
Danendra hanya dapat menelan ludahnya kasar saat melihat tatapan elang sang istri. Wanita dewasa itu seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.
"Bagus ya, hari anniversary malah tidak pulang ke mansion!"
"Kamu masih ingat hari anniversary kita, Adel? Aku kira kamu lupa." Danendra memberanikan diri untuk menjawab kata-kata pedas istrinya.
"Aku lupa? Kau berpikir aku lupa?"
"Kalau kamu tidak lupa, kenapa semalam tidak datang?"
"Datang ke mana? Kau tidak memberitahu apapun."
"Kau tidak membaca pesan yang aku tinggalkan?"
"Pesan apa?" tanya Adelin semakin bingung.
"Pesan di surat yang kutulis," jawabnya singkat.
"Aku tidak mendapatkan surat apapun!"
"Aku menaruhnya di bawah nampan makananmu."
Adeline membulatkan matanya setelah mendengar kata-kata Danendra, "Kau pikir sekarang masih jaman apa? Menulis surat dan meletakkan di bawah nampan. Apa kau tidak memiliki ponsel untuk meneleponku?"
__ADS_1
"Aku sudah menelepon kamu."
"Kau menelepon saat sudah malam, Nendra. Kau seharusnya tahu, pukul berapa aku selalu sibuk menemani Devan!"
Keduanya masih terus berdebat. Gerry yang tidak ingin mengganggu pun memutuskan untuk meninggalkan kedua atasannya itu di apartment.
"Kau benar-benar bertingkah seperti bayi, Nendra! Seharusnya kau bisa memahami ku yang ingin menjadi ibu yang baik untuk anak kita."
Danendra terdiam sejenak. Memikirkan tentang kata-kata sang istri yang memang ada benarnya. Laki-laki itu akhirnya menyadari bahwa komunikasi antara suami istri itu sangatlah penting.
"Maaf," sesalnya tulus.
Adeline berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan dirinya di sana. Helaan napas panjang menjadi pertanda bahwa wanita dewasa itu sedang berusaha menahan emosinya.
"Aku kira kamu akan mengerti, Nendra. Aku hanya tidak ingin anakku merasakan apa yang dulu aku rasakan," lirih Adeline dengan suara terdengar sedih.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya sedang emosi saja," ucapnya seraya memegang bahu kiri istrinya.
"Kamu tidak pernah tahu seperti apa rasanya hidup tanpa perhatian dan kasih sayang orang tua," ujarnya disertai senyum kecut.
Adeline sedang terkenang dengan masa kecilnya yang jauh dari kata bahagia. Tinggal bersama orang tua yang tidak pernah membanggakan dirinya sungguh meninggalkan bekas luka yang mendalam.
"Aku janji tidak akan melakukan hal konyol seperti ini lagi, Sayang. Tolong maafkan aku," mohon Danendra bersungguh-sungguh.
__ADS_1
*****
Jika Adeline dan Danendra sedang terkena badai pertengkaran akibat kurangnya komunikasi mereka akhir-akhir ini, lain lagi dengan l hubungan Malik dan Rihanna. Keduanya sedang hangat-hangatnya bagaikan pengantin baru.
Malik mengajak Rihanna untuk ke kantornya karena wanita hamil itu tiba-tiba merengek ingin ikut ke manapun dia pergi. Beberapa karyawan menatap cengo saat Malik datang dengan menggandeng seorang wanita berperut buncit.
Maklum saja, pernikahan Malik dan Rihanna memang sempat disembunyikan. Wajar jika banyak dari mereka yang tidak tahu tentang kebenaran bahwa bosnya telah beristri.
"Tuan Malik membawa siapa? Kenapa perutnya buncit seperti sedang hamil?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab salah satu karyawan lain.
Masih banyak lagi desas desus para karyawan yang menggosipi Malik. Mereka penasaran dengan wanita yang dibawa oleh CEO mereka.
"Malik, mereka pasti sedang menggosipi kita," ucap Rihanna pelan.
"Tidak apa-apa, biarkan saja. Bulan depan kita buat kejutan untuk mereka," jawabnya santai sambil mengeratkan genggamannya.
"Kejutan apa?"
"Kamu akan tahu nanti."
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam lift untuk menuju lantai teratas gedung megah itu. Senyum terus mengembang di bibir laki-laki yang kini sedang dalam proses menunggu sang buah hatinya lahir ke dunia. Bagaimana tidak, akhirnya setelah menunggu beberapa bulan penantiannya tidak sia-sia.
__ADS_1
Setiap doa yang dipanjatkan kini telah dikabulkan oleh Tuhan yang maha esa. Istri yang begitu dia cintai kini dapat membalas perasaannya tanpa paksaan. Padahal selama ini mereka hanya saling mendekatkan diri saat sang suami mengajari istrinya tentang agama.
"Malik! Kenapa bengong? Ayo keluar!"