Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kemarahan Danendra


__ADS_3

Jika di dapur baru saja terjadi sedikit keributan, berbeda dengan di ruang keluarga. Antonio masih menanyai menantu barunya tentang bisnis yang kini sudah mulai merajai di kota tersebut.


"Jadi nak Nendra ini sudah berapa lama berkecimpung di dunia bisnis?" tanya sang mertua. 


"Karena Nendra anak tunggal jadi papa mengajari saya berbisnis sejak usia saya masih delapan belas tahun, Pa. Papa bahkan sudah benar-benar tidak mau ikut campur tentang bisnis yang Nendra lanjutkan darinya ini sejak lima tahun yang lalu." 


"Wah, jadi kamu mulai mandiri sejak remaja ya, walaupun anak orang berada. Papa salut sekali," puji Antonio dengan wajah sumringah. 


"Benar, Pa. Mungkin orang tua saya sengaja mendidik saya dengan cara mereka agar saya tumbuh menjadi pria bertanggung jawab. Sekarang waktunya saya membuktikan dengan cara membahagiakan istri saya," jawab Danendra sedikit memberikan sindiran kepada pria yang sepertinya masih berniat menjadi rivalnya. 


"Pa, Maaf. Boleh Richard pamit lebih dulu? Saya masih ada pekerjaan yang belum selesai," ucap Richard berbohong, padahal alasannya ingin segera pergi dari tempat itu karena telinganya sudah panas mendengar pujian-pujian untuk suami sang mantan kekasih. 


"Oh, boleh, Chad. Maaf ya karena sudah menyita waktu kamu," jawab Antonio tanpa menoleh ke arah suami Grasiella. 


Seringai licik terlukis di wajah tampan Danendra. Pria yang usianya lebih muda dari Richard itu merasa puas karena berhasil membuat pria yang sudah menyakiti hati istrinya itu mati kutu di hadapan mertuanya. 


Dari segala data yang berhasil di kumpulkan oleh Gerry, Danendra yakin bahwa ketika di Indonesia maupun di New York, pria itu tidak lebih dari sampah masyarakat saja. Entah kenapa istrinya itu sampai pernah khilaf mencintai pria tidak berguna seperti laki-laki itu. 


"Kak Nendra, saya pamit masuk dulu." 


"Tidak perlu memanggilku dengan sebutan kakak. Panggil saja Nendra, usiaku jauh di bawah Kak Richard, 'kan?" 


Mendengar ucapan telak dari rivalnya itu, Richard terpaksa mengulas senyum tipis. Pria itu sedikit menundukkan kepala lalu berlalu dari tempat yang sudah persis seperti neraka untuknya. 


Richard kembali ke kamarnya dengan mood yang berantakan. Ternyata suami dari Adeline memang pintar sekali menjatuhkan mental lawannya. Tidak heran jika pria muda sepertinya sudah berhasil mengembangkan perusahaan besar dalam waktu singkat. 


"Dasar bocah tengik! Lihat saja, aku pasti akan menghancurkan kamu beserta bisnis yang kamu bangga-banggakan itu!" teriak Richard seraya membanting guci antik di sampingnya. 

__ADS_1


Beruntung setiap kamar di rumah itu kedap suara. Jika tidak, pasti suara pecahan keramik Gucci itu akan terdengar hingga keluar ruangan. 


"Elin, kenapa kamu memilih menggantikan aku dengan bocah sepertinya? Bukankah aku lebih dewasa, kenapa tidak memperjuangkan aku untuk kembali menjadi milikmu seutuhnya?" Pria dewasa itu menjatuhkan diri di antara keramik-keramik yang berserakan. "Aku masih mencintaimu, Elin." 


Adeline dan Monica yang sudah selesai membuat minuman untuk teman mengobrol akhirnya sampai di ruang keluarga. Mereka sedikit merasa kebingungan karena di tempat itu hanya ada Danendra dan Antonio, sementara Grasiella dan Richard entah berada dimana. 


"Loh, kalian cuma berdua?" tanya Monica sambil mengedarkan pandangan. 


"Richard katanya masih ada pekerjaan, Ma. Kalau Ella, sejak tadi dia tidak datang kemari," jawab Antonio. 


Mereka mengambil posisi duduk di samping suaminya masing-masing. Meskipun Monica mencemaskan keadaan putri kesayangannya, akan tetapi dia juga merasa tidak enak jika meninggalkan Adeline dan suaminya. Antonio sudah bercerita tentang Adeline yang memberikan perusahaan lebih besar untuk mengganti perusahaannya yang sudah terbakar habis. 


"Elin, kalian menginap, 'kan?" tanya Antonio kepada putri sulungnya. 


Adeline menggeleng pelan, akan tetapi di kejutkan dengan jawaban Danendra yang berbeda dengan jawabannya. Pria itu menyetujui untuk menginap di kediaman Antonio dengan senang hati. 


"Sudahlah! Tidak setiap hari juga kita menginap di rumah papa. Aku juga ingin lebih dekat dengan papa, Sayang." 


Akhirnya mau tidak mau keputusan Danendra adalah keputusan final. Malam sudah semakin larut saat Adeline masuk ke kamarnya yang memang berada tidak jauh dari kamar Grasiella. Sementara Danendra masih asik bermain catur dengan sang mertua. 


Adeline memutuskan untuk beristirahat lebih dulu tanpa menunggu sang suami. Perempuan dewasa itu merasa tubuhnya sedang kurang vit, jadi tidak mau membuang waktu dengan menunggu suami berondongnya itu. Benar saja, ketika merebahkan diri di ranjang tidak lama kemudian Adeline sudah mengarungi mimpinya. 


Sekian lama berselancar di alam mimpi, Adeline terbangun saat merasakan tenggorokannya terasa kering. Perempuan dewasa itu menatap nakas samping ranjang yang kosong. Tidak ada air putih disana. Dia memeriksa ponsel untuk melihat pukul berapa sekarang. 


"Jam tiga dini hari, dan Berondongku itu belum juga masuk ke kamar," gumam Adeline seraya kembali menaruh ponselnya. 


Dia turun dari ranjang, berniat untuk turun ke dapur dan mengambil air putih. Perempuan itu mungkin terlupa tidak memakai jubah sebagai penutup tubuhnya yang hanya terbalut lingerie tipis. Dia dengan tidak sadar melenggang menuju dapur. 

__ADS_1


Ketika perempuan dewasa itu sedang mengambil air dan berniat meneguknya, tiba-tiba dari belakang dia merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dan kepala yang bersandar di bahunya.  


Perempuan itupun memilih acuh dan kembali meneruskan kegiatannya meneguk air putih hingga tandas. Ketika sudah menghabiskan air itu, Adeline yang berniat kembali ke kamar akhirnya menegur si pelaku. 


"Nendra, aku ngantuk. Nanti saja peluknya! Aku janji akan memberikan kamu servis terbaik setelah tamuku pergi," ucap Adeline tanpa menoleh ke belakang. 


"Kurang ajar! Lepaskan istriku, bedebah sial*n!" Tanpa aba-aba Danendra menarik kasar tubuh pria yang sudah berani memeluk miliknya tersebut lalu membantingnya ke dinding. 


Adeline yang terkejut dengan teriakan itupun akhirnya tersadar, bahwa ternyata yang sejak tadi memeluknya bukanlah suami berondongnya, melainkan sang mantan kekasih yang seorang pengecut kelas kakap. Perempuan dewasa itu akhirnya mundur ke belakang, masih belum sadar dengan pakaiannya. 


Sementara itu, Danendra yang tidak puas hanya membanting tubuh pria kurang ajar itu langsung menerjang dan memukuli pria itu secara membabi buta. Richard yang berniat melawan pun tidak memiliki kekuatan apapun, jangankan untuk melawan, bahkan untuk melindungi diri saja dia tidak sanggup. 


"Sudah, Nen! Plis!" teriak Adeline ketakutan. 


Sayangnya Nendra yang terbakar emosi tidak bisa mengendalikan dirinya. Pria itu terus saja memukuli Richard tanpa ampun. Merasa teriakannya tidak di gubris oleh sang suami, Adeline akhirnya berlari dan langsung memeluk tubuh pria yang masih di kuasai oleh amarah tersebut. 


"Nendra, berhenti! Aku mohon." 


Mendapat pelukan erat dari sang istri dan mendengar permohonan Adeline, Danendra akhirnya melepaskan tubuh Richard yang sudah lunglai itu. Dia bahkan sampai luruh ke lantai setelah Danendra melepaskannya. 


Danendra membalik tubuhnya, masih dengan napas yang memburu. Ketika melihat pakaian yang di gunakan oleh sang istri sebenarnya amarah Danendra kembali memuncak. Namun, pria itu tidak tega jika harus memarahi istrinya yang kini dalam keadaan ketakutan. 


Dia dengan gagahnya melepaskan jaket kulit yang membalut tubuh kekarnya itu dan langsung memakaikannya di tubuh seksi sang istri. Pria itu merangkul istrinya penuh kelembutan. Namun, sorot matanya kini menajam ketika kembali melihat iparnya yang sudah dalam keadaan babak belur. 


"Jangan berani menyentuh istriku lagi! Jika kau tidak tahu seperti apa lawanmu. Jangan coba-coba membangunkan singa yang tertidur!" 


Setelah memberikan peringatan untuk pria kurang ajar itu, Danendra segera memapah sang istri untuk bergegas masuk ke kamar. Dia sama sekali tidak peduli dengan pria yang masih tergeletak tidak berdaya di lantai. Danendra juga tidak memikirkan apa reaksi keluarganya jika melihat keributan yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Elin, Kembalilah padaku!"


__ADS_2