
Tidak mau mengecewakan sang kakak, Zico akhirnya berbohong tentang kehidupannya saat ini. Dia mengatakan bekerja sebagai seorang waiters dan tinggal di sebuah kontrakan bersama seorang teman.
Padahal pada kenyataannya sekarang dia menjadi seorang pria simpanan dari perempuan muda yang begitu tergila-gila padanya. Sejak pertama kali mereka melakukan penyatuan, perempuan itu ternyata menawarkan kontrak untuknya dalam jangka waktu yang panjang.
Sebagai imbalan, Zico mendapatkan fasilitas yang tidak kalah mewah dari yang di dapatkan dari sang ayah. Pemuda itu tinggal di sebuah apartemen serta mendapatkan sebuah mobil sport untuk transportasinya. Namun, tidak mau sang kakak tahu tentang itu, Zico meninggalkan mobil pemberian perempuan yang menyewanya itu di tempat yang cukup jauh dari taman.
"Kakak semakin bangga sama kamu, Zico. Kalau begitu, uang jajan bulanan kamu dari kakak akan kakak tambahin. Tapi kamu juga tidak boleh terlalu boros, sisihkan sedikit untuk memulai usaha kamu sendiri nantinya."
Raut wajah Adeline menggambarkan keceriaan. Dia merasa lega karena sang adik sudah berubah menjadi lebih baik. Dulu, adik bungsunya ini selalu bersikap manja dan ingin menang sendiri. Namun, sekarang sudah berbed. Adiknya kini telah tumbuh dewasa, pikir Adeline.
"Enggak perlu, Kak. Zico tidak mau merepotkan kakak. Kakak tenang saja, Zico akan baik-baik saja, kok!" tolak Zico dengan cepat.
"Tidak repot, Zico. Itu sudah kewajiban kakak untuk memberi kamu uang jajan, selama kamu masih menganggap kakak sebagai kakak kamu, kamu tidak boleh menolak pemberian kakak."
"Em, ya sudah. Tapi jangan memaksa diri, Kak. Jika kakak masih memiliki kebutuhan lain, gunakan saja dulu untuk yang lebih penting. Zico yakin akan baik-baik saja," ucap Zico kekeh pada pendiriannya.
"Baiklah, baik. Kakak percaya padamu," ujarnya mengalah.
Zico terlihat memainkan ponselnya sejenak, lalu kembali menatap sang kakak dengan raut wajah berbeda. Entah apa yang membuat pemuda itu tiba-tiba gelisah.
"Kamu kenapa? Ada urusan?" tebak Adeline saat melihat kegelisahan pada raut wajah tampan sang adik.
__ADS_1
"He-he, iya, Kak. Tiba-tiba Zico harus menggantikan sift temen, katanya mendadak sakit," bohong Zico pada kakaknya.
"Ya sudah, pergi sana. Hati-hati, jangan berlari, Zico."
"Iya, Kak. Kakak jaga kesehatan, yah! Zico sayang Kak Elin." Zico menyempatkan diri mencium pipi sang kakak sekilas.
Pemuda itu berlari keluar dari taman yang menjadi tempat pertemuan singkatnya dengan sang kakak. Adeline menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Zico tetap saja berlari.
"Adikku ternyata sudah dewasa. Rasanya baru kemarin mereka sering merengek minta uang jajan padaku," gumam Adeline dengan senyum tipis.
Setelah kepergian sang adik, Adeline juga bergegas kembali ke bar. Masih banyak pekerjaan yang perlu di urus olehnya. Meski memiliki banyak anak buah, akan tetapi Adeline selalu menyempatkan diri ikut dalam bertransaksi minuman beralkohol untuk stok di bar miliknya.
Hari-harinya di habiskan dengan mengurus bisnisnya itu. Sejak kepergiannya, sang ayah ataupun ibunya tidak pernah menghubunginya. Dia sudah persis seperti seorang anak yang tidak memiliki orang tua.
"Maya, aku berencana akan melebarkan tempat ini. Menurut kamu bagaimana?" tanya Adeline meminta persetujuan dari si sekretaris.
Maya yang awalnya sedang fokus pada buku yang digunakan untuk mencatat keperluan bar tersebut menoleh, perempuan yang sudah lama ikut bekerja pada Adeline itu mengangguk setuju.
"Sepertinya itu ide yang baik, Nona. Melihat bahwa akhir-akhir ini pelanggan kita semakin banyak. Kita harus mengutamakan kenyamanan mereka," jawab Maya memberikan saran.
"Kalau begitu, aku akan segera mengurusnya."
__ADS_1
Sudah berbulan-bulan semenjak Adeline menemui Zico di taman saat itu. Komunikasi mereka masih berjalan dengan baik. Adeline juga beberapa kali tetap memberikan transferan uang jajan untuk adiknya.
Suatu pagi di dalam sebuah apartemen, seorang perempuan buru-buru turun dari ranjang king size. Dia berlari menuju kamar mandi saat merasakan ada sesuatu yang naik ke kerongkongannya dan memaksa untuk segera di keluarkan.
Suara khas dari seseorang yang membuang cairan lewat mulutnya mengganggu tidur seorang pemuda. Dia mengucek kedua matanya berputar-putar dengan jemari tangannya. Ketika kedua matanya terbuka sempurna, pandangannya berkeliling. Namun, fokusnya tertuju pada suara seorang perempuan yang berasal dari kamar mandi.
"Queen," gumamnya langsung terjun dari ranjang dan berlari menghampiri perempuan itu.
Pemuda itu menghentikan langkah di ambang pintu saat melihat si perempuan sedang mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. "Kamu kenapa, Queen?" tanya si pemuda.
Perempuan yang dipanggil dengan nama Queen menoleh sebentar sebelum kembali memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Dia memegang pelipisnya yang terasa pusing.
"Zico, kepalaku pusing sekali. Aku juga terlambat datang bulan," ujarnya dengan suara lemah.
"Maksud kamu?" tanya Zico yang belum berhasil mencerna ucapan si perempuan.
"Aku hamil, Zico!"
"Apa? Kamu hamil? Tapi gimana bisa?" tanya Zico beruntun.
"Kamu bertanya kenapa? Memang setiap malam kita melakukan apa?" jawab si perempuan kesal.
__ADS_1
Bersambung...