Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Awal Kesembuhan


__ADS_3

"Emangnya aku pencuri, ngambil diam-diam. Itu kan hakku, aku minta pun pasti di kasih, ngapain nyuri?" tanya Malik sedikit kesal atas tuduhan sang istri. 


"Yakin bakal dikasih?" tanya balik Rihanna menggoda. 


"Mau bukti?" tanya Malik lagi, seringai tipis terbit di wajahnya yang tampan. 


"Enggak-enggak, aku belum sholat subuh," tolak Rihanna yang langsung berjalan menjauhi Malik. 


Wanita hamil itu masuk ke kamar mandi, sedangkan Malik menggeleng pelan. Tingkah sang istri ternyata tidak berubah. Padahal tadi dia sempat takut jika istrinya akan menjelma menjadi sosok Rihanna yang dulu. 


"Semakin ke sini, kamu semakin manis, Kay," gumam Malik yang kini semakin jatuh ke dalam pesona Rihanna. 


Malik kini kembali mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi seseorang. Dia mendengus kesal saat beberapa kali berusaha menghubungi seseorang yang menjadi orang kepercayaannya, tetapi tidak di angkat. 


"Dasar sekretaris lucknut!" geram Malik melemparkan ponselnya ke ranjang. 


****


Zico dan Queen sedang dalam perjalanan menuju rumah baru Monica yang dibelikan oleh Danendra. Mereka segera datang setelah mendapat kabar dari kakaknya tentang kabar terbaru sang ibu. 


"Sebenarnya apa yang memicu depresi mama lagi, Zico?" tanya Queen. 


"Aku belum tahu, tapi mungkin ini berkaitan dengan papa atau Ella," jawab Zico tanpa melepas fokusnya dari jalan di depan. 


"Kasihan mama, Co," balas Queen sedikit merasa nasib sang mertua sungguh malang. 


"Aku sebenarnya pengen urus mama, Queen, tapi aku juga khawatir kalau mama kumat dan di rumah hanya ada kamu dan anak kita," ujar Zico. 


"Mama kan punya suster dan dokter yang merawatnya, Co. Kita serahkan saja dulu sama mereka. Aku juga belum bisa kalau harus urus bayi dan mama sekaligus," ujar Queen yang akhirnya diangguki oleh Zico. 


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Zico akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana, meskipun sederhana, tetapi rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan asri. Danendra sengaja memilih tempat seperti itu agar mendukung kesembuhan sang mertua. 


Zico turun disusul oleh Queen. Mereka bergandengan tangan menghampiri Adeline yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka. 


"Kak," panggil sepasang suami istri itu kompak. 


"Langsung masuk saja, Co. Mama sedang di kamarnya," ujar Adeline menyuruh adiknya untuk masuk dan menemui sang ibu. 


"Sebentar, Kak. Zico ingin tahu kenapa mama kambuh gini?" tanya Zico meminta penjelasan. 


"Mama mimpiin Ella, dia bilang Ella minta tolong sama mama," jawab Adeline singkat tetapi sangat jelas. 

__ADS_1


"Astaga, Ella. Sejak hidup sampai tiada tetap saja membuat mama begini," ucap Zico yang seketika mendapatkan cubitan dari Queen. 


"Awh! Sakit, Queen!" pekik Zico seraya mengelus bekas cubitan istrinya. 


"Makanya jangan asal ngomong, Zico. Bagaimanapun juga Ella kembaran kamu, tahu!" 


"Tapi apa yang aku bilang memang kenyataannya, kalau kamu tidak percaya tanya saja sama Kak Elin," ujarnya meminta pembelaan sang kakak. 


"Sudah-sudah! Kenapa malah kalian ribut, sih? Nanti kalau mama denger makin jadi masalah," tegur Adeline menasehati. 


"Maaf, Kak," balas Zico dan Queen serentak. 


"Sana kalian masuk!" perintah Adeline tegas. 


Zico dan Queen pun masuk ke rumah dan segera menghampiri Monica di kamarnya. Keduanya menghentikan langkah di ambang pintu saat melihat Monica sedang melamun, terlihat jelas dari sorot matanya yang kosong. 


"Mama," panggil Zico yang seketika membuat Monica tersadar. 


Wanita paruh baya itu menoleh, "Zico!" pekik Monica langsung turun dari ranjang, wanita paruh baya itu berlari dan memeluk tubuh sang putra. 


Zico membalas pelukan sang ibu dengan erat. Setetes air mata jatuh ke bahunya, Zico tahu sang ibu menangis di pundaknya. Namun, Zico membiarkan Monica menumpahkan segala perasaannya lewat tangisan.


Queen sendiri hanya bisa menatap sendu keadaan ibu mertuanya yang memang memprihatinkan. Jika saja tidak diurus dengan baik oleh orang-orang Danendra, mungkin keadaan lebih parah lagi.  


"Mama kenapa menangis?" tanya Zico. 


"Mama kangen sama Ella, Zico. Ella pergi ninggalin mama," jawabnya dengan suara bergetar. 


"Ella tidak pergi, Ma. Mama jangan sedih," ujar Zico seraya menuntun Monica untuk duduk di sofa, Queen setia mengikuti. 


"Ella sudah pergi, Zico. Dia tidak akan kembali, dia bilang dia sedang menunggu mama," kata Monica seraya memegangi lengan Zico kencang, Zico bahkan sampai meringis. 


"Mama tenang dulu, kalau mama terus begini mama tidak akan sembuh," ucap Zico terus berusaha menenangkan sang ibu. 


"Antarkan mama ke makam Ella, Zico," pinta Monica tiba-tiba, Zico pun terkejut. 


"Mama ingat kalau Ella sudah meninggal?" tanya Zico memastikan. 


Monica mengangguk pelan, Zico dan Queen saling pandang. Laki-laki itu memberi isyarat mata kepada istrinya yang langsung diangguki oleh Queen. 


Queen berdiri lalu berjalan keluar kamar. Wanita yang kini sudah lebih bisa berpikir dewasa itu mencari keberadaan sang kakak ipar.

__ADS_1


"Queen, mau kemana?" tanya Adeline menghampiri sang adik ipar saat melihat istri adiknya itu sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. 


"Kak Elin, mama, Kak," ujar Queen seketika menciptakan ketegangan di wajah sang kakak. 


"Mama kenapa?" tanya Adeline tegang. 


"Mama minta di antar ke makam Ella, Kak," ucap Queen memberi tahu kakak iparnya. 


"Kamu serius?" Kedua mata Adeline membulat sempurna. 


"Iya, Kak. Aku sama Zico juga kaget," jawab Queen. 


Kedua wanita itu segera berlari menuju kamar Monica. Adeline menghampiri adik serta ibunya yang terlihat sedang mengobrol. 


"Mama sudah ingat tentang Ella?" tanya Adeline cepat, dia tentu ingin memastikan dari bibir ibunya sendiri. 


"Mama sudah ingat, Elin. Ella sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya," ujarnya seketika menciptakan suasana sedih di ruangan itu. 


"Ikhlaskan Ella, Ma. Biarkan dia tenang di alamnya," tutur Adeline. 


"Mama akan berusaha, Elin. Sekarang tolong antar mama ke makam Ella," pinta Monica tetap pada keinginannya. 


"Mama yakin?" tanya Adeline memastikan agar dapat mengambil keputusan terbaik. 


 "Mama yakin, Elin. Kasihan Ella, sudah lama mama tidak memberi perhatian padanya," jawabnya tanpa ragu. 


"Baiklah, Elin telepon Danendra dulu, yah!" 


"Enggak usah, Elin. Zico dan kamu saja sudah cukup," tolak Monica. 


Adeline terdiam, dia sedang berpikir keras untuk mengambil keputusan. Sebenarnya dia tidak ingin mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan suaminya. Namun, Adeline pun tidak kuasa untuk menolak permintaan sang ibu. 


"Elin, mama mohon." Monica menggenggam erat tangan Adeline. 


"Ya sudah, ayo berangkat!" 


"Kakak serius? Kalau ada apa-apa dengan mama setelah melihat makam Ella gimana?" 


"Ada kita yang akan menjaga mama, Zico. Sudah kewajiban kita untuk membahagiakan orang tua kita," tutur Adeline memutuskan untuk menuruti permintaan sang ibu. 


"Tapi, Kak –" 

__ADS_1


"Sudahlah Zico, mungkin ini akan menjadi awal dari kesembuhan mama," tutur Adeline berusaha berpikir positif. 


"Tapi kalau mama semakin parah gimana?" 


__ADS_2