
Rihanna dan Malik turun ke lantai bawah dengan tangan yang saling bergandengan. Mereka segera menuju ruang makan untuk menyusul kedua orang tuanya yang sudah menunggu di sana.
Saat sampai di ruang makan, kedua orang tua itu menatap ke arah anak serta menantunya dengan senyum yang tersungging di bibir mereka. Pandangan mereka mengarah pada tangan Malik yang menggenggam mesra tangan mulus Rihanna.
"Mami kenapa menatap kita seperti itu? Ada yang salah?" tanya Malik kepada ibunya.
Riani buru-buru membuang pandangan. Wanita itu berpura-pura mengambilkan makanan untuk sang suami, padahal piring itu sudah hampir penuh oleh makanan.
"Mam, sudah! Perut papi tidak seluas itu untuk makan makanan dengan porsi besar seperti itu." Ibrahim menegur sang istri yang asik menyendok nasi ke piringnya.
"Ah, maaf, Pi. Mami cuma enggak mau kalau papi sampai kelaparan," elaknya dengan tawa terpaksa.
Maklum saja Riani bersikap seperti itu karena dia sempat memergoki apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya di kamar tadi. Riani sama sekali tidak ingin membahas apa yang tadi dilihatnya.
"Ayo makan, Sayang," ajak Malik yang langsung di angguki oleh Rihanna.
Malik menarik kursi untuk sang istri duduk. Namun, Rihanna menggeleng saat laki-laki itu menyuruhnya untuk duduk lebih dulu.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Aku mau ambilkan kamu nasi dulu, jadi sekarang kamu saja yang duduk. Aku bisa sendiri nanti," ujarnya seraya mengambil piring kosong di depannya.
Malik tersenyum, begitu juga dengan Ibrahim dan Riani. Mereka ikut senang atas perkembangan hubungan pernikahan sang anak dan menantunya.
Rihanna menyendokkan nasi lalu memperlihatkannya kepada Malik untuk bertanya apakah nasi yang dia ambilkan sudah cukup. Wanita itu menghentikan kegiatannya saat melihat sang suami sudah mengangguk.
"Mau lauk apa, Malik?" tanyanya seraya menatap lembut sang suami.
"Sayur dan ayam goreng saja," jawabnya tidak kalah lembut.
Rihanna mengangguk paham lalu segera mengambilkan makanan yang disebut oleh suaminya. Setelah selesai, wanita hamil itu memberikan piring yang sudah terisi kepada suaminya.
"Terima kasih, Kay," ucap Malik seraya menerima uluran piring yang telah terisi.
"Sama-sama," jawabnya singkat.
Rihanna kembali mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Namun, porsinya lebih kecil dari biasanya. Hal itu tentu membuat kedua orang yang ada di sana menatap bingung wanita hamil itu. Sedangkan Malik sendiri hanya menghela napas berat karena sudah tahu alasan istrinya mengurangi porsi makan.
__ADS_1
"Kamu makan sedikit seperti itu memangnya kenyang, Rihanna?" tanya Riani heran.
"Kayla takut gemuk, Mam."
Ucapan Malik barusan membuat Riani terkejut. Wanita paruh baya itu menggeleng atas kelakuan unik sang menantu.
"Orang hamil ya memang harus semakin gemuk, Rihanna. Kalau kurus terus gimana bayi kamu akan berkembang?"
"Dia takut aku melirik wanita lain, Mam," sela Malik yang langsung membuat Rihanna melotot.
"Benar begitu, Rihanna?" tanya Riani memastikan.
Mertua baik hati itu menatap lembut sang menantu yang mungkin sedang berubah mood. Itu sudah terbiasa terjadi pada ibu hamil. Meskipun dia sendiri hanya merasakan satu kali kehamilan, tetapi Riani sangat paham dengan kondisi ibu hamil yang memang sering berubah mood tiba-tiba.
Rihanna mengangguk malu-malu untuk mengakui perasaannya di hadapan sang mertua. Walau apa yang dikatakan oleh Malik memang adalah kebenaran, nyatanya dia masih malu jika perasaannya diketahui orang lain selain sang suami.
"Kamu tenang saja, Sayang. Jika hal itu terjadi, mami sendiri yang akan memotong pusaka suamimu hingga habis."
"Mami!" pekik Malik tidak terima.
Walau dia tidak memiliki niatan untuk melirik wanita lain, tetapi ucapan sang ibu terdengar begitu mengerikan di telinganya. Malik bukan takut, hanya tidak terbayangkan saja jika di dunia ini ada kejadian semacam itu.
Malik mendengus kesal. Tidak ingin semakin dipojokkan laki-laki itu memutuskan untuk menyantap sarapan paginya. Sedangkan Rihanna sendiri terkikik geli saat melihat reaksi kaget suaminya tadi.
Beberapa saat kemudian mereka telah selesai menyantap sarapannya. Malik yang memang buru-buru langsung bangkit setelah meneguk air putih hingga tandas.
"Malik!" seru Rihanna yang seketika menghentikan langkah sang suami.
"Kenapa, Kay?" tanya Malik bingung.
"Sebentar," ujarnya yang kemudian berdiri dan menyusul sang suami.
Tangan Rihanna terulur menggapai kain berwarna hitam yang berada di kerah kemeja suaminya. Dia merapikan kain bernama dasi itu dengan cepat lalu menepuk kedua bahu suaminya.
"Nah, sudah rapi."
Malik menerbitkan senyum sumringah setelah mendapat perhatian kecil seperti ini dari istrinya. Wanita yang selama ini selalu cuek dan terkesan menjaga jarak darinya itu kini mulai sangat perhatian padanya.
__ADS_1
Tidak hanya Malik yang berbahagia, tetapi dua orang paruh baya yang sedang duduk di kursi ruang makan tersebut ikut merasakan kebahagiaan sang putra.
"Terima kasih, Sayang," ujar Malik yang kembali membalikkan tubuhnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Malik!"
"Ada apa lagi, Kay?" tanyanya heran.
Dia sedang terburu-buru dan istrinya itu seperti enggan mengizinkannya untuk pergi. Sejak tadi ada saja yang dia lakukan untuk menahannya di tempat itu.
"Kamu belum salaman sama aku," protes Rihanna dengan bibir mengerucut.
Wanita hamil itu sempat mencari tahu tentang rumah tangga yang selalu dikatakan oleh mertuanya yaitu sakinah, mawadah, dan warahmah. Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh mereka yang berusaha menjalankan rumah tangga yang seperti itu.
"Ya ampun, maaf, aku lupa." Malik mengulurkan tangan kanannya yang langsung diterima oleh Rihanna.
Wanita itu mengecup lama punggung tangan suaminya itu. Malik membiarkan sang istri melakukan apa yang sedang ingin dilakukan. Meski sebenarnya dia sedang sangat buru-buru, tetapi baginya perasaan sang istri lebih penting.
"Kamu bukan lupa, Malik. Tapi memang kita yang belum terbiasa," ujar Rihanna setelah melepaskan tangan suaminya.
"Iya, kita hanya belum terbiasa," jawabnya dengan senyum tipis.
"Kamu enggak cium kening aku?" tanyanya tiba-tiba.
Riani dan Ibrahim bahkan sampai terkejut dengan ucapan menantunya barusan. Wanita itu tiba-tiba menawarkan diri untuk dicium oleh laki-laki yang selama ini dia hindari.
"Kamu enggak keberatan?" tanya Malik ragu-ragu.
"Sudahlah, Malik. Tinggal kecup kening istrimu! Apa repotnya?"
Malik bergantian menatap istri serta orang tuanya. Walau hatinya berbunga-bunga karena sang istri sudah mulai membuka hati, tetapi Malik masih malu jika harus melakukan kegiatan seintim itu di depan orang.
Sang suami tidak segera mencium keningnya, Rihanna berinisiatif untuk mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami. Wanita hamil itu tanpa buang-buang waktu menempelkan dahinya pada bibir tebal suaminya.
Malik tertegun saat melihat keberanian sang istri melakukan kegiatan itu di depan orang tua mereka. Sementara itu, Riani dan Ibrahim saling senggol dan langsung berpura-pura mengalihkan pandangan.
"Mulai sekarang, kamu harus selalu Salim dan cium kening aku setiap mau pergi!"
__ADS_1