
Rihanna menjatuhkan makanan ringan serta minuman dingin yang dibawa olehnya itu ke meja. Perempuan itu mengusap kasar wajahnya yang terasa panas. Ini pertama kalinya dia merasakan perasaan seperti itu.
"Apa aku penyakitan sekarang?" monolog Rihanna menjatuhkan diri di sofa.
"Tapi, aku merasa baik-baik saja. Kenapa jantungku berdebar lebih cepat ketika berada dekat dengannya?"
Perempuan itu uring-uringan di dalam kamarnya. Masih menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Semakin hari dia semakin merasakan keanehan itu.
Berbeda dengan Malik yang memutuskan untuk masuk ke kamar karena matanya masih sangat mengantuk. Rasa lapar yang melanda lambungnya tidak dia rasakan. Begitu masuk ke kamar, Malik langsung menjatuhkan diri di kasur empuk dan kembali memejamkan mata untuk melanjutkan mimpi indahnya.
Keesokan harinya Malik bangun dan langsung bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Dia yang sudah selesai menyantap sarapan paginya mengetuk pintu kamar Rihanna.
"Kayla. Aku sudah siapkan sarapan. Nanti jangan lupa dimakan, ya!"
Masih tidak ada jawaban. Malik akhirnya mengayunkan langkah untuk segera pergi dari sana. Laki-laki itu sudah cukup paham alasan perempuan itu menghindarinya karena kejadian tidak sepantasnya itu kemarin.
Sebelum meninggalkan apartement Malik sempat menaruh sebuah ponsel di samping sarapan yang dia sediakan untuk Rihanna. Dia sengaja memberikan benda canggih itu untuk menjadi alat telekomunikasi mereka. Di ponsel tersebut, dia juga sudah memasukkan nomor ponselnya agar lebih memudahkan jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Rihanna baru keluar dari kamarnya setelah memastikan Malik sudah keluar dari unit apartment itu. Karena tidak yakin bahwa Malik sudah tidak berada di tempat, Rihanna berjalan mengendap-endap dengan pandangan berkeliling memeriksa setiap sudut ruangan.
"Sepertinya dia sudah berangkat kerja."
Rihanna akhirnya berjalan menuju dapur. Seperti yang diperintahkan oleh Malik tadi bahwa dia harus menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh laki-laki itu. Dia sedikit heran saat di samping piring berisi roti bakar di meja juga terdapat sebuah ponsel.
"Ini hape Malik? Tertinggal atau bagaimana?"
Tidak berselang lama ponsel itu berdering. Di layar benda canggih tersebut tertera nama Malik. Hal itu tentu membuat Rihanna semakin bingung.
"Jika ini hape milik Malik, kenapa dia menelepon dengan nomor atas nama Malik juga?"
Tangan kanan Rihanna terulur menggapai benda berbentuk persegi panjang itu lalu dengan cepat memencet tombol hijau di layar. Dia mendekatkan benda pipih itu ke telinganya setelah panggilan tersambung.
"Kamu sudah keluar dari kamar, Kay?" tanya Malik tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Em, iya. Ini hape kamu tertinggal?"
Terdengar suara kekehan dari seberang sana. Rihanna mengerutkan keningnya semakin bingung. Malik justru tertawa saat benda yang mungkin berisi file-file penting itu tertinggal.
"Kamu kenapa malah tertawa?" tanya Rihanna semakin bingung.
"Itu bukan ponselku, Kay. Itu ponsel kamu!"
"Ha!"
"Aku sengaja belikan ponsel untuk kamu. Biar kamu tidak bosan berada di apartment sendirian terus."
"Em. Terima kasih, tapi … aku jadi tidak enak. Aku jadi merepotkan kamu terus," lirih Rihanna.
"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di repotkan. Sudah, ya! Aku mau berangkat dulu."
"Baiklah. Hati-hati dijalan," timpal Rihanna.
"Kenapa dia bersikap sangat baik padaku? Padahal awal pertemuan kita sempat saling mengejek."
Rihanna menarik kursi lalu duduk di sana. Perempuan itu segera menikmati sarapan paginya. Suasana hatinya tiba-tiba berseri saat merasakan perhatian luar biasa dari laki-laki yang baru dikenalnya itu. Tanpa sadar, Rihanna semakin jatuh pada pesona Malik.
*****
Malik turun dari mobil ketika sampai di perusahaan keluarganya, Ibrahim Corporation. Seorang wanita berlari tergopoh-gopoh menghampiri laki-laki tampan itu.
"Bos," panggil wanita itu dengan napas tersengal.
"Kamu kenapa seperti dikejar setan?" tanya Malik heran.
"Ayah anda datang kemari, Bos."
Wanita itu terlihat sangat cemas. Selama ini jika tuan besarnya itu datang pasti akan ada keributan. Terlebih lagi pria paruh baya itu datang dengan mimik wajah datar tanpa ekspresi. Tidak hanya itu saja, ayah kandung dari bosnya ini langsung masuk ke ruangan CEO yang merupakan ruangan Malik.
__ADS_1
"Melihat ayahku datang saja kau seperti melihat hantu, Celine."
"Saya rasa beliau sedang marah, Bos. Mungkin akan mengamuk seperti biasanya," timpalnya tanpa rasa bersalah.
Celine memang terbiasa bersikap seperti itu kepada Malik. Hanya dia lah yang bertahan menjadi sekretaris dari pria sedingin Malik. Karena sikapnya yang bar-bar itulah yang menjadikannya pribadi yang tidak takut pada bos mudanya itu.
"Kau tenang saja. Aku sudah memiliki kartu untuk membungkam Pak Tua itu."
Malik berjalan dengan santai masuk ke dalam perusahaan. Celine masih setia mengekor di belakang mengikuti langkah besar Malik. Ketika berpapasan dengan para pegawai, mereka sedikit menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada pemilik perusahaan tersebut.
Sepasang bos dan sekretarisnya itu masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan untuk sampai di lantai lima belas, tempat di mana ruangan CEO berada. Beberapa saat kemudian mereka keluar setelah pintu lift terbuka.
Malik masih berjalan santai, berbeda dengan Celine yang harus terseok mengimbangi langkah besar sang bos. Laki-laki itu terlihat sangat santai, tidak seperti dirinya yang sudah terengah-engah sepanjang perjalanan.
"Makanya kalau tidak biasa pakai heels, jangan pakai heels, Celine. Sudah dari lahir tomboi, ngapain memaksakan diri menjadi gadis feminim hanya demi menarik perhatian seorang Office boy," kelakar Malik mencibir sang sekretaris yang kini berubah penampilan.
Celine mendengus kesal tetapi tidak bisa berkutik. Apa yang diucapkan oleh Malik memang benar. Dia sedang dekat dengan salah satu OB di kantor, dan parahnya hanya karena OB itulah dia mengubah gayanya seratus derajat dari biasa.
"Bos, kau ini seperti tidak pernah jatuh cinta saja."
"Aku sedang jatuh cinta, Celine. Tapi aku tidak bersikap bodoh sepertimu," sanggah Malik yang tentu saja tidak berani mengakui perubahan sikapnya baru-baru ini.
"Apa, Bos? Kau sedang jatuh cinta? Wah-wah-wah, siapa gadis yang berhasil mencairkan kutub Utara sepertimu?"
"Kau berani sekali menghinaku, Celine. Bulan depan akan aku turunkan gajimu!"
Ancaman itu seketika membuat Celine menutup mulutnya dan beberapa kali memukul bibir lancang yang sudah berani menghina sang bos. Padahal, laki-laki itu biasanya tidak pernah keberatan saat dia menyematkan sebutan kutub Utara. Lalu kenapa sekarang marah hanya karena hal tersebut.
Celine dengan cepat mendahului langkah bosnya untuk membukakan pintu ruangan CEO. Malik langsung berjalan masuk ke ruangan itu. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan bogem mentah dari arah depan.
"Papi!"
"Anak kurang aj*r!" teriak sang ayah dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1