
Seperti yang diperintahkan oleh si atasan. Celine menemui Malik yang sudah menunggunya di halaman depan villa.
Ada sedikit rasa penasaran kenapa sang bos memintanya untuk menemuinya. Namun, dia pun tetap melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh Malik.
Pelan-pelan Celine berjalan mendekati sang bos yang tengah duduk di sebuah kursi kayu yang berada di sana. Dia menghentikan langkahnya saat sudah berada di samping kursi yang diduduki oleh Malik.
"Duduk!" perintah Malik dengan nada datar.
"Baik, Bos." Celine menurut, dia duduk di kursi lain yang berada di samping sang atasan.
"Cel boleh aku tanya padamu?" tanya Malik, sekilas dia melirik si sekretaris.
"Tanya apa, Bos?" tanya balik Celine.
"Kamu suka pada Gerry?" tanyanya tiba-tiba.
Celine seketika menoleh ke arah si bos dengan raut wajah kaget. "Kenapa bos bertanya tentang hal itu?"
"Tidak apa-apa, hanya memastikan saja." Malik sejenak menatap Celine untuk melihat reaksi wanita itu. "Kau menyukainya?" tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak, Bos. Saya bahkan kesal pada laki-laki menyebalkan itu," jawab Celine dengan berapi-api.
"Yakin?"
"Iya, Bos."Celine tampak yakin dengan ucapannya.
Malik tersenyum samar, kepalanya pun menggeleng pelan. "Jangan terlalu yakin dengan apa yang belum pasti, Cel. Kita tidak pernah tahu takdir Tuhan akan seperti apa." Malik menasehati wanita tomboi itu.
"Maaf, Bos," gumamnya lirih.
"Minta maaflah pada diri kamu sendiri, Cel. Aku tidak melarangmu untuk menyukai seseorang, tapi satu pesanku untukmu, jangan terlalu berlebihan dalam menyukai atau membenci seseorang," katanya memperingati Celine.
"Maaf, Bos. Tapi maksud anda gimana?" tanya Celine yang belum paham kenapa Malik menasehatinya seperti itu.
"Aku tahu kamu masih memiliki tanggungjawab pada keluarga kamu. Aku pun merasa bangga padamu, Cel. Aku mendukung jika kamu masih mau menjaga hati demi keluarga kamu. Tapi, hati orang tidak ada yang tahu, 'kan? Siapa tahu ternyata orang yang kamu benci adalah jodohmu."
__ADS_1
Kening Celine mengkerut. "Anda sedang membicarakan siapa sebenarnya?" tanya Celine yang belum juga paham.
"Aku kenal siapa Gerry, dia laki-laki baik meskipun kadang sikapnya diluar nalar. Tapi aku juga ingin memperingati kamu agar tidak terjebak dalam cinta buta seperti kemarin," kata Malik, dia bangkit lalu pergi meninggalkan Celine sendirian di halaman depan villa.
"Bos Malik abis minum apa, sih? Kenapa ngomongnya melantur ke mana-mana?" gumam Celine bingung.
Tidak jauh berbeda dengan Malik yang menasehati sang sekretaris, Danendra pun melakukan hal yang sama. Dia sedang duduk di halaman belakang villa bersama Gerry.
"Tuan, kenapa anda malah duduk di sini bersama saya?" tanya Gerry heran, sudah hampir dua jam mereka duduk di tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku sedang memikirkanmu, Gerr." Danendra menjawab seadanya pertanyaan tangan kanannya.
Gerry merespon jawaban tuan mudanya dengan senyum kecut. Dia tahu, sang tuan muda pasti sudah menyelidiki Indira. "Tidak perlu dipikirkan, Tuan. Saya baik-baik saja," tutur Gerry, rasa sesak itu kembali menghimpit relung hatinya.
"Jangan bohong, Gerr. Kita sudah lama hidup bersama, 'kan? Aku tahu semua tentangmu," balas Danendra tegas.
"Sudahlah, Tuan. Saya tidak ingin mengingat-ingat tentangnya lagi," sahut Gerry ingin segera menghentikan obrolan mereka.
"Aku pun tidak ingin kau mengingatnya lagi. Aku hanya ingin kau mulai membuka lembaran baru. Aku lihat Celine wanita baik-baik, dia juga sangat mengutamakan keluarganya.
"Lalu, Tuan ingin aku menikahinya, begitu?"
"Saya tidak bisa, Tuan. Saya datang ke sini untuk menjaga nyonya muda dan tuan kecil," tolak Gerry tidak kalah tegas.
"Aku bisa menjaga mereka, Ger. Lagi pula ada pengawal juga," bujuk Danendra yang belum menyerah.
"Saya bilang tidak, ya tidak, Tuan. Tolong hargai perasaan saya," pinta Gerry, dia bangkit dan berdiri di samping Danendra. "Lebih baik anda menemani nyonya dari pada sibuk menjodoh-jodohkan saya dengan wanita aneh itu," katanya sebelum melenggang pergi dari sana.
Danendra hanya menghela napas panjang sebelum berkata, "Kau memang selalu keras kepala jika masalah hati."
*****
Keesokan harinya Celine sedang duduk sendirian di tepi kolam renang. Kedua kakinya masuk ke dalam air. Pandangannya kosong seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
Semalam dia mendapat kabar dari adiknya bahwa sang ibu jatuh sakit. Wanita tua yang sudah melahirkan itu memang memiliki riwayat penyakit ginjal yang mengharuskannya cuci darah rutin. Namun, karena keterbatasan biaya, sang ibu terpaksa menghentikan pengobatan.
__ADS_1
Seseorang datang dari arah belakang, berdiri dan mengamati Celine yang masih termenung sendirian di sana. Dia pun mengurungkan, tetapi hingga dua kali dia melakukan itu, Celine belum juga bereaksi.
"Nona," suara seseorang terdengar lembut, di susul oleh tepukan pelan di bahu akhirnya menarik kesadaran Celine.
Dia menoleh, lalu tersenyum canggung saat di sampingnya ada seorang pria yang berdiri dengan tangan yang masih bertengger di bahunya. Si pria yang sadar akan kekurangan ajarannya pun segera melepas tangannya dari bahu si wanita.
"Maaf," ucapnya disertai senyum canggung juga.
"Tidak apa-apa," jawab Celine singkat.
"Boleh saya ikut duduk, Nona?" tanya si pria dengan sopan.
Celine mengangguk kecil, "Silahkan, Tuan," jawabnya ramah.
Pria itu pun ikut mendudukkan dirinya di tepi kolam renang. Ikut melakukan apa yang dilakukan oleh Celine yakni bermain-main air dengan kedua kaki jenjangnya.
"Dingin, loh!" tegur si pria saat merasakan kakinya langsung dingin setelah masuk ke dalam air kolam.
Celine hanya menanggapi dengan senyum tipis. Dia tidak mengeluarkan sedikitpun suaranya untuk berbicara dengan lawan jenisnya ini.
"Kamu sudah lama jadi asisten Malik?" tanya pria itu tiba-tiba.
"Belum lama," jawabnya seadanya.
Pria itu mengedarkan pandangan sebelum berkata, "Dia galak, yah?"
"Tidak, Tuan. Bos Malik adalah laki-laki terbaik yang pernah saya temui," jawab Celine, tatapannya masih menatap ke dalam air kolam.
"Masa, sih? Padahal, di keluarga kita, dia terkenal paling galak, loh!"
"Bos Malik tidak galak, Tuan. Dia hanya tegas terhadap apa yang dia yakini benar. Saya bisa menjamin itu," kata Celine tanpa keraguan sedikitpun.
Si pria memicingkan sebelah matanya, "Kamu tidak menyukainya, 'kan?" tanyanya curiga.
Celine menghentikan kakinya yang sejak tadi asik bermain air, lalu menaikkannya ke atas. "Maaf, Tuan. Hubungan kami hanya sebatas bawahan dan atasan saja." Celine bangun dari posisinya, "Saya permisi," pamitnya lalu melenggang pergi.
__ADS_1
Pria itu menghela napas lega, "Baguslah kalau dia tidak memiliki perasaan pada Malik, itu artinya aku masih memiliki peluang." Dia bangkit dari posisinya lalu mengejar Celine yang sudah sedikit jauh. "Nona, tunggu saya," teriaknya dengan suara cukup lantang.
Sementara itu, seseorang sedang bersembunyi dibalik tanaman yang ada di ruangan itu. Kedua tangannya mengepal erat, raut wajahnya terlihat bahwa saat ini dia tengah bergelut dengan amarah.