
Silvia yang kebetulan sedang lewat tanpa sengaja mendengar keributan yang berasal dari kamar Danendra dan Adeline yang ternyata pintunya tidak tertutup rapat. Penasaran, akhirnya Silvia mengintip dari celah pintu tersebut. Kedua mata wanita paruh baya itu membulat sempurna ketika melihat sang menantu tengah menyakiti dirinya sendiri, sementara sang putra berusaha untuk menghalangi kegilaan sang istri.
Khawatir jika terjadi hal yang tidak di inginkan, Silvia memutuskan untuk masuk ke kamar sang anak. Wanita paruh baya itu berlari mendekat dengan ekspresi wajah cemas.
"Elin kenapa, Nendra?" tanyanya kepada sang putra.
"Sepertinya Adel frustasi, Ma. Dia memukuli dirinya sendiri agar bisa melupakan keluarganya," jawab Danendra tanpa mengalihkan pandangan, pria itu sekuat tenaga menahan Adeline yang saat ini justru terasa lebih kuat meronta.
"Sayang, plis jangan seperti ini. Aku mohon, tenanglah!" bujuk Danendra untuk kesekian kalinya.
Merasa kasihan kepada menantunya, Silvia mengambil posisi duduk di samping sang menantu. Tangan kanannya mengulur lalu menarik Adeline ke dalam dekapannya. Danendra yang awalnya memegang sang istri, membiarkan wanita dewasa itu untuk berada di pelukan hangat Silvia.
"Elin, bukankah mama juga keluarga kamu?" tanyanya dengan lembut disertai usapan lembut di punggung sang menantu yang masih berusaha melepaskan diri.
"Mama dan papa janji, Elin, kami akan menyayangi kamu selayaknya putri kandung kami," ujarnya tulus.
Silvia tetap berusaha menenangkan sang menantu menggunakan kata-kata lembut serta sentuhan penuh kasihnya. Kini perlahan Adeline mulai tenang, wanita dewasa itu tidak lagi berusaha menyakiti diri sendiri.
Sang mertua kini sedikit melonggarkan pelukannya. Kedua tangan itu saat ini menangkup wajah menantu yang basah oleh air mata. Wanita yang masih terlihat muda meski sudah berumur itu mengulas senyum untuk menguatkan Adeline.
"Jika mereka tidak menginginkan kamu, ada Nendra, mama, dan papa yang menginginkan kamu," ujarnya lembut.
Adeline masih sesegukan meski sudah berhasil menghentikan tangis. Hati serta pikirannya juga sudah sedikit tenang setelah mendapat nasihat dari mertuanya.
"Kamu istirahat saja, Sayang. Jangan pikirkan apapun lagi," lanjutnya seraya membantu sang menantu untuk merebahkan diri serta menyelimutinya.
Ketika menyelimuti Adeline, tanpa sengaja Silvia melihat sesuatu di balik celana pendek Adeline, tepatnya di area pangkal paha. Namun, wanita itu enggan bertanya tentang sesuatu yang tersembunyi itu.
Karena telah berhasil menenangkan sang menantu, Silvia kembali ke kamarnya sendiri. Wanita beranak satu itu menemui sang suami yang tengah bersantai di dalam kamar sambil menunggu matanya terpejam.
__ADS_1
Ketika sang istri datang Ale menyambut sang istri dengan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh sang istri. Pria paruh baya itu menepuk ruang kosong di samping untuk sang istri ikut bersantai bersamanya.
"Dari mana, Sayang?" tanya Ale kepada sang istri sambil mengecup sekilas pipi Silvia.
"Dari kamar Nendra, Pa. Elin tadi histeris, entah dia kenapa lagi," jawab sang istri.
"Mungkin dia sedang berperang dengan dirinya sendiri, Ma. Nanti juga tenang jika sudah berhasil berdamai dengan hatinya," tutur Ale, pria itu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Iya, Pa. Kita juga harus membantunya untuk bangkit," ujar Silvia yang kini bersandar di dada terbuka suaminya.
Kedua pasangan itu memang masih sangat harmonis meskipun usia mereka sudah tidak bisa di bilang muda lagi. Mereka sangat saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Di antara mereka juga tidak ada sedikitpun rahasia.
"Kamu juga kenapa? Aku perhatikan beberapa hari ini kamu seperti sedang ada pikiran? Aku tidak mau kamu memiliki beban apapun, Sayang." Ale memang sudah curiga dengan sikap sang istri yang kini sering melamun.
"Em, aku memang sebenarnya ingin meminta bantuan kamu, Yang, tapi belum memiliki waktu karena aku lihat kamu sering sibuk."
Pria itu membelai puncak kepala istrinya. "Sesibuk apapun aku, seharusnya kamu jangan menanggung beban seorang diri. Jika kamu enggan berbicara padaku, katakan saja pada Nendra, Sayang. Kami tidak ingin kamu memiliki beban apapun," ujar Ale seraya mengecup istrinya beberapa kali.
"Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Yang terpenting sekarang kamu harus bersikap lebih baik lagi pada menantu kita, kasihan dia. Hidupnya hanya dianggap seperti sampah oleh keluarga terdahulu," timpal Ale yang tidak ingin istrinya larut dalam penyesalan.
"Iya, Sayang. Itu pasti, aku akan menyayanginya seperti putri kandungku sendiri," jawab Silvia penuh tekad.
"Lalu masalah apa yang sedang mengganggu kamu, Sayang?" tanyanya kembali fokus pada pembicaraan sebelumnya.
"Kamu pasti tahu Nabila, 'kan?"
Ale mengangguk cepat karena memang wanita itu adalah sahabat satu-satunya sang istri sejak dulu, bahkan sebelum mereka menikah pun dia sudah mengenal wanita yang terkenal pendiam itu.
"Papa tahu tentang kejadian yang dulu dialami oleh Nabila?" tanya Silvia lagi.
__ADS_1
"Yang mama bilang dia di perk*sa preman itu?" Ale memastikan bahwa ingatannya tidak salah.
"Iya, setelah kejadian itu, Nabila hamil dan di sembunyikan oleh keluarganya di suatu tempat. Sembilan bulan berikutnya dia melahirkan seorang anak, yang mama tahu dia adalah seorang anak laki-laki tapi meninggal setelah lahir."
"Lalu apa masalahnya?" tanya Ale dengan kedua alis bertaut.
"Sekarang baru terungkap bahwa hal itu hanyalah karangan, Pa. Anak Nabila tidak meninggal, dia justru dibuang oleh Daddy," ungkap Silvia menceritakan dengan berapi-api.
"Daddynya Nabila maksud kamu?" tanya Ale memastikan.
"Iyalah! Masa Daddyku!" seru Silvia yang tiba-tiba kesal, suaminya ini kenapa tidak sepandai biasanya.
"Jangan marah-marah." Ale memeluk erat sang istri serta melabuhkan kecupan singkat di bibir wanita tercinta.
"Habisnya kamu, aku sedang serius malah ngajak bercanda!"
"Iya-iya, Maaf. Kita serius sekarang," ujarnya langsung berganti ekspresi.
"Dan lebih parahnya lagi, ternyata anak Nabila itu bukan laki-laki, melainkan perempuan."
"Untuk apa pria tua itu berbohong seperti itu. Tidak masuk akal sekali," ucap Ale yang benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran ayah dari Nabila tersebut.
"Mama tidak tahu tentang itu, Pa. Tapi sejak Nabila mengatakan itu pada mama dan mendengar cerita tentang kehidupan Elin, mama kok jadi berpikir bahwa Elin adalah anak kandung Nabila, yah!"
Ale tentu saja terkejut dengan penuturan sang istri. "Kamu jangan aneh-aneh, Sayang. Kalau ternyata dugaan kamu itu salah, kita akan mengecewakan dua orang terdekat kita," ujar Ale mengingatkan sang istri.
"Maka dari itu, Aku perlu bantuan kamu, Pa!"
"Bantuan apa?"
__ADS_1
"Menyelidiki masalah ini tanpa di ketahui oleh orang-orang, terutama suami Nabila. Mama takut jika dugaan mama benar, lalu suami Nabila dan Rihanna akan semakin kejam untuk mencelakai Elin," jelas Silvia dengan ekspresi wajah serius.