Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Biarkan Mandi dulu


__ADS_3

Sudah hampir sore Adeline dan Silvia pulang ke mansion. Kedua wanita berbeda generasi itu di sambut oleh Danendra yang sudah lebih dulu sampai di mansion. Pria tegap nan gagah itu sudah mengenakan pakaian casual yang membuatnya tampak lebih muda. Tidak hanya itu saja, pria itu bahkan sudah mencukur sedikit jambang tipis yang selama ini bertengger di rahang tegasnya. 


"Sayang," panggil Danendra seraya berjalan ke arah sang istri dan ibunya. 


Pria yang usianya lebih muda dari Adeline itu langsung menabrakkan diri ke tubuh sang istri, Adeline sampai keheranan dengan sikap suaminya kali ini. 


"Kamu kenapa, Nendra?" tanya Adeline seraya berusaha melepaskan diri dari jerat sang suami. 


"Enggak apa-apa, cuma lega saja karena kamu pulang dengan selamat," jawabnya yang lebih mengeratkan pelukan. 


"Elin cuma shopping ke mall sama mama, Nendra. Ngapain berlaga seperti istrimu habis pulang dari medan perang?" tanya sang ibu yang hanya di anggap angin lalu oleh pria muda itu. 


"Kamu capek, yah, Sayang?" tanya Danendra yang bersikap seakan di tempat itu tidak ada siapapun selain mereka berdua. 


Danendra mengusap-usap lembut kening istrinya, seakan bagian tubuh istrinya itu mengeluarkan keringat yang padahal tidak ada apapun di wajah cantik itu. 

__ADS_1


"Nendra, malu!" tegur Adeline yang merasa risih. 


Silvia hanya melirik dengan bibir mencebik. Perlakuan Danendra kepada Adeline sungguh membuatnya kesal bercampur senang. Kesal karena mereka bermesraan tidak tahu tempat, bahagia karena melihat rumah tangga sang anak sudah mulai membaik. Apa lagi melihat perkembangan sang menantu yang tidak lagi terus menerus dalam keadaan terpuruk. 


"Dasar pengantin baru! Serasa dunia milik berdua," sindir Silvia yang memutuskan untuk meninggalkan anak serta menantunya. 


"Biarkan saja, dasar pengantin tua." Danendra mencibir sang ibu yang sudah berjalan menjauh. 


"Apa, sih, Nendra? Kamu ini suka sekali berdebat dengan mama," tegur Adeline sambil menggelengkan kepalanya. 


Wanita dewasa itu merotasikan kedua bola matanya malas. "Sudah, lepaskan! Aku mau ke kamar," perintah Adeline dengan tegas. 


Akan tetapi bukannya melepaskan, Danendra justru mengangkat sang istri ke dalam gendongannya hingga wanita itu menjerit karena terkejut. 


"Nendra, turunin!" bentak Adeline. 

__ADS_1


"Nanti! Kalau sudah sampai di kamar," bisik Danendra dengan suara yang sengaja dibuat sangat lembut nan mendayu, Adeline bahkan sampai merinding dibuatnya. 


"Ini masih sore, Nendra!" 


"Yang bilang sudah malam siapa?" 


"Ya kalau tahu masih sore jangan aneh-aneh!" 


"Aku tidak aneh-aneh, cuma mau satu macam saja," bantahnya dengan kerlingan nakal. 


Adeline hanya mampu menatap kesal serta mendengus kesal. Jika sudah seperti ini, suaminya itu tidak akan mungkin bisa di tawar. Sebentar lagi dia pasti akan menjadi santapan empuk pria gagah perkasa itu. 


Danendra benar-benar membawa sang istri masuk ke dalam kamarnya. Pria itu membiarkan belanjaan sang istri berserakan di ruang tamu. Dia terus berjalan hingga sampai di kamar lalu menurunkan sang istri di kasur empuk yang masih rapi. 


"Nendra! Biarkan aku mandi lebih dulu. Tubuhku sudah terasa sangat lengket," mohon Adeline yang tidak ingin langsung menjadi target permainan sang suami. 

__ADS_1


"Ah, bagaimana jika kita mencobanya di kamar mandi? Selama ini aku kan belum pernah melakukan adegan mengasikkan disana."


__ADS_2