
Sudah hampir satu Minggu Antonio dibuat pusing oleh ulah Grasiella yang ternyata menyimpan keburukan yang bukan hanya mempermalukan diri sendiri, tetapi juga mencoreng aib di nama baik keluarga mereka.
Selama itu juga Grasiella juga belum pernah menampakkan batang hidungnya. Wanita itu masih saja bersembunyi di sebuah hotel tanpa berani keluar dari ruangan itu. Saking malunya, dia bahkan selalu memesan makanan yang hanya dia minta si pelayan untuk menaruhnya di depan pintu kamar hotelnya.
Sebenarnya alasan Antonio mencari sang putri bukan hanya karena marah kepada wanita itu, tetapi dia juga merasa khawatir dan takut jika terjadi hal-hal tidak diinginkan.
"Pa, apa belum ada kabar? Mama khawatir kalau dia melakukan hal-hal nekat yang membahayakan dirinya, Pa. Ini semua pasti karena dia frustasi oleh kelakuan Richard yang ternyata memiliki wanita lain," ujar Monica yang duduk di samping suaminya.
"Belum ada kabar apapun, Ma. Papa juga bingung harus mencarinya kemana!" seru Antonio frustasi. Laki-laki itu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Coba papa minta tolong Nendra, Pa. Dia pasti bisa membantu kita mencari Ella," ucap Monica memberi saran.
Antonio diam tidak menjawab apa yang disarankan oleh sang istri. Sudah sejak dia meminta tolong tentang saham saja, Adeline sama sekali belum menghubunginya. Lalu sekarang dia kembali harus meminta tolong pada mereka. Mau ditaruh dimana wajahnya yang tampan rupawan itu.
"Papa, kok malah melamun!" Monica mengguncangkan tubuh suaminya karena kesal.
__ADS_1
"Iya-iya, nanti aku coba minta tolong pada Nendra."
Pada akhirnya Antonio benar-benar datang ke mansion sang besan untuk pertama kalinya. Monica sempat tertegun ketika melihat istana besar yang sekarang menjadi tempat tinggal anak angkat yang selama ini dia remehkan.
Wanita paruh baya itu sekarang sedang duduk berdampingan dengan suaminya yang sama-sama sedang memperhatikan sekelilingnya. Semua barang-barang yang ada disana adalah barang yang pastinya berharga fantastis.
Saat Adeline berjalan menuruni tangga digandeng oleh sang suami, kedua orang tua yang selalu memberikan luka untuknya itu sedang menatap ke kanan dan ke kiri. Kedua pasang netra itu seperti sedang berkeliling mencari atau mengamati sesuatu.
"Elin," sapa Monica saat melihat Adeline sudah sampai di anak tangga terakhir.
Istri tercinta Danendra itu sama sekali tidak berniat menjawab sapaan dari wanita yang dari dulu selalu menganggap dirinya sebagai beban.
"Tumben kalian datang. Memangnya masih ingat pada anak pungut ini?" tanya Adeline dengan sindiran.
"Ke-napa bicara seperti itu, Elin? Mama dan papa merindukan kamu," ujar Monica tanpa rasa malu sedikitpun.
__ADS_1
"Kalian, rindu pada anak pungut sepertiku? Wah-wah-wah." Adeline bertepuk tangan. "Sayang, memangnya di luar baru saja ada badai?" tanya Adeline beralih pada suaminya.
"Cuaca sedang bagus, Sayang. Sama seperti suasana hati kamu," jawab Danendra seraya mengecup singkat pipi istrinya.
"Tapi … kenapa tiba-tiba mereka bilang rindu padaku? Bukankah kamu juga pernah jadi saksi bahwa mereka sudah membuang anak pungut ini, Sayang?" Adeline bergelayut manja di lengan Danendra.
Antonio mengepalkan kedua tangannya, sedangkan Monica menatap tajam ke arah Adeline yang tiba-tiba bersikap kurang ajar padanya.
"Elin, kamu jangan kurang ajar! Papa datang kemari karena ingin tahu kabar kamu. Lalu apa yang papa dapatkan? Hanya cacian dari anak yang papa asuh dari kecil."
Adeline menatap remeh Antonio yang seolah-olah mengungkit masa lalu mereka yang sudah terlewat. "Papa bilang papa yang mengasuhku sejak kecil? Tapi yang aku ingat, hanya nenek dan kakek yang menyayangiku dengan tulus!"
"Stop, Elin. Kamu semakin kurang ajar!" bentak Monica dengan suara tinggi.
"Jangan pernah berani membentak istriku jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian." Danendra menebar ancaman yang tidak main-main.
__ADS_1
"Ayo, Ma. Kita pulang saja. Sepertinya anak itu memang sudah menemukan tempat bernaung yang tepat, makanya berani merendahkan kita." Antonio mengajak sang istri untuk segera pergi.
"Kenapa buru-buru? Kalian bahkan belum mengatakan maksud kalian datang kesini. Aku juga punya kejutan untuk anda, Tuan Antonio!"