Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Pernikahan Sederhana


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Malik keluar dari kamarnya dengan membawa selembar kertas. Laki-laki itu menyodorkan kertas yang bertuliskan tangannya sendiri ke hadapan Rihanna. Meski ragu, Rihanna menerima kertas dari Malik lalu membacanya. 


"Kamu serius, Malik?" tanya Rihanna setelah membaca poin demi poin yang tertulis di kertas berwarna putih. 


"Ya. Jika kamu setuju, silahkan tanda tangani surat perjanjian itu." Malik memberikan bolpoin kepada Rihanna yang langsung diterima oleh wanita itu. 


Rihanna menatap surat perjanjian itu dan Malik bergantian. Hatinya masih ragu untuk memutuskan pilihan mana yang akan dia ambil. Jika dia tidak bersedia menikah dengan Malik, itu artinya dia harus angkat kaki dari apartement tersebut. Sedangkan saat ini dia tidak memiliki siapapun yang bisa dijadikan sandaran. 


Perempuan muda itu memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam. Tangan kanannya menuntut sebuah bolpoin yang diberikan oleh Malik. Mengukir goresan pena yang melambangkan identitas dirinya. 


"Aku setuju, tapi pegang janjimu, Malik. Aku tidak ingin ada kontak fisik diantara kita!" 


Rihanna mengembalikan kertas berisi perjanjian pernikahan yang dibuat oleh Malik. Setelah itu dia bangkit berdiri lalu berjalan menuju kamar. 


Malik menatap nanar punggung Rihanna yang kini mulai menghilang setelah masuk ke dalam kamarnya. Malik memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang dan menjatuhkan dirinya di sofa. 


"Aku tahu, kamu seperti ini karena ada seseorang yang masih kamu harapkan, Kayla. Tapi tidakkah kamu sadar, seseorang itu sudah memiliki keluarga sendiri. Apa kamu iklas jika harus menjadi seorang pelakor dalam rumah tangga kakakmu sendiri?"  


Sejak saat itu Rihanna dan Malik saling diam. Mereka beraktivitas seperti biasa, hanya saja tidak ada sedikitpun pembicaraan antara keduanya. Rihanna masih belum dapat menerima kenyataan bahwa akhirnya dia harus menikah dengan seorang pria asing yang baru beberapa hari dikenalnya. 


Dua hari setelah kedatangan kedua orang tua Malik, acara pernikahan Rihanna dan Malik pun di gelar secara sederhana hanya di apartment. Malik mengucapkan ijab qobul atas nama Rihanna yang sebelumnya sudah mengucap dua kalimat syahadat. 


Akhirnya mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Para saksi dan yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini di apartment hanya ada Malik, Rihanna, dan kedua orangtua Malik. 


"Selamat, ya, Sayang. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain," ujar Riani, ibunda Malik. 

__ADS_1


Rihanna hanya tersenyum kecut saat wanita paruh baya itu memeluknya dengan erat. Sungguh, bukan ini yang dia inginkan. Seumur hidupnya, satu-satunya pria yang ingin dia jadikan sebagai pasangan hanyalah Danendra. 


"Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Apapun yang kamu rasakan, terbukalah pada kita, Kayla." Wanita paruh baya itu melepaskan pelukan eratnya. 


"I-iya, Tante," jawab Rihanna canggung. 


"Kok masih panggil tante, Sayang!" protes Riani. 


"Panggil mami, Sayang." Riani mengelus pelan pundak Rihanna yang mengenakan kebaya pengantin. 


"Iya, Ma-mi," jawab Rihanna yang benar-benar merasa canggung. 


"Mi, ayo kita pulang. Jangan mengganggu malam pertama pengantin baru!" seru sang suami. 


Riani mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda sang putra. Namun, Malik justru mendengus dan berlalu menuju dapur. Setelah melihat Malik pergi, wanita paruh baya itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah botol dari tas miliknya lalu menyerahkannya kepada sang menantu. 


"Ini apa, Mi?" tanya Rihanna yang tidak tahu minuman jenis apa yang diberikan oleh sang mertua. 


"Ini ramuan kesehatan. Malik sudah biasa meminumnya, kok!" 


"Oh. Kalau begitu kenapa tidak mami saja yang memberikannya?" 


"Malik kan sudah memiliki kamu sebagai istrinya. Mami yakin kamu pasti bisa mengurusnya dengan baik," bisiknya lirih. 


"Mami, ayo! Sudah larut malam ini." 

__ADS_1


"Iya-iya, Pi. Sabar kenapa, sih?" 


"Mami pulang dulu ya, Sayang." 


"Mami tidak menunggu Malik dulu?" tanya Rihanna lembut. 


"Tidak perlu. Anak itu pasti paham kalau papinya itu sedang kumat," jawabnya ambigu. 


"Oh, ya sudah kalau begitu. Ma-mi hati-hati di jalan," tutur Rihanna yang sebenarnya merasa sungkan. 


Kedua orangtua Malik akhirnya pergi dari apartement tersebut. Meninggalkan sepasang pengantin baru agar mereka dapat menikmati malam pertama tanpa gangguan. Setelah kepergian kedua orangtuanya, Malik baru kembali dari dapur. 


Rihanna langsung menyodorkan botol berisi ramuan yang diberikan oleh mertuanya kepada Malik. Laki-laki itu mengerutkan keningnya saat merasa heran dengan apa yang di sodorkan oleh istrinya. 


"Ini apa?" tanya Malik seraya mengambil botol itu. 


"Enggak tahu. Mami menyuruhmu untuk meminumnya sebelum tidur." 


Rihanna langsung meninggalkan sang suami yang masih terheran-heran. Laki-laki itu menatap botol di tangannya dan berpikir keras tentang isi di dalam botol tersebut. 


"Ini apa, ya?" 


Malik membolak-balikkan botol itu, mengamati dari warnanya yang agak lain dari minuman-minuman yang selama ini pernah dia konsumsi. Namun, rasa kantuk tiba-tiba datang. 


"Ah, paling juga jamu tradisional buatan mama. Ini pasti untuk menjaga kesehatanku yang akhir-akhir ini sering kelelahan." Tanpa pikir panjang, Malik meneguk ramuan itu hingga hanya tersisa seperempat saja. 

__ADS_1


Setelah meminum cairan itu, Malik bergegas masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Laki-laki itu menjatuhkan diri di kasur empuk dan langsung memejamkan matanya. 



__ADS_2