, Zico. Aku akan menjadikannya wanita yang kuat dan tidak lemah seperti dulu." Danendra menjawab hanya dalam benaknya saja. 


"Tentu, Kakak tidak akan pernah menjadi seorang pendendam," jawab Adeline bijak, meski saat ini dia sedang terpuruk hingga ke dasar jurang, nyatanya tidak ada sedikitpun rasa dendam kepada keluarga tidak terkecuali Grasiella.


"Sudah-sudah! Jangan memeluk istriku terlalu lama, nanti dia lecet." Danendra melerai pelukan antar kakak adik tersebut. 


"Kak Nendra masih saja jadi pencemburu!" gerutu Zico yang sebenarnya masih ingin mendekap sang kakak. 


Ketika pelukan erat itu terlepas, Adeline buru-buru menyeka air mata yang meluncur deras di pipinya. Dia memaksa mengulas senyum di tengah rasa sakit, tangannya terangkat lalu menepuk dua kali pundak sang adik. 

__ADS_1


"Kakak pulang dulu, yah! Jangan sungkan untuk mengabari kakak tentang keluarga kita," pamitnya sebelum sang suami kembali menggandeng lengannya. 


"Kak Nendra." 


Mereka kembali menghentikan langkah, Danendra menoleh ke arah sang adik ipar yang memanggilnya. 


"Jaga kak Elin, yah! Tolong bahagiakan dia," pinta Zico masih berusaha menahan tangis. 


"Pasti, Co. Dia adalah ratu dalam kehidupanku," jawab Danendra yang langsung berbalik dan membawa sang istri untuk segera meninggalkan sarang iblis tersebut. 


Kini Adeline dan Danendra sudah berada di dalam mobil yang saat ini di kendarai oleh Gerry. Pria kepercayaan Danendra itu langsung menyusul ke rumah Antonio ketika mengetahui ada sedikit masalah yang menggangu ketenangan tuan dan nyonya mudanya. 


Wanita dewasa itu masih saja menangis di pelukan sang suami. Danendra sampai tidak tega melihat sang istri terisak seperti saat ini. Meski dia pun tahu bahwa masalah yang di alami istrinya itu memang bukanlah masalah kecil. 


"Jangan menangis terus, Sayang. Aku ada disini untuk kamu," ujar Danendra yang sudah sangat membenci keadaan saat ini. 


Adeline sedikit mendongak untuk menatap wajah sang suami yang sejak tadi sama sekali tidak dipedulikan olehnya. Raut wajah pria itu terlihat merah dengan rahang yang mengeras. Adeline yakin, suaminya itu tengah mati-matian menahan amarah. 


"Baik! Tapi jika besok aku masih melihat kamu menangisi hal ini, aku tidak akan pernah memaafkan keluarga itu!" 


"Mereka keluargaku, Nendra," sela Adeline dengan cepat. 


"Hubungan kamu dengan mereka sudah berakhir, Adel. Aku tidak akan lagi mengizinkan kamu menyakiti diri sendiri dengan tetap berharap pada keluarga tidak tahu diuntung seperti mereka! Jika bukan karena mu, aku yakin mereka sudah menjadi gelandangan."


"Tidak ada yang bisa memutuskan hubungan kekeluargaan, Nendra. Meski darah mereka tidak mengalir dalam tubuhku, nyatanya mereka yang sudah merawatku sejak aku kecil," bantah Adeline yang tetap membela keluarganya. 


"Terserah padamu! Tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu lagi, tidak terkecuali keluarga Antonio." 


Berbeda dengan Adeline yang masih saja bersikeras membela keluarga Antonio, Zico justru terang-terangan menyatakan kekecewaannya pada ayah dan ibunya. 

__ADS_1


"Seharusnya mama dan papa mendengar dan melihat buktinya lebih dulu. Jangan berat sebelah seperti ini, Ma, Pa. Sejak dulu kalian selalu memanjakan Kak Ella, sampai dia tidak tahu benar dan salah. Semua yang diinginkan harus dia dapatkan!" 


"Sial*n! Dia itu kembaranku tapi selalu memihak pada wanita yang selalu membuat aku di marahi kakek dan nenek dulu," gumam Grasiella yang tidak sengaja mendengar Zico memprotes sang ayah. 


"Zico, jangan membantah papa jika kamu saja belum bisa hidup mandiri. Selama ini kamu dan Ella sama saja, 'kan?" 


"Baik! Mulai saat ini Zico akan buktikan bahwa Zico bisa mandiri tanpa bantuan papa sedikitpun." 


"Halah! Paling nanti kau membuat ulah lagi. Ingat Zico, kamu hanya pemuda manja yang tidak bisa menata masa depanmu sendiri!" 


"Kali ini papa tidak akan lagi mengenal Zico Giorgino yang dulu, Pa! Lagi pula jika bukan karena Kak Elin, kalian sudah kehilangan harta kalian," ujar Zico yang mengungkit tentang pemberian sang kakak. 


"Itu sudah kewajiban Elin! Dia sudah kami rawat sejak kecil, sudah sewajarnya dia memberikan apa yang kita perlukan. Anggap saja itu sebagai ganti atas kehidupan dan rasa sayang yang kami berikan padanya," timpal Monica dengan angkuh. 


"Jadi kalian hanya mengukur sebuah rasa menggunakan harta. Pantas saja jika sejak dulu kalian selalu bersikap sombong, bahkan pada kakek dan nenek ketika mereka masih hidup." 


Setelah mengutarakan kekecewaannya, Zico pergi meninggalkan rumah besar Antonio. Pemuda itu kini bertekad akan hidup tanpa embel-embel bantuan sang ayah. 


Mobil yang di tumpangi oleh Adeline dan Danendra kini sudah memasuki gerbang tinggi mansion Alefosio. Mereka turun setelah mobil berhenti, si pria masih setia menggenggam tangan istrinya agar wanita itu tidak terus-terusan larut dalam kesedihan. 


Saat mereka masuk kebetulan mereka berjumpa dengan Silvia, wanita paruh baya itu sudah rapi menggunakan dress panjang dengan rambut yang di Curly. Meski usianya sudah memasuki kepala lima dia masih begitu terlihat cantik. Wanita itu bergegas mendekati putra dan menantunya yang masih berjalan masuk. 


"Elin, bagaimana, adikmu sudah di temukan?" tanya Silvia yang mendadak cemas karena melihat ekspresi wajah sang menantu. 


"Sudah, Ma. Biarkan Adel istirahat dulu! Nanti Nendra yang jelaskan pada mama," sela Danendra yang tahu suasana hati sang istri sudah sangat buruk. 


"Ya sudah! Mama pergi dulu, yah! Mau bertemu dengan aunty Nabila sebentar." 


"Mama mau apa bertemu dengan maminya Rihanna?" tanya Danendra penasaran. 

__ADS_1


"Tadi aunty telepon terus nangis-nangis. Entah apa yang terjadi sama dia," jawabnya singkat dan jelas. 


__ADS_2