Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tawaran Danendra


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah Adeline sudah tidak terlalu posesif pada Danendra, pria itu kini sedang berada di ruangan VIP sebuah restoran ternama. Pria itu baru saja melakukan meeting dengan client perusahaan. 


Sementara itu, di luar pintu ruangan tersebut, seorang pria sedang merasa ketakutan karena dipanggil oleh seseorang yang berada di dalam sana. Meskipun tadi sempat merasa terintimidasi oleh tatapan orang yang sekarang memanggilnya itu, akan tetapi dia mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan. 


"Masuk!" seru seseorang dari dalam. 


Pria di luar meraih handle pintu, sejenak menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Tidak apa-apa, Zico. Toh pekerjaan kamu sekarang tidak merugikan siapapun," gumam Zico menenangkan dirinya. 


Zico kini melangkah masuk ke ruangan VIP tempatnya bekerja. Ketika baru saja masuk, seseorang yang memanggilnya itu menyuruhnya untuk duduk di kursi kosong tepat di hadapannya menggunakan kode mata. Zico pun menurut, dia menjatuhkan bok*ngnya di kursi yang di tunjuk oleh seseorang itu. 


"Apa kabar?" tanyanya basa-basi. 


"Baik, Kak. Kak Elin gimana kabarnya?" 


"Kakakmu baik-baik saja, Co, tidak perlu mencemaskan dia," jawab Danendra.


Zico tersenyum lega. "Syukurlah, Kak Elin beruntung karena mendapatkan keluarga baru seperti kalian," ujar Zico memuji keluarga sang kakak ipar. 

__ADS_1


Danendra mengaitkan kedua tangan dan menaruhnya di atas meja. Laki-laki itu masih memperhatikan seragam yang dipakai oleh  adik iparnya. Zico tentu saja paham kemana arah pandang sang kakak ipar. 


"Kau tidak berniat mencari pekerjaan yang lebih baik dari ini, Co?" tanya Danendra to the poin. 


Mendapatkan pertanyaan yang sedikit sensitif itu membuat Zico tersenyum kecut. Dia kembali melihat seragam yang dia pakai saat ini. Sungguh dia pun tidak pernah membayangkan akan memakainya apa lagi sampai menggeluti pekerjaan tersebut. Namun, hanya inilah yang dia bisa lakukan untuk kehidupannya sendiri. 


"Kak, memangnya apa yang bisa di kerjakan oleh seseorang tanpa pengalaman seperti aku? Setiap perusahaan, tidak hanya melihat calon pekerja hanya dengan kualitas pendidikannya saja. Mereka juga menuntut pengalaman dari para pelamar kerja," jelas Zico yang memang ada benarnya. 


"Kenapa tidak bekerja di perusahaan papamu atau mertuamu? Aku rasa mereka tidak akan memberlakukan syarat itu untukmu." 


"Kakak seperti tidak tahu saja, aku yakin selama ini kakak sudah mencari tahu seluk beluk tentang keluargaku," jawab Zico dengan senyum tipisnya. 


"Tentu saja aku tahu, Kak. Untuk itu aku mohon jangan beritahu Kak Elin. Aku hanya tidak ingin dia kecewa padaku lagi, meskipun aku yakin, Kak Elin akan lebih mendukung aku melakukan pekerjaan ini, dari pada kembali pada dunia hitamku kemarin." 


"Jika aku tidak mengizinkanmu bekerja di sini, apakah kamu mau menurutinya?" tanya Danendra dengan sangat jelas. 


"Tapi, aku harus bekerja, Kak. Bagaimana aku melanjutkan hidup jika aku tidak bekerja?" tanya balik Zico. 

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku kekurangan lapangan kerja sampai tidak bisa memberikan pekerjaan untuk adik iparku sendiri?" 


"Aku tidak ingin merepotkan, Kak. Lagi pula aku juga ingin hidup mandiri, seperti Kak Elin dulu," jelas Zico yang menolak pekerjaan dari sang kakak ipar. 


Danendra mengangguk mengerti. "Aku hargai niatmu sekarang, Zico. Silahkan lalukan apa saja yang menurutmu benar, jika kamu merasa butuh bantuan, datanglah! Aku akan selalu siap membantumu," ujar Danendra mengalah. 


Setelah perbincangan itu, Danendra dan Gerry keluar dari restoran tempat Zico bekerja. Sebelum itu, Danendra sudah lebih dulu memberikan perintah untuk Gerry agar tidak ada satu orangpun yang mencari masalah dengan adik iparnya di tempat tersebut. Tentunya hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Zico. 


"Ingat Gerr, jangan sampai istriku tahu tentang keadaan Zico yang keluar dari rumah lagi!" perintah Danendra yang tidak ingin beban istrinya semakin bertambah. 


"Baik, Tuan. Tapi saya rasa lebih baik jika anda tetap memaksa Tuan Zico untuk bekerja di perusahaan saja. Saya lihat, dia memiliki kemampuan itu, dan kesetiaannya tidak diragukan lagi," ujar Gerry memberikan saran. 


"Aku tahu, tapi dia masih nyaman dengan pekerjaannya saat ini. Jadi tidak perlu mengganggunya dulu. Biarkan dia belajar di tempat lain agar mentalnya lebih kuat." 


"Baik, Tuan. Sesuai perintah anda," jawab Gerry patuh. 


Gerry membuka pintu mobil untuk sang tuan muda lalu menutupnya kembali setelah Danendra sudah masuk ke dalamnya. Mereka berniat kembali ke kantor, akan tetapi ketika dalam perjalanan tiba-tiba seseorang menghubungi Danendra lewat sambungan telepon. 

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Danendra tanpa basa-basi setelah telepon tersambung. 


"Ada penyusup yang mencoba melukai Nona, Tuan," ujar si penelepon. 


__ADS_2