Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Devandra Putra Alefosio


__ADS_3

Danendra melangkah terburu-buru keluar dari bandara. Di luar Gerry sudah menunggu kedatangan sang tuan muda di samping mobilnya. Begitu melihat Danendra sudah berjalan menuju ke arahnya Gerry pun langsung membuka pintu mobil. 


Tanpa berkata apapun Danendra masuk ke mobil. Gerry sangat paham perasaan sang tuan muda ketika melihat ekspresi wajah laki-laki itu begitu khawatir. 


Gerry menyusul masuk ke kemudi setelah memastikan tuan mudanya telah memakai seatbelt. Mobil berjenis Mercedes Benz C-Class itu melaju kencang. 


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Danendra dengan nada datar. 


"Nyonya muda mengalami pendarahan setelah melakukan operasi, Tuan. Tetapi anda tidak perlu terlalu khawatir. Keadaan nyonya muda sudah lebih baik setelah mendapat transfusi darah dari Nyonya Nabila," jelas Gerry tanpa ada yang terlewat. 


"Bukankah perkiraan lahir anakku masih 2 Minggu lagi, Gerr? Kenapa dia keluar ketika ayahnya sedang berada jauh darinya?" tanya Danendra dengan tatapan nanar. 


Laki-laki itu merasa sangat menyesal karena tidak dapat mendampingi sang istri ketika berjuang melahirkan anak pertama mereka. Penyesalan itu lebih menyesakkan dada ketika mengingat sang istri pernah melarang dia saat akan berangkat. 


"Dokter bilang itu sesuatu yang wajar, Tuan. Bayi tidak selalu lahir pas pada perkiraan kelahiran. Bisa maju ataupun mundur tergantung dari kondisinya," tutur Gerry sambil melirik tuan mudanya lewat spion mobil. 


Mobil yang dikendarai oleh Gerry kini sudah sampai di halaman rumah sakit. Danendra segera keluar bahkan sebelum mobil itu benar-benar dalam keadaan berhenti. Laki-laki itu sudah sangat mengkhawatirkan sang istri. Selain itu dia juga ingin memohon ampun pada wanita yang sudah memberinya satu keturunan tersebut. 


Danendra berlari melewati lorong-lorong rumah sakit tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap ke arahnya. Yang saat ini menjadi prioritas utamanya adalah segera melihat sang istri dengan mata kepalanya sendiri. 


Langkah Danendra terhenti saat sampai di depan ruang rawat Adeline. Tangan kanannya meraih handle pintu lalu membukanya. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka. 


Alefosio yang awalnya sedang fokus pada wajah tampan sang cucu seketika mengubah ekspresi wajahnya dari ceria menjadi murka saat melihat kedatangan putra tunggalnya. 


Laki-laki paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya lalu melangkah mendekati Danendra. Tanpa berkata sepatah katapun Alefosio mendaratkan pukulan keras di wajah sang putra. 


"Anak sia*lan. Masih berani kau menampakkan diri di depanku." Umpatan bernada sarkas itu tentu tertuju untuk Danendra. 


Danendra yang sempat akan terjatuh setelah mendapat serangan mendadak di wajah dari sang ayah hanya mampu menunduk. Dia sadar atas kesalahannya yang membuat Alefosio murka. 

__ADS_1


"Papa, jangan pukul Nendra!" jerit Adeline saat melihat sang mertua akan kembali menyerang suaminya. 


Kepalan tangan itu melayang di udara tanpa mendapatkan landasan untuk mendarat. Alefosio memandang wajah Adeline yang terlihat begitu cemas. Sedangkan Danendra hanya mampu diam tanpa berniat membela diri. Dengan terpaksa pria paruh baya itu menurunkan kepalan tangannya. 


Masih dengan amarah yang memuncak, karena merasa kecewa dengan perbuatan anaknya sendiri Alefosio sebenarnya ingin menghajar habis-habisan Danendra. Namun, dia sadar bahwa apa yang sedang dia lakukan membuat sang menantu ketakutan. 


"Urusan kita belum selesai!" seru Alefosio lirih yang hanya bisa di dengar oleh Danendra saja. 


Pria paruh baya itu melenggang pergi dari ruangan rawat sang menantu. Sementara itu, Danendra baru berani mengangkat wajahnya saat sang ayah sudah pergi dari sana. 


Bukannya marah, Adeline justru mengulas senyum lebar saat sang suami menatapnya. Senyuman manis sang istri semakin membuat hati Danendra tersayat. Pedih sekali ketika melihat ketabahan hati isterinya. Dia sempat berpikir bahwa Adeline mungkin akan membencinya. Namun, nyatanya hal itu tidak terjadi.


"Nendra, kenapa malah bengong di sana? Kamu tidak ingin melihat putra kita?" tanya Adeline ketika sang suami belum juga beranjak dari tempat berdirinya. 


Buru-buru Danendra mengayunkan langkah untuk mendekati sang istri tercinta dan juga buah hati mereka. Danendra lebih dulu menabrakkan diri ke pelukan hangat sang istri. 


Laki-laki itu menggeleng, ketika dia mengangkat kepalanya laki-laki itu buru-buru menyeka air mata yang sudah lancang keluar dari persembunyiannya. 


"Aku tidak menangis," jawab Danendra memaksa bibirnya untuk tersenyum. 


Tangan mungil Adeline terulur lalu membelai lembut rahang suaminya yang sempat menjadi landasan pacu pukulan keras sang mertua. Wanita dewasa itu merasa kasihan kepada suaminya yang harus menerima amukan dari ayah kandungnya sendiri. 


Kedua wanita paruh baya yang masih berada di ruangan itu saling pandang ketika melihat Adeline dan Danendra tengah saling melepas rasa rindu. Sebagai orang tua, mereka paham bahwa keduanya membutuhkan waktu untuk mengobrol dari hati ke hati. 


"Elin, Nendra, kita tinggal keluar dulu, yah." 


Mereka berpamitan setelah menaruh pewaris semua kekayaan dan tahta keluarga Alefosio ke sebuah box bayi yang terletak tidak jauh dari ranjang Adeline. 


"Iya, Ma. Terima kasih," jawab Adeline. 

__ADS_1


Kini di ruangan itu hanya tersisa Adeline, Danendra dan buah hati mereka. Danendra masih memandang raut wajah istrinya yang sama sekali tidak tampak merajuk ataupun marah kepadanya. 


"Maaf, ya, gara-gara aku, kamu jadi dipukul oleh papa." 


Danendra menahan tangan sang istri yang masih membelai wajahnya dengan sangat lembut. Wanita yang dulu pernah menolaknya itu kini lebih perhatian dan begitu pengertian kepadanya. 


"Aku yang seharusnya meminta maaf, Sayang. Maaf karena aku tidak menemani kamu berjuang," ucap Danendra penuh sesal. 


"Sudah ya, jangan dibahas lagi. Yang terpenting aku dan anak kita sekarang sudah sangat sehat." 


"Aku memang suami tidak berguna, Sayang. Maaf," ujar Danendra yang masih saja membahas perkara itu. 


Adeline yang kebetulan masih memegang rahang suaminya langsung menarik pelan wajah suaminya lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir laki-laki tercintanya itu. 


Danendra tersenyum kecut saat mendapat perlakuan yang begitu hangat dari istrinya. Dia akan lebih lega jika wanita yang sudah memberinya satu anak itu marah, memaki atau bahkan memukulnya sebagai balasan. 


"Dari pada sibuk membahas permasalahan yang sudah terjadi, lebih baik kamu gendong anak kita, Sayang. Dia sangat mirip dengan kamu," tutur Adeline setelah berhasil membuat sang suami bungkam. 


Danendra menurut, laki-laki itu segera membalik tubuhnya dan berjalan menuju box bayi yang menjadi tempat tidur sang putra. Begitu melihat bayi laki-laki yang sangat tampan dan bersih itu terlelap, Danendra terdiam menatap penuh haru malaikat kecil yang kini hadir di kehidupannya. 


Sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya beberapa tahun silam. Jangankan memiliki keturunan, untuk menikah saja dia sama sekali tidak memiliki rencana. Beruntung takdir mempertemukan dia dengan seorang wanita yang berhasil mengubah pendiriannya untuk melajang seumur hidup. 


"Nendra, kamu sudah siapkan nama untuknya?" 


Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Dia meraih sang putra untuk dia gendong. Meski untuk pertama kalinya dia memegang seorang bayi yang masih merah, entah kenapa rasanya begitu nyaman dan seolah dia tidak rela untuk melepaskan bayi itu dari dekapannya. 


"Devandra putra Alefosio," jawab Danendra sambil bergantian menatap wajah tampan putranya dan wajah cantik sang istri yang tersenyum manis. 


__ADS_1


__ADS_2