
"Hentikan omong kosongmu itu, dasar pria g*la!" maki Adeline dengan ketus.
Terdengar suara decakan dari seberang sana. Sepertinya pria itu juga kesal dengan makian dari wanita pujaannya. Namun, masih berusaha mengendalikan diri.
"Jangan berani memaki aku dengan mulut seksimu itu, Sayang. Bahkan kau tidak boleh memaki aku walau dalam hati," ujarnya dengan suara selembut sutra.
"Kau membuatku muak! Aku tidak memiliki masalah apapun denganmu. Tapi kenapa kau berulah tanpa batas seperti ini?" tanyanya frustasi.
"Setelah menghina dan merendahkan harga diriku, sekarang kau melupakan kekurangan ajaranmu itu, Sayang. Apakah perkenalanku dengan adikmu masih kurang berkesan?"
Mendengar pertanyaan disertai pengakuannya itu membuat Adeline terkejut. Perempuan yang tengah mengendarai mobilnya seorang diri itu menginjak rem mendadak hingga terdengar suara rem yang berdecit serta gesekan antara ban mobil dengan aspal.
Amarah Adeline membuncah, mendengar pria itu menyangkut pautkan perilakunya dengan kejadian yang dialami oleh adiknya itu. "Jadi benar, kau yang mencelakai adikku?" bentaknya emosi.
"Kau tidak perlu tahu, Sayang. Yang terpenting, mulai saat ini jaga sikapmu padaku. Okey?" Jedanya sebentar. "Ah, satu lagi. Jangan hobi marah-marah. Nanti kau lekas tua," goda pria itu sambil tertawa puas.
"Dasar pria g*la!" seru Adeline dengan napas terengah-engah karena emosi.
Adeline segera mengakhiri panggilan telepon dari pria kurang ajar, gila, dan parahnya dia adalah daun muda. Sulung dari tiga bersaudara itu memejamkan mata untuk mengontrol emosinya lalu kembali melanjutkan perjalanan ketika merasa dirinya sudah lebih baik.
"Tidak ada gunanya aku meladeni pria g*la itu," gerutu Adeline kesal.
Begitu sampai di rumah sakit yang diberitahukan oleh si penolong, Adeline segera turun lalu bergegas masuk. Perempuan itu sedikit berlari menuju tempat resepsionis untuk menanyakan perihal sang adik.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa si resepsionis rumah sakit dengan ramah.
"Maaf, boleh saya tahu adik saya di rawat di ruangan apa, yah?" Karena gugup Adeline bahkan lupa menyebutkan nama sang adik.
"Boleh tahu namanya siapa?" tanya si resepsionis.
"Zic–," Ucapan Adeline terhenti ketika ada suara yang tidak asing memanggil namanya dari belakang.
"Kak Elin," panggil seseorang itu sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
Adeline menoleh ke belakang dan langsung berlari menghampiri seorang pria yang keningnya tertempel perban. "Zico, kamu enggak apa-apa?" tanyanya memastikan sambil memutar tubuh adiknya untuk memeriksa keadaan sang adik.
"Zico enggak apa-apa, Kak. Hanya luka kecil saja," jawabnya santai setelah si kakak menghentikan kegiatannya.
Adeline menepuk pelan bahu adiknya. "Keterlaluan, kamu membuat kakak senam jantung, tahu!"
Zico hanya terkekeh geli melihat ekspresi kesal sang kakak. "Kakak ngapain disini, mana mama dan papa?" tanya Zico seraya mengedarkan pandangan.
"Ngapain disini, nyari berondong jagung!" seru Adeline dengan wajah kesalnya.
"Zico serius, Kak."
"Kakak nyari kamu, lah!" bentaknya sambil menatap sang adik.
Zico memasang ekspresi bingung. "Kakak tahu dari mana kalau aku disini?" tanyanya heran.
"Tadi kakak telpon kamu, tapi yang angkat orang lain. Dia bilang kamu kecelakaan, makanya kakak buru-buru kesini. Kakak kira kamu luka parah, karena dari nadanya orang itu seperti panik."
Zico semakin kebingungan ketika mendapat penjelasan dari sang kakak. "Hape Zico hilang, loh, Kak! Zico juga datang kesini sendiri," ujarnya sejelas mungkin.
"Ya udah, kita pulang aja. Zico mau lihat keadaan papa dan mama," ajak Zico saat Adeline hanya diam dengan tatapan yang entah tertuju kemana.
Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah orang tuanya. Zico yang menyetir mobil milik Adeline. Meski awalnya sang kakak tidak mengizinkan, tetapi pada akhirnya Zico tetap tidak mau kalah.
Tubuh Adeline memang berada di samping Zico, akan tetapi tidak dengan pikirannya. Perempuan itu sedang berusaha bertanya-tanya, sebenarnya siapa pria yang sudah berani mencari masalah dengannya. Dalam satu malam saja dia sudah berbuat di luar batas. Lebih parahnya pria itu juga mengikutsertakan keluarga dalam perselisihan mereka.
Dering ponsel menarik paksa kesadaran Adeline dari lamunannya. Perempuan berparas cantik itu segera mengambil ponsel yang berada di tas. Namun, decak kesal justru keluar dari bibir seksi perempuan tersebut setelah melihat nomor yang tertera di layar.
"Ada apa lagi?" tanya Adeline ketus.
"Kenapa kau masih galak saja, Sayang? Padahal aku sudah berbaik hati tidak menepuk bahu adikmu ketika berkenalan tadi, loh!"
"Kau benar-benar orang tidak tahu malu, yah! Lihat saja, aku akan menuntutmu ke pengadilan." Adeline hanya menggertak, berharap pria itu akan takut dan berhenti mengganggunya.
__ADS_1
Suara tawa menggelar terdengar, sepertinya pria itu sedang meremehkan ancaman dari Adeline. "Coba saja, Sayang. Aku sangat menantikan tuntutan darimu," tantangnya tanpa rasa takut.
Tanpa berkata-kata apapun lagi, Adeline mengakhiri panggilan itu. Jika diteruskan pasti emosinya akan semakin sulit untuk dikendalikan.
Zico yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kini merasa penasaran karena sang kakak membawa-bawa nama pengadilan.
"Siapa, Kak?" tanya Zico heran sambil menatap sekilas sang kakak.
"Orang g*la dan tidak penting. Tidak perlu dibahas!" Adeline kembali menaruh ponselnya ke dalam tas.
"Oh, ya sudah."
Mereka sudah sampai di rumah orang tuanya. Adeline dan Zico bergegas masuk untuk memeriksa keadaan kedua orang tuanya yang tadi sempat syok akibat musibah yang terjadi pada perusahaan. Namun, saat masuk mereka dikejutkan dengan suara barang pecah belah yang terjatuh. Keduanya segera berlari menuju sumber suara itu.
"Papa," panggil keduanya langsung menarik tangan sang ayah yang memegang pecahan kaca.
Antonio berontak saat tangannya di tahan oleh sang putra. "Lepas, Zico! Biarkan saja papa m*ti."
"Enggak, Pah. Semua bisa dibicarakan baik-baik," tolak Zico yang semakin erat menahan sang ayah agar tidak melakukan hal bodoh itu.
"Papa sudah bangkrut, Zico. Papa sudah tidak memiliki sedikitpun harta lagi," teriaknya dengan lantang.
"Pah, hidup itu tidak melulu perkara harta! Inget pa, Papa masih bisa berjuang lagi," ujar Adeline mencoba menenangkan sang ayah.
"Kak Elin, mama kabur!" teriak Grasiella saat melewati tempat yang sudah berantakan itu.
"Astaga! Masalah apa lagi ini," gumam Adeline frustasi.
Sebagai anak sulung tentunya tanggung jawab tentang keluarga ada di pundaknya. Meskipun kedua orang tuanya itu sering kali mengecewakannya, tetapi Adeline tetap saja menyayangi mereka.
"Kalian jaga papa, biar kakak yang cari mama!"
Sementara itu, di depan gerbang sebuah rumah megah terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam. Seseorang yang duduk di kursi penumpang menyeringai penuh kepuasan.
__ADS_1
"Kita lihat, sampai mana kamu mampu bertahan."