
Meskipun kesal dengan olokan sang istri. Namun, Malik tidak memperdulikan hal itu. Kini Malik justru diam. Kedua netra terang itu menatap lekat wajah istrinya yang semakin cantik dengan balutan hijab.
Ditatap seperti itu oleh suaminya, Rihanna pun salah tingkah. Dia mengira sang suami menatap dirinya seperti itu karena dia yang terlihat aneh.
"Malik," panggil Rihanna lirih, tangannya berusaha merapikan kain yang menutupi rambut indahnya.
"Em," jawab Malik singkat, sorot matanya masih tertuju pada Rihanna.
"Apa ada yang salah? Aku aneh ya, pakai ini?" tanya Rihanna yang tiba-tiba merasa kurang percaya diri.
Malik menggelengkan kepalanya pelan, senyum hangat terlukis indah dibibir laki-laki berparas tampan itu. "Kamu cantik, Hunny," puji Malik, tangannya tiba-tiba terulur lalu menyentuh dagu sang istri menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Lagi-lagi rona merah muncul dipipi Rihanna. Akhir-akhir ini Malik lebih sering memujinya dengan kata-kata yang mungkin menurut orang lain biasa saja. Namun, untuk Rihanna yang memang tidak pernah memiliki kedekatan dengan pria lain selain Danendra yang selalu mengacuhkan dirinya, tentu saja kata-kata itu seperti lemparan granat yang langsung membuat hatinya meledak.
Semakin hari, Rihanna merasa hidup berdampingan dengan Malik seperti sedang menjelajahi rumah hantu. Banyak sekali kejutan tidak terduga yang membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
Rihanna masih diam, tersipu malu. Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa Malik semakin mendekatkan wajah tampan itu ke wajah cantiknya. Keduanya semakin dekat, hingga Malik tanpa aba-aba langsung menempelkan bibirnya ke bibir sang istri.
Wanita hamil itu baru tersadar saat kedua bibir mereka sudah berpaut satu sama lain. Perlahan-lahan Rihanna memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan lembut dari suami tercinta.
"Astaga, Malik. Kenapa sekarang hobi sekali menyerangku tiba-tiba begini, sih? Dia tidak tahu kalau jantungku semakin tidak aman." Rihanna membatin, tangannya yang sejak tadi menggantung kini naik ke atas, dia melingkarkan tangannya di leher sang suami.
"Kay, aku ingin membuat kamu jatuh cinta berkali-kali padaku, hingga tidak akan ada lagi celah untuk kamu jatuh cinta pada orang lain," batin Malik dalam hati.
Ketika mereka sedang menikmati kehangatan cinta di pagi hari, kegiatan mereka terpaksa berhenti saat terdengar suara ketukan pintu. Malik melepaskan pagutannya, lalu sedikit memberi jarak antara mereka, sedang Rihanna seketika membuka kedua mata yang sejak tadi terpejam. Malik tertawa kecil saat melihat wajah istrinya yang merah merona.
"Kenapa masih aja merona kalau aku mencium kamu, Hunny?" tanya Malik, tangannya kembali terulur dan mendarat di wajah Rihanna. Dia mengusap sudut bibir istrinya yang sedikit basah akibat ulahnya menggunakan ibu jari.
__ADS_1
"Karena kamu selalu memberikan serangan tiba-tiba, Hubby."
"Apa aku harus minta izin dulu sebelum mencium kamu?"
"Bukan itu –"
Ketukan pintu yang terdengar semakin keras, disusul oleh suara seorang wanita yang memanggil nama Malik dan Rihanna bergantian, kembali membuat pembicaraan mereka terpotong.
Malik menoleh ke arah pintu yang terus saja diketuk, suara sang ibu juga terus memanggil namanya dan sang istri. Dia berniat untuk berjalan menuju pintu, tetapi Rihanna menghentikan langkahnya.
"Biar aku saja, Hubby," ucap Rihanna, sambil menahan pergelangan tangan suami tercinta.
"Ya sudah, aku mandi dulu, yah!"
Rihanna mengangguk setuju, lalu melepaskan pergelangan tangan Malik yang sempat ditahan olehnya. Dia berjalan pelan menuju pintu kamar. Sementara itu, Malik langsung melenggang masuk ke kamar mandi.
"Iya, Mam. Sebentar!" Rihanna memutar kunci pintu, kemudian membukanya.
Begitu pintu kamar terbuka, Riani tertegun melihat penampilan baru sang menantu. Wanita yang sedang mengandung benih keturunannya itu terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan pakaian panjang yang tidak memperdulikan lekuk tubuhnya, serta hijab berwarna senada dengan gaun yang dipakai.
"Ada apa, Mam?" tanya Rihanna bingung, mertuanya itu masih diam tidak mengeluarkan sedikitpun suara.
"Ini benar-benar Rihanna, – menantuku?" tanyanya dalam hati.
"Mam!" seru Rihanna, tangannya menyentuh pelan bahu sang mertua hingga wanita paruh baya itu sedikit terjingkat kaget.
"Hah!" seru Riani terkejut.
__ADS_1
"Mami kenapa?" tanya Rihanna mengulang pertanyaannya.
"Em, mami enggak apa-apa. Rihanna, ini beneran kamu?"
"Iya, Mam. Ini Rihanna. Apa ada yang aneh?"
"Enggak, kamu cantik, Sayang!"
Seketika Rihanna mengulas senyum lega. Dia mengira penampilannya benar-benar tidak cocok. Namun, jawaban suami serta mertuanya sama-sama berisi pujian bahwa dirinya semakin cantik.
"Kamu bisa pakai hijab, siapa yang ajarin? Mami kan belum ngajarin kamu."
"Rihanna lihat tutorial di internet, Mam. Di sana banyak banget model hijab yang cantik-cantik. Tapi, Rihanna baru bisa pakai seperti ini," jelas Rihanna.
"Oh, Malik udah lihat?"
"Udah, Mam."
"Terus dia bilang apa?"
Rihanna kembali tersipu saat mengingat pujian sang suami tadi. Rona merah di wajah sang menantu tentu dapat dibaca oleh Riani dengan baik.
"Malik bilang, Rihanna seperti … bidadari, Mam," ucapnya jujur, nadanya lirih hampir tidak terdengar.
"Bidadari surga untuk Malik." Riani menggoda sang menantu, hingga pipi wanita berperut buncit itu semakin merah bak tomat matang.
__ADS_1