Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kamu Wanita Kuat


__ADS_3

"Cie, kakak mau nikah, nih," ledek mawar kepada Celine. 


"Hust! Diem, deh, kamu masih kecil!" seru Celine seraya melemparkan tatapan tajam. 


"Ih, aku udah kuliah, loh! Masa dibilang anak kecil terus," protes mawar. 


"Sudah-sudah, Mawar, jangan ngeledekin kakak kamu terus! Malu sama calon kakak ipar kamu," tegur si ibu melerai. 


Gerry hanya tersenyum tipis ke arah si ibu Celine. Entah kenapa melihat Celine gaduh dengan adiknya seperti itu, hatinya tiba-tiba menghangat. Gerry merasa seperti menemukan kebahagiaan baru. 


"Maaf, yah, Nak Gerry. Celine dan Mawar biasa seperti itu," ucap si ibu kepada Gerry. 


"Tidak apa-apa, Bu. Saya malah senang, kok! Saya jadi melihat sisi lain Celine yang baru terlihat sekarang," balas Gerry seraya melirik Celine.


Si ibu sejenak menatap putri sulungnya, "Celine itu memang penampilan luarnya seperti pria, Nak. Tapi hatinya lembut, kok!" 


"Saya tahu, Bu. Dia juga pekerja keras," sahut Gerry memuji Celine. 


Dipuji seperti itu oleh lawan jenisnya, Celine pun semakin tidak karuan. Rona merah diwajahnya semakin terlihat. 


"Bu, Celine mau ke kantin dulu, yah!" pamit Celine, dia menarik tangan mawar untuk ikut dengannya. 


"Iya, Sayang." 


Ibu Celine dan Gerry menatap kepergian Celine dan Mawar. Mereka menahan tawa saat melihat mawar seperti enggan ikut dengan kakaknya, tetapi Celine tetap saja memaksa. 


"Benar, Nak Gerry. Celine memang pekerja keras, karena dia sudah ditinggal mati ayahnya sejak kecil, ibunya pun meninggal saat melahirkan dia," ungkap si ibu yang tidak ingin menyembunyikan apapun dari calon menantunya. 


"Em, jadi Celine itu … anak angkat ibu?" tanya Gerry terkejut. 


"Dia sebenarnya keponakan ibu, Nak. Tapi ibu sudah menganggapnya seperti anak ibu sendiri," balas si ibu.


Gerry terdiam sejenak, membayangkan nasib Celine yang tidak jauh berbeda darinya. Hanya saja Celine lebih beruntung karena memiliki Tante yang menyanyangi dia selayaknya ibu kandung. 


 "Nak Gerry, tolong jaga dia, yah! Bahagiakan dan cintai dia dengan tulus," pinta si ibu kepada Gerry. 


"Tentu, Bu. Saya akan menjaga dan membahagiakan Celine sekuat tenaga saya," balas Gerry. 


"Terima kasih, Nak," ucap si ibu. 


"Sama-sama, Bu. Em, apakah boleh saya menyusul Celine ke kantin, Bu?" 


"Silahkan, Nak Gerry." 


Gerry menyusul Celine yang sedang berada di kantin bersama mawar. Laki-laki itu menatap sekeliling kantin untuk mencari si wanita tomboi calon istrinya. Namun, langkah Gerry terhenti saat mendengar Celine dan Mawar sedang membicarakan dirinya. 


"Nah, itu dia," gumam Gerry, dia segera menghampiri Celine yang sedang menyantap makanannya. 


"Kak, kamu punya kenalan cowok setampan Kak Gerry, kok, enggak bilang-bilang?" 


"Ish, lebay banget, sih, Dek! Kakak juga baru kenal sama dia, kok!" 


"Hah! Baru kenal langsung diajak nikah? Kakak serius?" tanyanya terkejut. 


"Kakak enggak tahu. Padahal, awal kenal kita selalu berantem. Dia selalu memanggil kakak dengan sebutan cewek aneh, kakak pun panggil dia cowok nyebelin," tutur Celine menceritakan tentang dirinya dan Gerry. 


"Serius? Tapi kenapa tiba-tiba ngajak nikah?" tanya mawar heran. 


"Kakak juga enggak tahu, Dek," jawab Celine singkat sambil terus menyantap makanannya. 


"Nah, terus kakak terima?" tanya mawar lagi yang mendapat jawaban anggukan kepala Celine. 

__ADS_1


"Apa sebabnya, Kak?" tanya Mawar penasaran. 


"Karena dia yang bayar semua pengobatan ibu, Dek. Dia janjiin untuk mencarikan donor ginjal buat ibu," ungkap Celine. 


"Wah, jadi dia orang kaya, Kak?" tanya Mawar lagi, kini gadis itu mulai antusias mendengar cerita mengenai calon kakak iparnya. 


"Ish! Dasar matre!" cibir Celine yang membuat Mawar mencebik, "Kakak bukan terima dia karena dia kaya. Tapi kakak mulai yakin kalau dia orang yang baik," sambung Celine. 


"Itu namanya sekali dayung, tiga pulau terlampaui, Kak. Selain baik, Kak Gerry kan tampan dan kaya. Jarang-jarang ada cowok kaya gitu. Kebanyakan kalau materinya cukup, rupanya jauh dibawah standar. Kalau yang rupanya good looking, ternyata enggak good rekening," kelakar Mawar. 


Keduanya tertawa bersama gara-gara kelakar Mawar dengan ekspresi yang dibuat-buat itu. Mawar tiba-tiba kicep saat melihat seseorang yang sejak tadi mereka bicarakan berdiri di belakang kakaknya. 


Mawar susah payah menelan ludahnya sendiri. Bukan apa-apa, dia takut jika pria itu mendengar ucapannya dan akhirnya membatalkan pernikahan dengan sang kakak. 


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Celine bingung karena tiba-tiba raut wajah mawar menjadi tegang. 


"Sayang!" Gerry berbisik saat sudah mendekat pada Celine. 


"Kamu!" pekik Celine terkejut, tiba-tiba saja dia merasakan hawa yang berbeda. Bulu kuduknya terasa berdiri seperti baru saja bertemu dengan hantu. 


"Kalian ngobrolin apa? Kelihatannya asik banget." Gerry menarik kursi di samping Celine, kemudian duduk di sana. 


"Kakak enggak denger obrolan kita tadi?" tanya mawar gugup. 


"Enggak. Emangnya kalian ngobrolin apa?" Gerry balik bertanya. 


Mawar mengela napas, lalu mengelus dadanya, "Enggak ngobrolin apa-apa, kok, Kak." 


"Oh, gitu. Eh, Mawar, kalau enggak salah, kamu kuliah jurusan akuntansi, 'kan?" tanya Gerry pada calon adik iparnya. 


"Loh! Kak Gerry, kok, tahu." 


"Kakak kamu udah cerita," jawabnya berbohong. "Kamu mau enggak nyobain kerja?" Gerry menawarkan pekerjaan pada Mawar. 


"Kamu kan bisa kerja paruh waktu. Nanti kakak bisa masukin kamu ke perusahaan ALF Group," ucap Gerry, seketika mawar tertegun ketika mendengar nama perusahaan itu disebut. 


"Kakak serius? ALF Group?" tanyanya dengan mata berbinar. 


"Serius, lah! Kamu enggak perhatiin wajah siapa yang biasa nongol di TV saat konferensi pers mengenai perusahaan itu?" 


"Hah!" Mawar mendelik saat mengingat wajah orang kedua yang berpengaruh besar di perusahaan itu adalah wajah si kakak ipar. "Kakak sekretaris direktur PT ALF Group?" 


"Gimana, mau enggak?" 


"Mau, Kak. Mau banget!" seru mawar sumringah. 


"Lalu gitu, kamu siapkan CVnya, nanti Kakak yang urus," pungkas Gerry yang ikut senang melihat antusias Mawar. 


"Oke, Kak. Ya sudah, Mawar balik ke kamar rawat ibu dulu, yah!" 


Gerry mengangguk, sedangkan Celine menggeleng. Dia tidak ingin ditinggal berdua saja dengan Gerry. Pria itu pasti akan menanyakan tentang lamarannya itu. Sayangnya, Mawar tetap berlalu meninggalkan sang kakak bersama calon kakak iparnya. 


"Dasar adik durjana," gerutu Celine kesal. 


"Celine!" 


"Hm." 


"Kamu bersedia menikah denganku, 'kan?" 


Celine menatap sekilas pria asing yang tiba-tiba melamarnya itu. "Sebelum aku menjawab, apakah boleh aku bertanya?" 

__ADS_1


"Silahkan," jawab Gerry singkat.


"Apa alasan kamu tiba-tiba mengajak aku menikah?" tanya Celine dengan mata memicing. 


"Aku hanya ingin membantu kamu mengurus ibu kamu," jawab Gerry lugas. 


"Hanya itu?" 


"Aku sudah banyak mendengar kisah tentang kamu, Celine. Dan Aku merasa kamu adalah satu-satunya wanita yang cocok mendampingiku," kata Gerry yang seketika membuat Celine menatap sendu ke arahnya. 


"Kamu merasa kasihan karena kisah hidupku yang seperti ini? Jika itu alasannya, aku tidak butuh dikasihani."  


"Bukan, aku bukan kasihan padamu, Celine. Aku justru merasa kamu adalah wanita yang kuat. Aku membutuhkan seorang pendamping yang bisa mengimbangiku. Sebagai seorang tangan kanan Tuan Danendra, aku selalu hidup dalam bahaya, dan mungkin hanya kamulah yang tidak akan mengeluh karena hidup bersamaku," terang Gerry berusaha menjelaskan semuanya. 


*****


Sementara itu, di Indonesia Rihanna sedang uring-uringan. Dia memarahi Malik karena membiarkan wanita itu pulang sendirian, sedangkan mereka masih asyik berada di Indonesia. 


"Celine enggak pulang sendirian, Hunny. Dia pulang sama Gerry," ucap Malik untuk yang kesekian kalinya. 


"Tetap saja. Kamu ini bos yang buruk, Malik! Celine datang ke sini karena ajakan kamu. Dia menanggung resiko pergi jauh hanya karena mengikuti tugas pribadi kamu ini!" 


"Terus kamu maunya gimana, Hunny? Celine pasti sudah sampai di New York, kok!" 


"Kita pulang ke New York sekarang juga. Kita susul Celine! Aku tidak ingin kamu menjadi bos dzolim, Malik. Asisten pribadi kamu itu sedang mengalami musibah, kenapa kamu tega membiarkan dia sendirian?" 


"Ini kemauan Celine, Hunny. Bukan aku yang mau!" seru Malik frustasi. 


"Pokoknya kita pulang sekarang. Aku enggak mau menikmati liburan ini sementara asisten kamu sedang tersandung musibah!" 


Pada akhirnya, atas keputusan ibu hamil itu mereka kembali ke New York. Danendra sempat kesal karena rencana jalan-jalannya gagal total. Namun, Adeline berhasil memberi pengertian kepada suaminya itu. 


"Sayang, kita masih bisa berlibur lain kali, 'kan? Sekarang jangan pasang wajah cemberutmu itu. Aku paham apa yang dirasakan oleh Rihanna," tegur Adeline saat Danendra terus saja memasang ekspresi kesal. 


"Tapi rasanya kesal sekali, Sayang. Kita jauh-jauh ke Indonesia hanya berdiam diri di villa saja. Padahal, aku sudah membuat daftar tempat-tempat indah yang akan kita kunjungi," sahut Danendra. 


"Hei, jangan egois, Sayang. Kamu bayangkan saja, jika sesuatu terjadi pada Gerry, apakah kamu masih bisa menikmati liburan?" 


Danendra menggeleng. "Gerry itu sudah belasan tahun hidup bersamaku, Sayang. Dia sudah seperti adikku sendiri. Mana mungkin aku bisa bersenang-senang jika dia dalam kesulitan," jawab Danendra. 


"Nah, itulah yang sedang dirasakan oleh Rihanna dan Malik. Merek sedang mencemaskan keadaan Celine. Aku dengar, gadis itu sudah kehilangan ayahnya sejak kecil, loh!" 


"Ayo, Kak!" ajak Rihanna pada Celine, mereka baru akan masuk ke dalam pesawat. 


"Ayo!" 


Ketika sudah berada di dalam pesawat, Adeline meminta untuk duduk bersama dengan Rihanna. Dia khawatir jika Rihanna terus berpikir negatif dan akhirnya berdampak buruk terhadap kehamilannya. 


Kini Rihanna sedang berada di dalam dekapan hangat sang kakak. Mungkin karena hormon kehamilannya, wanita itu merasa cemas berlebihan. Padahal, sebelum berangkat ke bandara Malik sempat menghubungi sekretarisnya untuk menanyakan kabar terbaru dari ibu si sekretaris. 


"Kak, kasihan Celine kalau sampai ada apa-apa sama ibunya. Aku dengar dia sudah tidak memiliki kedua orang tua kandung sejak kecil," ucap Rihanna. 


"Udah, Dek. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu sakit, loh!" Adeline menasehati adiknya agar tidak terlalu cemas. 


"Kalau Malik tidak mengajaknya pergi jauh seperti ini, pasti –"


"Sudahlah. Lebih baik kamu istirahat. Kakak enggak mau kamu sakit. Kasihan dia," kata Adeline seraya mengelus perut besar Rihanna. 


"Tapi perasaanku tidak tenang, Kak! Seharusnya Malik tidak menyembunyikan masalah ini dariku. Kenapa aku harus tahu setelah dia bicara sama orang lain," protes Rihanna. 


"Dek, Malik melakukan itu karena enggak mau kamu cemas. Sudahlah. Jangan terlalu ikuti hormon kehamilan kamu ini. Kakak juga waktu hamil Devan sering uring-uringan sama Nendra. Itu hal yang biasa. Lagian, karena musibah itu juga malah membuat Celine mendapatkan jodoh." 

__ADS_1


"Maksud Kaka?" tanya Rihanna kaget karena sang kakak membicarakan perkara jodoh. 


"Kamu enggak tahu? Celine dan Gerry akan menikah, loh!" 


__ADS_2