
Beberapa hari mendapat perawatan di rumah sakit, akhirnya ibu Celine sudah diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan agar ibu Celine rutin menjalani rawat jalan.
Kini mereka berempat sedang berada di mobil. Gerry menjemput sang calon mertua di rumah sakit. Mobil yang dikendarai oleh Gerry melaju membelah jalanan yang cukup padat.
Ketiga wanita di dalam mobil itu merasa heran karena jalan yang mereka lalui justru berlawanan arah dengan tempat tinggal mereka.
"Kamu mau bawa kita ke mana, sih?" tanya Celine heran.
"Ke tempat tinggal baru kalian," jawab Gerry singkat.
"Hah! Tempat tinggal baru?"
"Iya. Kalian akan tinggal di apartemenku," balas Gerry.
"Kita tinggal bareng?" tanya Celine dengan mata melotot.
Gerry menoleh, lalu mencubit gemas pipi si calon istri, "Pikirannya udah ke sana aja. Apartemenku ada dua, Cel."
Celine mencebikkan bibirnya saat Gerry mencubitnya. "Sakit tahu," keluhnya seraya mengelus bekas cubitan Gerry.
"Dih, kakak drama," sahut Mawar yang duduk dibelakang bersama ibunya.
"Ih, anak kecil diam aja!" sungut Celine.
"Biarin anak kecil juga mau kerja di perusahaan besar, loh!" seru Mawar bangga.
"Dih! Pakai orang dalam aja bangga." Bibir boleh mencibir, tetapi sebenarnya Celine pun ikut senang atas perkembangan sang adik.
"Kalian ini enggak ada hari tanpa berantem, deh! Berisik terus. Kasihan Gerry," tegur si ibu menasehati kedua anaknya.
"Eh, enggak apa-apa, Bu. Mereka lebih lucu kalau kaya gini. Kalau lagi akur malah ngebosenin," sahut Gerry yang seketika membuat mobil itu dipenuhi dengan suara tawa.
Gerry sekilas menatap Celine yang tertawa bahagia. Sedikit rasa bersalah hadir dalam hatinya, dia takut jika suatu saat nanti Celine tahu bahwa dia hanya memperalat dirinya untuk membuktikan pada Indira bahwa ucapan wanita itu tidak benar.
"Maaf, Cel. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain," batin Gerry tersenyum kecut.
"Nak Gerry, kenapa harus membawa kita pindah ke apartment?" tanya si ibu Celine.
__ADS_1
"Saya ingin kalian lebih nyaman, Bu. Kemarin saya ikut Celine ke tempat tinggal kalian. Saya rasa tempat itu sangat tidak layak ditempati," jawab Gerry dengan nada hati-hati, takut jika salah satu dari mereka tersinggung.
Ibu Celine tersenyum, "Kamu memang anak yang baik, Nak. Orang tua kamu pasti mendidik kamu dengan baik," ucap ibu Celine yang tidak tahu bagaimana kisah hidup Gerry.
"Maaf, Bu. Tapi orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih kecil," ungkap Gerry.
"Astaga, maaf, Nak. Ibu tidak tahu," balas ibu Celine tidak enak hati.
Mereka pun akhirnya sampai di apartment Gerry yang sempat menjadi tempat tinggal Indira. Pria itu sudah mengeluarkan semua barang-barang dan semua yang ada di dalamnya. Dia sudah memerintahkan seseorang untuk mengganti semua itu dengan barang-barang baru. Tempat itu bahkan sudah dicat ulang untuk menghilangkan jejak keberadaan Indira di tempat itu.
Ketika baru saja masuk ke dalam apartement, Mawar dan ibunya sempat tertegun. Mereka cukup kaget dengan luas dan mewahnya tempat tersebut.
"Kakak serius mau kita tinggal di sini?" tanya Mawar kepada Gerry.
"Untuk sementara waktu, nanti kalau rumahnya sudah jadi, kita akan tinggal bersama," jawab Gerry yang semakin membuat Mawar menganga.
Gadis berusia 22 tahun itu sedang membayangkan bagaimana rumah yang sedang dibangun oleh kakak iparnya. Apartemennya saja bisa semewah ini, apa lagi rumahnya. Begitulah kira-kira pendapat Mawar.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Celine yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tidak ada yang berlebihan untuk keluargaku, Cel. Semua sudah sesuai dengan porsinya," jawab Gerry lugas.
"Gampang lah, Kak."
"Oke, kalau gitu aku pamit mau kerja dulu, yah! Kalian baik-baik di sini," pamit Gerry pada calon istri serta keluarga barunya.
"Ya sudah, hati-hati, Nak Gerry."
"Iya, Bu."
"Bu, Celine antar Gerry sampai depan dulu, yah?"
Si ibu mengangguk setuju, Celine pun berjalan bersama Gerry keluar dari apartemen. Mereka berhenti setelah berada di depan lift.
"Ger, aku mau minta izin. Nanti aku kembali ke tempat tinggal yang lama dulu sebentar," ucap Celine tiba-tiba.
"Mau apa ke sana?" tanya Gerry heran.
__ADS_1
"Mau ambil pakaianku, Mawar, dan Ibu," jawabnya jujur.
"nggak perlu, Cel. Aku sudah suruh orang buat belikan kalian pakaian baru," jelas Gerry.
"Ya ampun. Pakaian kami di sana masih layak pakai, kok! Ngapain beli yang baru, sih? Apa itu enggak pemborosan?" omel Celine pada calon suaminya.
"Kamu tenang saja. Uangku tidak akan habis hanya karena membelikan kamu dan keluarga kita pakaian," jawab Gerry dengan santai. Celine sampai menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu, Ger. Tapi kamu terlalu memanjakan kami," ucap Celine yang merasa terlalu di spesialkan.
"Enggak ada salahnya aku memanjakan kalian, Cel. Untuk apa aku bekerja keras jika keluargaku nanti tidak bahagia?"
"Kebahagiaan tidak selalu tentang uang, Ger. Hanya dengan kamu selalu ada untuk kami pun itu sudah lebih dari cukup."
Gerry tersenyum, "Ternyata apa yang dikatakan oleh tuan muda memang benar. Kamu bukan wanita yang memikirkan materi meski kamu hidup dalam keterbatasan," batin Gerry bangga.
"Aku tahu, kok! Tapi biarkan aku berusaha membahagiakan kalian dengan caraku. Aku janji, aku akan selalu ada untuk kalian," ucap Gerry tulus.
"Baiklah. Tapi jangan terlalu berlebihan, yah, Ger. Aku takut akhirnya kami menjadi beban untuk kamu."
Gerry membelai lembut puncak kepala calon istrinya, "Kamu tenang saja. Aku tahu apa yang terbaik untuk kehidupanku," ujarnya lembut.
Sebenarnya Gerry sengaja memperlakukan Celine dengan cara itu untuk menguji calon istrinya. Sempat dikecewakan oleh Indira membuat Gerry tidak ingin mengulang keputusan yang salah lagi.
"Ya sudah, katanya kamu mau kerja," balas Celine mengingatkan calon suaminya.
"Baiklah. Kamu jaga diri baik-baik, yah! Aku kerja dulu," pamitnya pada Celine.
Setelah berpamitan kepada calon istrinya, Gerry pun masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Dia buru-buru harus segera kembali ke perusahaan karena tuan mudanya sudah menunggu di sana.
Ketika Celine sedang berdiri dengan tatapan tertuju pada lift yang membawa Gerry pergi, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menjambak rambut Celine cukup kuat. Celine bahkan sampai tertarik mundur beberapa langkah.
"Oh, jadi kamu yang sudah merebut Gerry dariku!" seru seseorang dari belakang.
Merasakan sakit akibat jambakan itu, Celine pun berusaha menggapai tangan seseorang yang belum dia ketahui itu. Saat berhasil menggapainya, Celine menarik kasar tangan itu hingga terlepas dari rambutnya meskipun Celine harus merasakan sakitnya saat beberapa helai rambutnya ikut tercabut paksa.
Celine memiting tangan seseorang yang tadi sempat menjambak ya itu ke belakang. "Siapa Lo, dan apa maksud Lo gue ngerebut Gerry dari elo?" tanya Celine geram.
__ADS_1
"Gara-gara elo, Gerry batalin rencana pernikahan kita. Elo udah ngerusak hidup gue!" teriak si wanita kesakitan. "Lepas!" bentaknya berusaha melepaskan diri. Namun, tidak berhasil.