Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Rencana Rocky


__ADS_3

Jika biasanya Rihanna tidak pernah betah berada di mansion dan selalu keluar untuk menghibur dirinya. Berbeda dengan sekarang, perempuan muda yang lebih tampak cantik tanpa balutan gaun mewah serta make up tebal itu kini tidak bisa pergi kemanapun. 


Sejak kecil Rihanna yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga memang lebih senang berkeliaran di luar untuk mencari kesenangan. Dia tidak pernah memiliki seseorang yang benar-benar selalu mendukungnya dengan tulus. Semua teman-temannya pun mendekatinya hanya karena harta. 


Demi memiliki orang-orang yang mau tunduk pada perintahnya, Rihanna tidak keberatan mengeluarkan berapapun uang dan tidak memperdulikan bahwa teman-temannya itu hanya membutuhkan uangnya saja. 


"Sudah sehari semalam aku terkurung di mansion. Meski tetap ada yang melayaniku, rasanya seperti aku hidup seorang diri," keluh Rihanna seraya menatap cermin di hadapannya. 


Perempuan muda itu memperhatikan penampilannya saat ini. Hanya celana jeans pendek serta kaos tanpa lengan yang dia gunakan. Wajahnya pun tidak tersentuh oleh make up yang biasa dia gunakan untuk merias wajahnya. Hanya ada satu jenis bedak dan lipglos yang disediakan oleh pelayan itu. Selebihnya mereka mengambil semua barang-barang milik Rihanna, bahkan ponsel pun ikut di amankan. 


"Sebenarnya siapa yang sudah melakukan ini? Kenapa mereka tidak menyiksaku? Kenapa mereka hanya mengambil barang-barang mewahku saja?" 


Masih banyak pertanyaan yang memenuhi benak perempuan muda itu. Jika mereka yang mengurungnya adalah salah satu musuh dari ayahnya kenapa mereka tidak langsung melenyapkannya saja. 


Hidup tanpa barang-barang kesayangan serta bebas berkeliaran semaunya membuat Rihanna jenuh. Pada akhirnya dia mencari cara untuk bisa keluar dari sana. Meski rasanya itu mustahil karena sekarang yang menjaganya tidak hanya satu atau dua pelayan. 


Mansion mewah itu sudah dikelilingi oleh para penjaga berbadan besar dan tinggi menjulang. Mereka memegang pistol bahkan senapan laras panjang di tangan masing-masing. 


"Kalau aku salah ambil keputusan, mungkin mereka akan marah dan menghabisi ku. Bagaimana caranya aku keluar?" 


Rihanna mondar-mandir di depan cermin besar. Perempuan itu menjambak kasar rambutnya sendiri saat tidak ada satupun ide yang datang di kepalanya. 


Dia menjatuhkan diri di lantai dingin kamarnya. Berlutut disana dengan mimik wajah frustasi. Ketika sedang merasa putus asa, bayangan seorang wanita paruh baya tiba-tiba menari-nari di pikirannya. 


"Mama, tolong Rihanna, Ma. Kenapa mama sekarang lebih peduli pada putrimu yang lain?" 

__ADS_1


Slide demi slide kejadian yang terjadi antara dirinya dan sang ibu seakan muncul di depan matanya. Bagaimana selama ini dia bersikap kepada ibu kandungnya itu. Jangankan menurut, dia bahkan seakan tidak menganggap kehadiran ibunya sendiri di dalam kehidupannya. 


Saat-saat seperti ini barulah dia merasakan betapa berartinya kasih sayang seorang ibu. Ternyata dia pun merasa membutuhkan wanita paruh baya yang selama ini hanya dia anggap sebagai orang lain yang terpaksa hidup bersama. 


Rihanna menyeka bulir bening yang luruh di pipinya ketika bayangan itu menghilang dari pandangan. Perempuan muda itu bangkit lalu berjalan menuju lemari besar miliknya saat sebuah ide melintas di kepalanya. 


Dia mengambil peralatan mekanik yang tersimpan di dalam lemari besar itu. Bermacam-macam alat dan jenis obeng tersedia di sana. 


Perempuan muda itu membawa peralatannya menuju sebuah jendela besar yang terhalang oleh tralis besi. Sang ayah memang memasang benda tersebut karena sejak kecil Rihanna memiliki hobbi kabur melalui jendela dan turun dari lantai dua hanya menggunakan kain yang disambung hingga menjuntai ke bawah. 


Rihanna terus berusaha untuk membuka tralis itu menggunakan alat-alat miliknya. Berkat kerja kerasnya besi itu sudah mulai dapat di taklukkan. 


"Untung aku menyembunyikan peralatan ini di lemari. Masih ada kesempatan untuk kabur," ucap Rihanna pelan. 


"Anda mau kemana, Nona?" 


"Anda berusaha kabur?" tanya si pelayan seraya berjalan mendekat. 


"Aku bosan dan ingin keluar." 


"Memangnya kami sudah memberikan anda izin untuk keluar?" tanyanya dengan sinis. 


"Sampai kapan kalian akan menahanku di sini? Ambil saja apa yang kalian inginkan lalu pergi dari mansion ayahku. Aku benar-benar muak dengan perlakuan kalian padaku. Aku bukan seorang penjahat yang sedang menjalani hukuman!" 


Si pelayan mencengkram erat lengan mulus Rihanna lalu menariknya agar berdiri. Sorot matanya seakan menyuruh Rihanna untuk melihat ke arah pandang si pelayan. 

__ADS_1


Rihanna terpaksa mengikuti arah pandang si pelayan. Tidak lama kemudian tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi di area taman. Kejadian itu terlihat jelas dari tempat kedua wanita itu berdiri. Taman indah itu langsung berantakan. Kedua netra Rihanna membulat sempurna. 


"Itu baru peringatan dan bom berukuran kecil yang kami ledakan. Saya tidak menjamin keselamatan anda jika berani mencoba kabur lagi," ucapnya memperingati dengan nada tegas. 


Pelayan itu melepaskan eratan tangannya di lengan Rihanna lalu melenggang pergi dari sana. Sementara itu, Rihanna hanya mendengus kesal saat rencananya gagal total. 


"Arg!" teriak Rihanna frustasi. 


Perempuan muda itu membalik tubuhnya lalu berjalan ke arah ranjang big size miliknya. Menjatuhkan diri di kasur empuk dengan posisi tertelungkup. Wajahnya disembunyikan di balik bantal. 


Rasa bosan, kesepian, dan marah bercampur aduk di benak perempuan yang penampilannya kini jauh dari biasanya. Sekarang benar-benar tampak sederhana dan lebih terlihat muda sesuai usianya. 


Sementara itu si pelayan langsung mengabari atasannya tentang apa yang baru saja terjadi. Tugasnya di mansion itu hanya melayani Rihanna dan memastikan perempuan muda itu merasa tertekan. 


"Hallo. Maaf, Tuan. Saya mengganggu waktu anda," ucap si pelayan begitu sambungan telepon terhubung. 


"Tidak apa-apa. Kau memiliki kabar apa tentang putriku?" 


"Nona mencoba untuk kabur, Tuan. Sepertinya dia sudah benar-benar merasa jenuh dan tidak betah. Kami terpaksa meledakkan area taman untuk menghentikan ide-ide nekatnya," jelas si pelayan mengabari situasi yang terjadi di mansion.


Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. "Biarkan saja. Pastikan dia tidak membuat kekacauan apapun. Tetap jalankan rencana sebelum dia benar-benar menyadari kesalahannya." 


"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan baik," jawab si pelayan dengan patuh. 


Begitu sambungan telepon terputus, seorang pria paruh baya menatap kosong ke depan dengan senyum getir. "Maafin papa, Rihanna. Papa sengaja melakukan ini agar kamu sadar. Hidupmu sudah terlalu melenceng jauh. Papa tidak ingin kamu menjadi egois seperti papa. Jika dengan kekerasan tidak dapat mengubahmu, papa terpaksa menekan mental kamu." 

__ADS_1


Pria itu terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi kebutuhan oksigen di paru-parunya. Rasa sesal dan bersalah itu masih saja menghantui Rocky. Dia sadar bahwa semua kesalahannya tidak akan pernah bisa ditebus dengan apapun sampai kapanpun. 


"Aku janji Nabila. Putri kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama denganku," tekad Rocky dalam hati. 


__ADS_2