Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Menyambangi markas musuh


__ADS_3

"Bukan begitu, Elin. Mama hanya sedang merasakan perubahan sikap suami mama yang dulu sama sikap dia yang sekarang. Dulu, dia selalu mengekang mama. Tapi, sekarang dia justru ingin melepaskan mama," ungkap Nabila, dia sebenarnya sama sekali tidak rela jika harus berpisah dengan pria yang selama ini menjadi suaminya itu. 


"Mama yang iklas, yah! Elin tahu itu tidak mudah. Mama baru saja sadar jika mama juga mencintai Om Rocky saat dia sudah menyerahkan diri kepada pihak berwajib," tutur Adeline yang kini ikut memikirkan perasaan ibu kandungnya. 


"Mama masih belajar, Elin. Tapi tetap saja … rasanya sangat berat," katanya dengan suara melirih. 


"Mama tenang saja, Elin dan Rihanna akan selalu ada untuk mama, kok!" 


"Mama tahu, Sayang. Kalian yang akan menjadi kekuatan untuk mama," pungkasnya deselingi senyum tipis. 


***** 


Danendra baru saja sampai di mansion Alefosio. Kepulangannya tanpa sang istri langsung disambut dengan kehebohan sang ibu. Wanita itu memang belum tahu menahu tentang kejadian boom di rumah sakit. 


"Elin mana, Ndra?" tanya Silvia bingung, karena setahunya Adeline sudah diperbolehkan untuk pulang. 


"Mah, aku baru sampai, loh! Yang ditanya langsung Adel saja. Mama tidak lihat kepala anak mama kaya gini," protes Danendra kepada Silvia. 


"Kamu kan udah biasa pulang bawa luka. Segala macam punggung tertembak, kaki pincang, wajah babak belur, sampai pulang dengan keadaan hampir mati juga pernah. Jadi, mama udah enggak kaget," cerocos Silvia dengan menghitung jari-jarinya seolah menghitung apa saja yang pernah terjadi kepada putra tunggalnya itu. 


Danendra hanya bisa mendengus saat mendapat olokan dari wanita yang telah melahirkannya 29 tahun silam. Mau membela diri pun pasti dia akan kalah. 


"Mana menantuku, Nendra?" tanyanya semakin kesal, sebab putranya itu belum juga memberitahukan dimana keberadaan sang menantu.


"Untuk sementara Adel akan tinggal di mansion Om Rocky, Ma." 


"Lho! Kenapa harus tinggal di sana?" tanyanya lagi. 


"Di sana mungkin lebih aman, Ma. Tadi ada yang pasang boom di mobilku," ungkap Danendra. 


"Hah, Boom!" pekik Silvia, netranya membulat sempurna dengan mulut menganga. 


"Nggak usah kaget gitu, Mam. Di dunia gelap, hal ini sudah biasa terjadi, 'kan?" 


Danendra menyindir sang ibu dengan kata-kata yang lumayan pedas. Seperti tadi, sang ibu terkesan tidak memperdulikan dirinya, dan sekarang Danendra enggan percaya jika ibunya itu terkejut dengan apa yang baru saja dia sampaikan. 


"Ya, itu sebabnya sejak dulu mama tidak pernah suka papa dan kamu berkecimpung di dunia gelap." 


"Terlambat, Ma. Papa dan aku sudah terlanjur sampai ditengah, tidak ada pilihan lain selain melanjutkan apa yang sudah kita jalani." 


Alefosio baru saja turun dari tangga. Samar-samar dia mendengar pembicaraan antara istri dan anaknya. Rasa penasaran membuat kakinya melangkah mendekat kepada dua orang terkasih.


Dia menghentikan langkahnya tidak jauh dari Silvia dan Danendra. Sengaja ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya lebih dulu. 


"Tapi kalian bisa berhenti, Ndra. Hiduplah dengan tenang seperti orang-orang biasa di luar sana," usul sang ibu. 


Danendra melangkah menuju sofa ruang tamu, lalu duduk di sana. Begitu juga Silvia, dia ikut duduk di samping putranya. 

__ADS_1


"Percuma, Ma. Kami sudah terlalu banyak membuat masalah dengan orang lain. Jika kita berhenti pun, mereka tetap akan mengejar kita," tutur Danendra yang berpikir realistis.  


"Memangnya tidak bisa dibicarakan secara baik-baik, Ndra?" tanya Silvia, tangannya menggenggam erat punggung tangan sang putra. "Mereka dendamnya hanya karena papamu berhasil mengalahkan mereka saja, kok! Tidak sampai membunuh salah satu diantara mereka," lanjut Silvia. 


"Tapi, Nendra … udah bunuh beberapa anggota mereka karena melukai Adel, Ma. Semua tidak akan pernah selesai, sebelum di antara kita ada yang benar-benar kehilangan nyawa," kata Danendra. 


Usia mencuri dengar pembicaraan antara istri dan anaknya, Alefosio kembali melangkah menuju ruang tamu. Dia memutuskan untuk bertanya secara langsung saja apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh kedua orang itu. 


"Ndra, kamu sudah pulang." Pandangan Alefosio berkeliling seperti mencari sesuatu, "Adeline mana?" tanyanya menatap sang putra


"Dia tinggal di Mansio Om Rocky, Pa." 


"Kenapa malah tinggal di sana?" tanyanya dengan nada sedikit meninggi. 


"Papa tenang dulu. Nendra memilih jalan ini karena tidak ingin Devan dan Adel celaka," tutur Danendra menjelaskan. 


"Tapi di mansion itu tidak ada Rocky, Ndra. Siapa yang akan menjaga Adel dan Devan?" 


"Tenanglah, Pa. Semua sudah Nendra atur dengan baik," ujarnya seraya mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut. 


"Apa ini semua berhubungan dengan Dark Blood?" tanya Alefosio. 


"Sudah, yah, Pa. Aku ingin istirahat," tukas Danendra yang memang merasa sangat lelah. 


Danendra gegas beranjak dari tempatnya, berjalan menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di pantai atas. Sementara itu, Alefosio dan Silvia saling tatap dengan kebingungannya masing-masing. 


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus secepatnya menemui brengsek itu." Alefosio menjambak kasar rambutnya sendiri. 


***** 


Sore harinya, Alefosio berjalan dengan buru-buru keluar dari rumah. Sang istri sempat bertanya dua kali, sayang tidak dijawab olehnya. 


Pria tua itu bergegas masuk mobil. Tanpa membuang waktu dia pun melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari mansion besar miliknya. Kesabaran pria itu telah habis untuk orang-orang yang kini mengganggu kehidupan keluarganya. 


Menempuh perjalanan selama hampir satu jam. Alefosio akhirnya sampai di depan sebuah gedung besar. Dari luar saja terlihat bahwa tempat itu dijaga dengan ketat. 


Alefosio menekan klakson berkali-kali hingga perbuatannya itu menyita perhatian para penjaga tempat tersebut. Beberapa penjaga datang mendekat, lalu membuka sedikit pintu gerbang.


"Ini mobil milik pemimpin klan ALF yang dulu," kata salah satu anggota. 


"Untuk apa dia mengunjungi markas kita?" tanyanya kepada rekannya. 


"Entahlah. Tapi mungkin dia ingin bertemu Tuan," ucapnya kepada sang rekan lain. 


Pria yang berada di dalam mobil semakin tidak sabaran karena melihat si penjaga tempat itu justru berdiam diri di depan mobilnya. Dia kembali membunyikan klakson mobilnya secara brutal. 


Terlihat seorang penjaga lain baru saja keluar dari gedung besar yang dijaga ketat itu dan berteriak, "Buka saja pintu gerbang untuknya, Don! Tuan sudah menunggu kedatangannya." 

__ADS_1


Tanpa keraguan kedua penjaga yang berada di depan mobil Alefosio pun segera membukakan pintu gerbang lebar-lebar. Alefosio kembali melajukan mobilnya saat sudah diberikan jalan untuk masuk ke sana. 


Pria tua yang masih terlihat gagah itu keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya secara sembarang. Tanpa berbekal apapun, Alefosio nekat masuk ke dalam gedung yang merupakan markas musuhnya.


Sebelum datang ke tempat itu, Alefosio memang sudah menghubungi ketua klan Dark Blood lebih dulu. Dia berniat membuat janji temu dengan musuhnya sendiri. Namun, dia mendapat persyaratan yang diajukan oleh sang musuh. Yaitu tidak boleh membawa senjata apapun ketika menyambangi markas Dark Blood. 


Meski nyawanya menjadi taruhan nyatanya Alefosio tak gentar. Dia terpaksa datang ke tempat itu untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya sudah sangat lama itu. 


"Mari saya antar ke dalam!" ajak anggota yang memerintahkan anggota lain untuk membuka gerbang tadi. "Tuan sudah menunggu kedatangan anda," lanjutnya seraya menunjuk jalan. 


Pria tua itu diam tak bergeming. Hanya saja dia mengikuti langkah orang yang menunjukkan jalan untuknya. Mereka masuk ke dalam. Tempat itu ramai oleh anggota klan yang menatap Alefosio dengan tatapan sengit. Namun, Alefosio sama sekali tidak memperdulikan. 


Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti di sebuah ruangan yang berada di lantai atas gedung. Orang yang menunjukkan jalan untuk Alefosio segera membuka pintu ruangan tersebut. Mereka kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam. 


Saat masuk ke dalam ruangan, tempat itu sepi. Namun, si pria tua paham bahwa ada seseorang yang duduk di kursi putar berwarna hitam dengan posisi membelakanginya. 


"Tuan, tamu anda sudah datang," ucap si anggota klan Dark Blood. 


Orang yang dipanggil dengan sebutan 'Tuan' itu tidak menjawab. Dia hanya mengibaskan tangannya sebagai tanda bahwa dia memerintahkan anak buahnya untuk pergi dari tempat itu. 


"Baik, saya permisi, Tuan." Si anak buah langsung pergi meninggalkan tuan serta tamunya itu berdua. 


Alefosio menghela napas sebelum berkata, "Sebenarnya apa mau kamu? Kenapa tiba-tiba mengganggu ketenangan keluargaku?" tanyanya kepada seseorang yang belum juga membalikkan kursinya menghadap sang tamu. 


"Kau sudah lama hidup tenang selama ini. Sementara aku, apa kau tahu seperti apa kehidupanku selama ini?" Orang itu balik bertanya. Dari suaranya bisa dipastikan bahwa orang itu adalah seorang laki-laki. 


"Aku tidak tahu apa masalahmu terhadapku, tapi aku tahu kau bukan Sandy Cristiano." 


Laki-laki itu memutar kursinya menghadap pada Alefosio. Kini terlihat lah seperti apa rupa orang yang meneror keluarga Alefosio. Alis tebal serta rahang tegas itu membuatnya terlihat garang, terlebih lagi dia mengeratkan giginya hingga bergemelatuk. 


"Sepertinya kau lupa, bahwa Sandy Cristiano memiliki seorang putra saat kau berusaha membunuhnya." Laki-laki jangkung dengan badan kekar itu bangun dari kursi putar, kemudian berjalan mendekati Alefosio. 


Mendengar ucapan laki-laki itu, Alefosio hanya tertegun. Dia tidak mampu mengeluarkan suara. Dia hanya berdiri tegak dengan tatapan kosong, kembali pada masa lalu saat pertempurannya dengan Sandy. Seingatnya, saat itu Sandy tidak sampai meninggal. Dia meninggalkan Sandy di tempat pertempuran saat laki-laki itu sudah kalah olehnya. 


Laki-laki sebaya Danendra itu merangkul pundak pria tua yang dia yakini adalah penyebab utama kematian sang ayah. Dia sengaja menekan tangan kirinya pada lengan Alefosio. 


"Apa kau tahu, Pak Tua. Bagaimana sengsaranya aku hidup sendirian tanpa orang tua?" tanyanya masih dengan nada rendah. 


"Aku tahu itu pasti berat, tapi … aku tidak pernah membunuh ayahmu!" Alefosio berusaha membela diri. 


Laki-laki yang ternyata adalah anak tunggal Sandy itu merenggangkan rangkulannya di pundak Alefosio, lalu menepuk pundak itu berkali-kali. Kelihatannya dia masih berusaha menahan diri untuk tidak terbawa emosi. 


"Tidak ada pembunuh yang mau mengakui perbuatan kejinya. Tapi … aku tidak menyangka bahwa pemimpin Aligator Family adalah seorang … pengecut!" bisiknya tepat di telinga Alefosio. 


Kedua tangan Alefosio mengepal erat. Menahan emosi akibat ucapan kurang ajar dari laki-laki muda di sampingnya ini. 


"Aku tahu sekarang kau pasti ingin menghajarku, 'kan?" 

__ADS_1


__ADS_2