Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kekecewaan Malik


__ADS_3

"Mungkin sekeras apapun aku berjuang, kamu tidak akan pernah menoleh padaku, Kayla. Hatimu sudah terpaut oleh Danendra, suami kakak kamu sendiri," ujar Malik seraya menatap sendu sang istri. 


Malik kembali berusaha melepaskan tangan Rihanna yang memegan pergelangan tangannya begitu erat, seolah tidak ingin terpisah dengan seseorang yang namanya dia sebut dalam mimpi. 


Begitu tangan itu terlepas Malik bergegas pergi meninggalkan sang istri. Sesak di hatinya benar-benar membuat tidak tahan jika harus menatap lama-lama wajah cantik itu. Raga Rihanna memang miliknya, tetapi tidak dengan hati sang istri. 


"Argh!" teriak Malik seraya melempar kasar jaket kulit yang tadi membalut tubuh kekarnya. 


Malik menjambak kasar rambutnya yang sedikit ikal dengan sangat kasar berharap rasa sesak di hati dapat tergantikan. Namun, sekeras apapun dia menyakiti diri sendiri, rasa sesak itu tidak kunjung mereda. 


"Kenapa sesakit ini mencintai seseorang yang tidak pernah mengharapkan kita?" tanyanya emosi. 


Laki-laki tampan nan gagah itu menatap nanar ranjang besarnya. Di tempat itulah dia pernah saling memberikan kepuasan bersama sang istri, meskipun nyatanya hal itu terjadi karena keterpaksaan. Namun, Malik berharap suatu hari nanti dapat melakukannya lagi dengan senang hati. 


Kesal, Malik menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk yang sebelumnya sempat dia tarik sepertinya hingga berantakan. Sungguh, hancur sehancur-hancurnya perasaan Malik. Baru pertama kalinya dia jatuh cinta, tetapi sudah memakan hati akibat cinta tak terbalas. 

__ADS_1


Malam semakin larut, udara dingin pun semakin dalam menembus ke tulang-tulang. Malik akhirnya terlelap setelah bergelut dengan perasaan sakit akibat ucapan Rihanna tadi. Walau dalam mimpi sekalipun, Rihanna tetap saja memimpikan Danendra. Hal itu tentu saja membuatnya semakin hancur dan tersakiti. 


***** 


Jika Malik tengah dibuat patah oleh istri yang tidak mencintainya berbeda dengan Danendra yang kini mulai merasakan bahagia. Bagaimana tidak, istrinya itu semakin lama semakin posesif. Terbukti saat ini wanita dewasa itu tengah merajuk. 


"Sayang, ayolah. Jangan marah-marah terus," rengek Danendra sambil menyandarkan kepalanya di pundak Adeline. 


Wanita dewasa itu sedang memberikan asupan nutrisi untuk Devan yang sejak sore tadi belum juga mau tidur. Pria kecil itu terus saja menangis dan baru berhenti saat Danendra sudah pulang. Itulah yang akhirnya membuat Adeline kesal, suaminya itu pergi bahkan tanpa pamit. 


"Kau enak-enakan pergi sesuka hati, sedangkan aku berusaha menenangkan putramu yang terus menangis." Adeline menggoyangkan pundaknya agar sang suami melepaskan dirinya. 


Adeline langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Ucapan sang suami semakin membuatnya kesal. Laki-laki itu pergi sejak sore dan pulang hingga larut malam. Sekarang, dengan entengnya bilang hanya pergi sebentar. 


Reaksi sang istri membuat Danendra menyengir. Dia paham, istrinya itu semakin kesal akibat ulahnya saat ini. 

__ADS_1


"He-he-he, iya. Aku pergi lama, Sayang. Tapi kan aku nganterin mama ketemu …." 


"Ketemu siapa?" tanya Adeline dengan mata memicing saat Danendra tiba-tiba menghentikan ucapannya. 


"Sama suami Rihanna," jawab Danendra lirih. 


"Ulat bulu itu sudah menikah?" tanya Adeline yang masih saja menyematkan sebutan aneh itu untuk Rihanna. 


"Ulat bulu itu adikmu, Sayang," cibir Danendra menahan tawa. 


Adeline mendengus lalu membuang muka agar suaminya itu tidak melihat raut wajahnya yang sedikit menampakkan ketidaksukaan. Walau bagaimanapun Adeline masih sangat ingat dengan perlakuan-perlakuan wanita itu yang mempermalukan dirinya. 


Terlebih lagi ketika pernikahannya dengan Danendra, saat itu Rihanna terang-terangan mengibarkan bendera perang kepadanya. Sampai saat ini pun Adeline masih sangat yakin bahwa wanita itu masih menyimpan perasaan kepada suami berondong di samping. 


"Devan sudah tidur, Sayang. Coba baringkan dia di box bayinya. Sekarang, waktunya kamu membantuku agar tidur nyenyak," ujarnya mengalihkan pembicaraan. 

__ADS_1


Danendra akhirnya mengerti bahwa sang istri belum ingin membahas tentang adik satu ibunya. Mungkin karena baru mengetahui kenyataan bahwa wanita yang sempat hendak merebut suaminya adalah seseorang yang memiliki hubungan dengannya. 


"Tidur saja sendiri sana! Aku sedang tidak mood melayani suami menyebalkan seperti kamu." Adeline menggerutu kesal. 


__ADS_2