Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Meminta Jatah


__ADS_3

Malik mengajak sang istri untuk pulang ke rumah. Selain hari memang sudah menjelang sore, Malik juga tidak ingin jika Rihanna terlalu lelah dan banyak beban pikiran. 


Saat di dalam perjalanan pulang, Malik tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Laki-laki berparas tampan itu menghentikan laju mobilnya saat melihat ada minimarket.  


"Ngapain berhenti, Malik?" tanya Rihanna saat suaminya itu hendak turun. 


"Kamu tunggu di sini sebentar! Aku perlu membeli sesuatu," jawabnya seraya membuka pintu mobil lalu turun dari sana. 


Rihanna menatap sang suami yang berjalan masuk ke sebuah minimarket. Wanita hamil itu sempat bingung karena sang suami justru menyuruhnya tetap menunggu di mobil. Namun, dia mengedikkan bahunya acuh saat merasa itu tidak penting. 


Sambil menunggu Malik yang entah sedang mencari apa di dalam tempat perbelanjaan itu, Rihanna memainkan ponselnya. Dia menscroll deretan foto kebersamaannya dengan sang ayah. Meskipun ayah kandungnya itu memang kurang perhatian, tetapi Rihanna cukup memiliki banyak momen kebersamaan dengan laki-laki paruh baya yang kini mendekam di balik jeruji besi. 


Di setiap kesempatan, Rocky selalu mengajaknya saat ada acara apapun dengan para relasi bisnis. Selama ini sang ibu tidak pernah bersedia menemani jika tidak dipaksa ataupun diancam. 


"Papa, kenapa harus seperti ini? Rihanna masih butuh papa." 


Terlalu larut dalam kenangan-kenangan bersama Rocky, Rihanna sampai tidak menyadari kedatangan sang suami. Wanita hamil itu terjingkat kaget dan menjatuhkan ponsel yang dia pegang saat tiba-tiba mendengar suara pintu mobil yang ditutup. Malik sudah duduk di kursi kemudi dengan tatapan bingung atas reaksi sang istri yang seperti sedang terkejut. 


"Kamu kenapa, Kayla?" tanyanya sambil menunduk untuk mengambil ponsel Rihanna yang terjatuh. 


Ketika Malik sudah berhasil mengambil ponsel Rihanna, wanita itu langsung merebut benda canggih itu. Namun, sayangnya Malik sudah melihat layar ponsel itu sekilas. 


Rihanna buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia tidak ingin sang suami mengetahui atas kesedihannya saat itu. Akan tetapi, nyatanya Malik sangat tahu tentang hal itu. 


"Kamu masih menyesali keputusan papa kamu?"


"Apakah ada seorang anak yang merasa senang dan akan mendukung keputusan orang tuanya yang tiba-tiba menyerahkan diri kepada kepolisian? Aku rasa tidak akan ada." 


"Harusnya kamu bersyukur, Kayla. Papa sudah bertaubat dan menyesali semua perbuatannya. Apa yang dilakukan papa tidak salah. Setiap perbuatan pasti ada pertanggungjawaban." 


"Tapi aku masih membutuhkannya, Malik!" 


"Aku tahu. Jadi, mulai sekarang aku yang akan menjadi sosok suami serta ayah untuk kamu," timpal Malik dengan yakin. 

__ADS_1


Rihanna tidak mengucapkan apapun. Dia masih bingung harus menjawab ucapan suaminya itu. 


"Kita pulang sekarang!" ajak Malik menyalakan mesin mobil. 


"Kamu beli apa?" tanya Rihanna saat tidak melihat suaminya membawa apapun. 


"Ada lah," jawabnya singkat. 


*****


Adeline merasa prihatin dengan apa yang menimpa sang ibu. Wanita paruh baya itu sekarang lebih sering melamun sejak Rocky menyerahkan diri kepada polisi. Adeline paham, mungkin ibunya sedang bimbang untuk menemui atau membiarkan laki-laki itu mempertanggungjawabkan perbuatannya. 


"Sayang, sedang apa?" tanya Danendra tiba-tiba memeluk sang istri yang sedang berdiri di balkon kamarnya. 


"Lihat mama, Nendra." Adeline menunjuk sang ibu yang duduk termenung sendirian di samping kolam renang. 


Danendra mengikuti arah pandang sang istri. Menatap lekat-lekat sang mertua yang memang seperti sedang memikirkan beban berat. 


Laki-laki bergelar ayah satu anak itu membalikkan tubuh istrinya menghadap kearahnya. Menangkup wajah cantik sang istri lalu memberikan kecupan singkat di bibir berwarna merah muda itu. 


"Aku sudah menawarkan mama untuk menemui suaminya, Nendra. Tapi … mama tidak mau," ujar Adeline dengan sendu. 


Melihat sang ibu terus-terusan murung tentu membuatnya sedih. Adeline juga ingin sang ibu merasa bahagia, apa lagi selama ini hidupnya selalu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. 


"Mungkin mama belum siap melihat laki-laki yang bersamanya selama berpuluh-puluh tahun akhirnya dipenjara. Sekarang yang terpenting jangan membuat mama merasa kesepian." 


Adeline mengangguk setuju dengan ucapan sang suami. Untuk saat ini yang paling dibutuhkan oleh ibunya adalah dukungan dan energi positif dari orang-orang disekitar. 


"Devan mana, Sayang?" 


"Dia tidur di kamar Mama Silvia. Kamu kenapa jam segini udah pulang?" 


"Aku rindu kamu," bisiknya mesra di telinga istrinya. 

__ADS_1


"Masih sore, Nendra!" seru Adeline paham ke mana arah pembicaraan sang suami. 


"Tidak masalah melakukannya kapanpun. Ayolah! Aku sudah tidak dapat jatah lama, loh!" Danendra merengek seperti bayi. 


Adeline tertawa geli saat melihat sang suami merengek. Merasa kasihan karena memang suaminya itu sudah beberapa lama tidak mendapatkan haknya setelah dia melahirkan Devandra, Adeline pun mengangguk setuju. 


Raut wajah Danendra berubah ceria seketika. Laki-laki itu segera membopong tubuh istrinya ke ranjang dan menurunkannya perlahan-lahan. Suasana sore menjelang senja menyapa itu terasa lebih indah dengan suara kedua insan yang saling bersahutan serta sentuhan-sentuhan lembut yang terjadi di kamar utama mansion Alefosio. 


Cukup lama mereka melakukan pemanasan hingga Danendra memutuskan untuk segera memasuki bagian inti setelah mereka sama-sama sudah polos. Sayangnya, Dewi Amore sepertinya sedang tidak memihak pada mereka. 


Ketika Danendra baru saja akan mengarahkan pusakanya pada lembah yang sudah lama tidak terjamah itu tiba-tiba kegiatan mereka harus terhenti. Suara ketukan pintu berulang kali membuat mereka terpaksa mengurungkan niat. Danendra turun dari atas tubuh molek sang istri. 


"Biar aku saja yang memeriksa, Sayang! Kamu tunggu di sini." Laki-laki itu menggapai celana yang sempat terserak lalu kembali memakainya. 


Danendra berjalan ke arah pintu kamar untuk memeriksa siapa orang yang sudah mengganggu kesenangannya. Sementara itu, Adeline segera membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. 


"Ada apa?" tanya Danendra dengan tatapan menyeramkan kepada seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya. 


"Maaf, Tuan. Ada meeting dadakan yang tidak bisa ditunda. Mereka memaksa datang kemari karena tidak mau menunggu lagi." 


"Kau mau mati, yah! Menggangguku hanya karena masalah seperti ini. Jika mereka tidak mau menunggu maka batalkan! Perusahaanku tidak akan bangkrut hanya karena orang-orang menyebalkan seperti mereka." 


Gerry menelan ludahnya kasar. Inilah yang sejak tadi membuatnya maju mundur untuk menyetujui permintaan klien yang memang sangat menyebalkan itu. Namun, hubungan baik si wanita menyebalkan serta keluarga tuan mudanya ini tidak mungkin membuatnya berani membantah. 


"Tapi, Tuan. Klien ini adalah … Nona Syafira," gumamnya dengan sangat lirih. 


"Aku tidak peduli!" 


Danendra membanting pintu kuat-kuat hingga Gerry yang ada di depan pintu terlonjak. Laki-laki kepercayaan Danendra itu mengelus dadanya sendiri. "Untung jantungku kuat, kalau tidak pasti sudah mati muda." 


Tiba-tiba pintu kembali terbuka, Danendra memberi tatapan tajam kepada sekretarisnya itu. "Sekali lagi kau berani menggangguku, biar kupotong pusakamu sampai habis!" 


__ADS_1


__ADS_2