Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Pelajaran Dari Danendra


__ADS_3

Adeline mendengus kesal, "Kau menyebalkan sekali, Dek. Sudahlah, lebih baik tidur sana! Kakak juga mau istirahat." 


'He-he, jangan ngambek, Kak. Aku hanya bercanda.' 


"Iya-iya, kakak matiin teleponnya, yah!" 


'Oke, semoga cepat sembuh, Kak.' 


Panggilan berakhir setelah mereka selesai berbincang. Adeline mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. 


"Gimana, Sayang? Adik kamu mau menurut, 'kan?" tanya Nabila, sambil mengambil kembali ponsel yang diulurkan Adeline. 


"Tenang, Ma. Dia nurut, kok!" 


***** 


Danendra memanfaatkan kesempatan atas pengusiran sang istri tadi untuk datang ke markas. Dia sudah sangat tidak sabar ingin memberi perhitungan kepada seseorang yang sudah berani melukai istrinya. 


Sepanjang langkahnya menuju ruang introgasi, Danendra disambut oleh para anggota ALF yang langsung menundukkan kepalanya saat melihat sang pemimpin menyambangi markas mereka. 


"Tuan muda," sapa dua pengawal yang berjaga di depan pintu ruang introgasi. 


"Gerry ada di dalam?" tanya Danendra, dia berhenti tepat di depan pintu masuk.


Salah satu pengawal segera membuka pintu ruangan tersebut, "Ada di dalam, Tuan. Silahkan masuk," ucap si pengawal. 


Danendra melangkah masuk ke ruangan khusus itu. Saat sampai di dalam, Gerry sedang duduk di sebuah kursi kayu, dengan bersilang kaki. Di kedua jari tangan kanannya tersemat sebatang rokok yang sudah menyala. 


Sadar akan kehadiran sang tuan muda, Gerry segera beranjak. Dia menjatuhkan putung rokok ke bawah, kemudian menginjaknya menggunakan kaki kanan. 


Tuan muda yang rupawan itu terus melangkahkan kakinya mendekati sang tangan kanan. Namun, tatapan matanya terus fokus pada seorang pria sedang berdiri dengan tangan terikat oleh rantai yang tergantung di dua tiang besi. 

__ADS_1


"Hanya dia yang tersisa? Yang lain … mati?" tanya Danendra, sambil menjatuhkan bokongnya di kursi kayu yang sempat diduduki oleh Gerry. 


"Benar, Tuan. Yang lain sudah saya eksekusi di tempat kejadian," jawab Gerry lugas. 


"Lalu kau buang ke mana mayat-mayat itu?" tanyanya lagi.


Dia mengambil sesuatu di saku jaket kulit yang dia kenakan, lalu mengeluarkannya. Laki-laki itu dengan sengaja memainkan benda kesayangannya yang selalu menemani ke manapun dia pergi. 


"Anggota kita mengantarkan mayat-mayat itu ke tempat asal mereka, Tuan." 


"Ke markas Dark Blood," sahut Danendra, sebelah sudut bibirnya terangkat. 


"Benar, Tuan. Meski belum mengintrogasi bedebah itu, saya sangat yakin bahwa ini semua ulah mereka. Saya sengaja mengirim anak buahnya yang telah kehilangan nyawa itu untuk memancing amarah mereka. Jujur, saya lebih suka perang terang-terangan dari pada menghadapi pengecut seperti mereka," ucap Gerry. 


"Kau memang dapat diandalkan, Gerr. Aku tidak pernah menyesal karena memilihmu sebagai tangan kanan," puji Danendra, Gerry hanya menanggapi dengan kekehan kecil. 


Kini Danendra beralih pada si pelaku penusukan Adeline. Pria bertubuh tambun dengan wajah sangar serta rambut ikal tidak terurus itu terlihat mengerikan jika orang lain yang melihatnya. Namun, di mata Danendra, laki-laki itu tidak ubahnya seonggok daging yang tertutup lemak saja. 


Sorot mata Danendra membingkai seluruh tubuh menggelikan itu. Sejenak dia bergidik, melihatnya saja, Danendra merasa jiji pada pelaku itu. Namun, dia tetap harus memberinya pelajaran yang setimpal. 


Si pelaku yang tadi masih memasang ekspresi congkak itu, tiba-tiba saja berubah ekspresi. Wajah sangar itu tiba-tiba terlihat pucat pasi. 


Seringai licik terbit di wajah rupawan Danendra. Laki-laki beranak satu itu beranjak, lalu berjalan perlahan mendekati sang pelaku yang sepertinya sedang merasa ketakutan. 


"Hei, Bedebah. Aku agak bingung harus memberikan bagian mana dulu untuk makan malam ikan peliharaanku itu. Kau punya saran yang menarik tidak? Kau kan yang memiliki tubuh itu, jadi kau pasti yang lebih tahu, bagian mana yang kiranya akan membuat mereka kenyang." Danendra dengan entengnya berkata seperti itu, dia melirik si pelaku yang kakinya mulai bergetar. 


"Tuan, saya tahu saya bersalah. Tapi, tolong jangan siksa saya. Jika anda menginginkan saya tiada, tolong tembak mati saja," pinta si pelaku bertubuh tambun itu. 


Terdengar suara tawa yang menggelegar. Danendra tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan si pelaku. 


"Jika aku mengabulkan permintaanmu, itu terlalu enak untukmu, dong! Lalu aku tidak dapat keuntungan apapun," kata Danendra, dia memainkan pisau lipatnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyugar rambutnya ke belakang. 

__ADS_1


"Saya harus melakukan apa agar anda mau memaafkan saya?" tanya si pelaku dengan nada bergetar. 


"Jika kemarin kau berhasil menusukku, dan bukan menusuk istriku, aku masih bisa mengampunimu. Sayangnya, kau menusuk istriku, jadi, tidak ada maaf untukmu." 


"Itu terjadi karena kecerobohan istri anda sendiri, Tuan. Saya tidak bersal … argh!" 


Ucapan itu berganti dengan suara teriakan kesakitan. Danendra yang mulai terpancing karena si pelaku justru menyalahkan Adeline, langsung melemparkan pisau miliknya hingga mengenai paha kanan si pelaku. 


"Berani sekali kau menyalahkan istriku!" bentak Danendra, kedua mata laki-laki itu memerah setelah terbakar amarah. 


"Ma-af, Tu-an," kata si pelaku terbata. 


Danendra kembali mengayunkan langkahnya hingga mengikis jarak antara dirinya dan si pelaku. Ketika dia berada tepat di hadapan pelaku itu, Danendra dengan cepat menekan pisau yang menancap di paha pelaku itu dengan keras. 


Si pelaku berteriak kesakitan. Beberapa kali dia meminta pengampunan dari laki-laki yang sedang menyiksanya itu. Namun, Danendra sama sekali tidak memerdulikan permintaan maaf dari pelaku. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun.


"Sakit?" tanya Danendra seraya mendekatkan wajahnya pada wajah si pelaku. 


Si pelaku pun mengangguk, berharap laki-laki yang sedang menyiksa dirinya itu akan berbaik hati melepaskan dia. Namun, di luar dugaan, Danendra justru menarik pisau itu hingga terlepas dari paha laki-laki malang itu. 


"Kau tahu, rasa sakit yang aku berikan padamu, tidak sebanding dengan apa yang aku dapatkan tadi. Kau menghancurkan duniaku saat punggung istriku terluka oleh tangan kotor  ini." Danendra kembali menancapkan pisau yang sudah berlumuran darah itu ke tangan kiri pelaku itu. 


Ruangan itu dipenuhi oleh suara erangan kesakitan dari orang yang sedang diberi pelajaran oleh Danendra. Gerry hanya menjadi penonton setia sang tuan muda yang sudah keluar jiwa psikopatnya. 


"To-long, am-puni sa-ya, Tu-an," mohon si pelaku, darah sudah berceceran dimana-mana. 


Jiwa psikopat yang bangkit setelah sekian lama terpendam itu seperti tidak ada puasnya melihat ekspresi dan teriakan kesakitan itu. Danendra kembali mencabut pisau itu. Lagi-lagi si pelaku mengerang kesakitan. 


"Tu-an, to-long maaf-kan saya, saya bersedia menjadi anggota klan anda yang setia," ucapnya memohon. 


"Cih! Anggota klan-ku tidak ada yang lemah sepertimu hingga meminta pengampunan dari musuh. Mereka berani mati demi mempertahankan harga diri! Lagi pula, Dark Blood tidak sebanding dengan ALf Group." Danendra menolak mentah-mentah penawaran dari pelaku penusukan Adeline. 

__ADS_1


"Tuan, anda terlalu lama membuang waktu dengan melayani obrolan dari laki-laki sampah sepertinya. Saya rasa, ini sudah waktunya makan malam ikan peliharaan anda." Gerry berkata, sambil menunjukkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. 


"Kau benar. Masukan dia ke kolam ikan! Kalau perlu, rekam apa yang kita berikan padanya dan kirimkan vidionya pada Dark Blood. Biar mereka pikir panjang jika ingin bermain-main denganku!" 


__ADS_2