
Di mansion besarnya Danendra sedang dipusingkan dengan tingkah sang ibu yang tiba-tiba memaksanya untuk mencari sang ayah. Padahal, biasanya wanita paruh baya itu tidak pernah memusingkan ke mana saja perginya sang suami.
"Aku harus cari ke mana, Ma?" tanyanya frustasi.
Ini sudah kesekian kalinya Danendra bertanya ke mana sang ayah pergi. Namun, ibunya itu tidak menjawab dengan pasti. Wanita itu hanya terus saja mondar-mandir dengan mulut terus mengoceh tidak jelas.
"Ya ke mana, gitu. Pokoknya yang penting cari papa sampai ketemu!" seru Silvia dengan tatapan kesal pada Danendra.
Danendra yang sedang duduk di sofa single di ruang tamu pun akhirnya beranjak. Meski tubuhnya sedang merasa kurang sehat, tetapi dia tetap menuruti kemauan sang ibu.
"Papa yang berulah, aku pula yang direpotkan," gerutu Danendra sambil berjalan keluar mansion.
"Jangan pulang kalau papa belum ketemu!" teriak Silvia saat Danendra sudah sampai di ambang pintu.
"Iya-iya," jawab Danendra singkat, dia kembali mengayunkan langkahnya.
Sebelum masuk ke mobil, Danendra sempat menghubungi nomor ponsel ayahnya. Namun, panggilan darinya selalu ditolak oleh si ayah.
"Ini orang kenapa, sih?" tanyanya pada diri sendiri, "Biasanya enggak pernah reject telepon dariku," sambung Danendra, dia kembali mengantongi ponselnya.
Gerry yang sekarang siap siaga di mansion tuan mudanya segera berlari menghampiri sang tuan muda ketika melihat laki-laki itu masuk ke dalam Mobil. Saat Gerry sudah berada di samping mobil, Danendra menurunkan kaca jendela pintu mobil.
"Ayo antar aku mencari papa!" ajaknya kepada sang tangan kanan.
"Memangnya tuan besar ke mana, Tuan?" tanya Gerry sambil membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi kemudi.
"Itu masalahnya, aku tidak tahu dia ke mana," jawabnya kesal, "Suruh anak buahmu meretas lokasi papa lewat ponselnya!" perintah Danendra, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil dengan mata terpejam.
"Anda mau istirahat saja, Tuan?" tanyanya sambil melirik spion di atas, "Biar saya yang mencari tuan besar," lanjut Gerry.
"Tidak perlu. Lebih baik aku ikut mencari papa dari pada harus menghadapi Omelan mama yang bisa membuat telingaku berdengung," tolak Danendra dengan cepat.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." Gerry memasukkan kembali ponselnya yang dia gunakan untuk melacak posisi sang tuan besar.
"Kau sudah tahu posisi papa ada di mana?" tanya Danendra karena setahunya Gerry adalah orang yang tidak suka membuang-buang waktu dengan mencari sesuatu yang belum pasti.
"Sudah, Tuan," jawabnya sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Di mana?" tanya Danendra, alisnya menyatu serta keningnya mengkerut.
"Markas Dark Blood," jawabnya singkat. Namun, sangat jelas.
Danendra berdecak, dia sangat kesal kepada ayahnya itu. Kini dia tahu, sang ayah pasti berniat menyelesaikan masalahnya dengan Dark Blood sendirian. Padahal, ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya tentang pemimpin klan tersebut.
"Cepat susul dia, Ger!" perintah Danendra, "Aku takut mereka pasti berbuat yang tidak-tidak pada papa," lanjutnya seraya memijat pelipis.
*****
Kembali pada Alefosio yang kini masih berada di markas Dark Blood. Pria tua itu masih berdiri tegak dengan perasaan amarah yang berusaha dia tahan sekuat mungkin. Tuduhan yang dilontarkan oleh pemimpin baru Dark Blood padanya sungguh tidak berdasar.
Alefosio sedang menatap geram pada anak muda yang bersikap tengil di depannya. Pria yang usianya masih sebaya dengan Danendra itu duduk dengan posisi kaki yang dia naikkan ke atas meja.
"Aku tidak tahu siapa yang menghasutmu bahwa aku adalah pembunuh ayahmu. Aku juga tidak peduli seberapa dendam kamu terhadapku. Yang jelas, aku tidak menerima tuduhan yang kamu lontarkan tadi." Alefosio memeriksa jam di pergelangan tangannya, "Aku sudah terlalu lama membuang waktu di sini. Jika kamu tetap bersikeras ingin balas dendam, silahkan kumpulkan dulu bukti-bukti dan tunjukkan padaku. Selama itu, kamu atau anak buahmu, tidak ada yang boleh mengganggu keluargaku," sambungnya dengan tegas.
Alefosio membalik tubuhnya, lalu melangkah pergi. Dia sama sekali tidak memperdulikan ancaman-ancaman yang dikatakan oleh pria muda itu. Dia tetap berjalan melewati para anggota klan Dark Blood yang masih menatap sengit padanya. Melihat Alefosio berjalan santai di markas mereka, salah satu anggota klan itu mengeluarkan pisau lipatnya guna melukai musuh mereka yang telah berani menyambangi markas.
Anggota klan itu berjalan di belakang tubuh pria tua yang sedang diincar olehnya. Namun, saat dia mengangkat tangannya untuk menikam Alefosio, tiba-tiba kegiatannya berhenti karena ada suara seseorang yang tidak bisa dibantah.
"Jangan lukai dia. Biarkan dia pergi sekarang!"
"Ada saatnya nanti aku membalas dendam padanya. Untuk saat ini, biarkan dia bebas. Jangan ganggu keluarganya untuk sementara waktu!" potong sang pemimpin itu.
Alefosio masih terus berjalan dan tidak memperdulikan apa yang terjadi di belakang tubuhnya. Meski telinganya dapat mendengar pembicaraan itu, tetapi dia memutuskan untuk tidak menghentikan langkahnya. Tujuan utama dia datang ke tempat itu adalah untuk memberi peringatan pada klan tersebut, bukan untuk mencari perkara baru.
Usai berada di luar markas, pria tua itu segera masuk ke mobilnya. Tanpa membuang masa, dia kembali mengemudikan mobil miliknya keluar dari sarang musuhnya.
Saat mobil Alefosio keluar dari gerbang, bertepatan dengan mobil Gerry sampai di tempat tersebut. Mereka sempat berhenti untuk melihat keadaan markas lawan.
"Bagaimana, Tuan? Kita masuk atau ikuti mobil tuan besar?" tanya Gerry meminta keputusan dari sang tuan muda.
Danendra sempat bimbang, tetapi saat melihat mobil sang ayah semakin jauh membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti mobil ayahnya. Seperti pilihan yang diambil oleh Danendra, mereka akhirnya mengikuti mobil Alefosio yang sudah semakin menjauh.
"Salip mobil papa, Ger. Aku takut jika itu bukan papa yang mengemudi," ucap Danendra.
"Baik, Tuan." Gerry pun mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
Usai mengemudi dengan kecepatan tinggi, akhirnya, Gerry dapat mengejar mobil sang tuan besar. Dia menyalip mobil itu hingga sekarang posisi mereka berada di depan mobil Alefosio. Tangan kanan Danendra itu sengaja menghidupkan lampu Hazard.
"Itu mobil Gerry, 'kan?" tanya Alefosio bergumam.
Mengerti bahwa Gerry memasang lampu Hazard untuk memberi dia pertanda, Alefosio pun menepikan mobilnya. Gerry ikut menghentikan laju mobil setelah melihat mobil tuan besarnya berhenti.
"Kau tunggu di sini saja!"
Danendra keluar seorang diri. Dia sempat menyelipkan sebuah senjata api di pinggang belakangnya untuk berjaga-jaga jika memang benar yang mengemudikan mobil bukanlah pemiliknya.
Dia sudah memasang sikap waspada saat menuntun langkahnya menghampiri mobil tersebut. Namun, saat seorang yang sangat dia sayangi keluar dari sana, Danendra pun baru bisa menghela napas lega.
"Papa!" seru Danendra, dia segera berlari mendekati sang ayah.
"Kamu ngapain, Ndra?" tanya sang ayah.
"Ngapain lagi, nyari papa lah!"
Kedua alis Alefosio menyatu, "Buat apa nyari papa?" tanyanya lagi.
"Tanya aja sama mama. Dia yang ngomel nyuruh aku buat cari papa," jawabnya, dia memerhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki ayahnya. "Papa baik-baik aja?" tanya Danendra dengan mata memicing.
"Papa baik-baik aja," jawabnya singkat.
"Mereka enggak ngapa-ngapain papa?" tanyanya lagi.
"Papa baik-baik aja, Ndra!" Alefosio memutar tubuhnya di hadapan sang putra.
Danendra menggaruk kepalanya karena heran, "Aneh, ya, kenapa mereka enggak ngapa-ngapain papa?" tanya Danendra lagi, "Sedangkan kemarin mereka benar-benar ingin membunuhku," sambung Danendra dengan raut wajah bingung.
"Itu karena cara kita berbeda, Ndra. Kamu selalu main otot, sedangkan papa lebih seneng main otak."
"Mereka mana bisa dihadapi cuma pakai otak," gumam Danendra.
"Buktinya papa tidak apa-apa, 'kan?" tanya balik Alefosio, "Tidak semua masalah akan selesai dengan otot, Ndra. Enggak semua kemenangan harus diraih dengan jalan peperangan," lanjutnya menasehati sang putra.
"Terserah papa, deh! Mending cepetan pulang. Kalau papa belum pulang, aku enggak diperbolehkan pulang sama mama. Aku capek, Pa!" gerutu Danendra, dia enggan mendengarkan nasehat sang ayah.
__ADS_1
"Dasar anak nakal. Kalau papa nasehatin pasti ada aja alasannya!" seru Alefosio geram.