
Berkali-kali Rihanna mendapatkan penolakan dari Danendra, pria yang amat sangat dicintainya. Namun, tidak sekalipun perempuan itu mau menyerah dan merelakan si pria untuk melanjutkan kehidupan bersama pilihannya.
"Kak, kenapa kamu berubah sejak memiliki wanita itu? Dulu kamu sangat menyayangiku," ujar Rihanna dengan wajah memelas.
Danendra membalik tubuhnya, lalu menyimpangkan tangan di depan dadanya. "Jika kau tidak selalu berulah, mungkin saja rasa sayangku masih utuh untukmu, Ri. Meskipun hanya rasa sayang dari seorang kakak untuk adiknya," jawab Danendra dengan tegas.
Laki-laki itu menegaskan bahwa rasa sayang yang dulu selalu dia tunjukan tidak lebih dari rasa persaudaraan semata. Tidak ada sedikitpun rasa yang berdasarkan benih cinta di hatinya. Akan tetapi, Rihanna masih saja menampik kenyataan tersebut.
"Tidak, Kak. Kamu hanya akan menjadi milikku. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan pernah aku biarkan orang lain mendapatkanmu!" gertak Rihanna dengan berani.
Perempuan itu nekat mengeluarkan sebuah senjata yang terselip di pinggangnya. Meski dengan tangan gemeter, Rihanna memberanikan diri mengarahkan senjata api itu ke arah Danendra.
"Jika memang kau puas dengan melenyapkan aku, silahkan, Ri. Hanya satu yang perlu kamu ketahui, aku hanya mencintai Adeline, hanya Adeline seorang!" tekan Danendra sama sekali tidak terlihat takut atas ancaman Rihanna.
Rihanna benar-benar mengarahkan pistol miliknya ke arah jantung Danendra. Walaupun tangannya semakin gemeter karena mendengar pengakuan si laki-laki yang tetap bertahan dengan wanita yang lebih tua darinya itu. Netra yang awalnya penuh rasa dendam itu kini sudah mendung, sebentar lagi mungkin akan ada hujan air mata dari perempuan congkak itu.
"K-au yakin, Kak? Kamu rela m*ti demi dia?" tanya Rihanna dengan hati teriris.
Rihanna dulu adalah sosok wanita polos dan ceria. Setelah beranjak dewasa dia merasa semakin mencinta pria yang sejak kecil selalu menjaganya itu. Hanya karena rasa cintanya itulah, Rihanna sampai melakukan apapun demi mendapat perhatian dari si pria. Dia bahkan sampai mengambil pendidikan di luar negeri, agar si pria melihatnya sebagai gadis mandiri. Namun, setelah pulang ternyata si pria tidak juga tertarik untuk menjalin hubungan dengannya.
Hubungan mereka juga semakin jauh, setelah pria itu menikahi seorang wanita. Hatinya hancur saat mengetahui pria idamannya justru memperjuangkan wanita lain dan sama sekali tidak pernah meliriknya sekalipun.
"Aku yakin, Ri. Aku tidak pernah takut m*ti, apa lagi demi memperjuangkan cintaku pada Adel," ungkap si pria.
Kaki jenjang Rihanna tiba-tiba melemas saat mendengar ungkapan hati si pria. Pistol yang di pegangnya jatuh ke lantai di susul oleh tubuhnya yang merosot dan terduduk di lantai yang dingin.
__ADS_1
"Apa kurangnya aku, Kak? Dibandingkan dengan wanita itu, aku lebih segala-galanya." Rihanna mendongak menatap Danendra yang sama sekali tidak mengubah posisinya.
"Cinta tidak memandang kelebihan, Ri, aku mencintainya dengan tulus dari hatiku. Apa itu belum cukup untuk membuat kamu menyerah?"
"Tidak, aku tidak akan pernah menyerah sebelum nyawaku terlepas dari ragaku!" bentak Rihanna dengan yakin.
Tangan Rihanna mengulur lalu meraih pistol yang sempat terjatuh. Tanpa rasa takut, perempuan itu mendorong senjata itu ke hadapan Danendra, hingga berhenti tepat di ujung sepatu yang dikenakan oleh laki-laki itu.
"Akhiri saja nyaw*ku dengan pistolku sendiri, Kak. Setelah ini, aku tidak akan pernah lagi mengganggumu."
Danendra menatap pistol yang berada di bawahnya bergantian menatap Rihanna yang sudah berderai air mata. Laki-laki itu berjongkok, lalu tangannya meraih pistol yang di berikan oleh si perempuan.
"Bu*uh aku, Kak!" teriak Rihanna tanpa rasa takut.
Danendra akhirnya mengangkat pistol tersebut, lalu membuat benda itu dalam keadaan siap tembak. Laki-laki itu mengarahkan pistol yang dia pegang ke arah kepala Rihanna dengan jari telunjuk yang siap menekan pelatuknya. Namun, tiba-tiba suara seseorang menghentikan kegiatannya.
"Aunty Nabila," lirih Danendra yang langsung menurunkan tangannya yang sedang memegang senjata.
Nabila berlari mendekati sang putri yang terduduk lemas di lantai, wanita paruh baya itu ikut menjatuhkan dirinya di samping Rihanna dan langsung memeluk perempuan keras kepala itu.
"Kamu jangan g*la, Rihanna! Mama melahirkan kamu bukan untuk m*ti hanya demi cinta. Bukalah mata dan hati kamu!" bentak Nabila untuk pertama kalinya.
"Mama tidak perlu ikut campur! Ini urusanku dengan Kak Nendra. Aku sudah pernah berjanji, aku tidak akan pernah menikah, kecuali dengan Kak Nendra."
"Dasar anak b*doh! Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu semakin g*la." Nabila kini beralih menatap Danendra. "Nendra, tolong jangan turuti permintaan g*la Rihanna, dia hanya sedang emosi saja," mohon Nabila sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Tapi aunty, keg*laan Rihanna hampir mencelakai istriku!" seru Danendra tidak terima, pria itu kembali berdiri dari posisinya tadi.
Nabila terdiam sejenak, dia pun bingung kali ini harus berpihak pada siapa. Namun, sepertinya sekarang Adeline lebih memiliki suporter sistem dari orang-orang di sekelilingnya.
"Aunty janji, Rihanna tidak akan pernah lagi mengganggumu dan Adeline."
"Baik, saya akan mengampuni keg*laan Rihanna, tapi setelah ini, jangan pernah lagi temui istriku!" seru Danendra yang akhirnya melemparkan kembali senjata milik Rihanna.
"Mama menemui wanita j*Lang itu? Untuk apa, Ma?" tanya Rihanna yang penasaran karena sang ibu menemui wanita yang begitu dia benci.
"Tutup mulutmu, Rihanna!" bentak Nabila, wanita paruh baya itu reflek menampar pipi sang putri.
Rihanna memegang bekas tamparan sang ibu. Perempuan itu terkejut, karena hari ini adalah pertama kalinya wanita yang sudah melahirkannya itu berani membentak bahkan menamparnya di depan pria tercinta.
"Mama menamparku hanya karena membela wanita yang sudah merebut cintaku, Ma?" tanya Rihanna menggeleng tidak percaya.
Nabila baru sadar atas apa yang baru saja dia perbuat. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya sendiri dengan gelengan kepala keras.
"Ma-af, Rihanna, mama tidak sengaja."
Di tengah-tengah kekecewaan Rihanna karena sudah benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengejar cintanya, dan sekarang dia justru mendapat perlakuan kasar dari ibunya juga hanya karena wanita yang sudah merebut cintanya itu. Tangan kanan Rihanna dengan cepat meraih pistol yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Lebih baik aku m*ti!" teriak Rihanna dengan lantang, seraya menempelkan senjata tepat di kepalanya. Namun, ketika dia berniat menarik pelatuk, Nabila dengan cepat berusaha merebut senjata tersebut.
Adegan tarik menarik senjata pun tidak dapat terhindarkan. Hingga tiba-tiba suara tembakan menggema di ruangan tersebut, bersamaan dengan tersungkurnya Nabila di pangkuan sang putri.
__ADS_1
"Aunty Nabila!" teriak Danendra ketika melihat darah mengucur deras dari perut wanita paruh baya itu.