Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Insiden Tertusuk


__ADS_3

"Sayang, plis, jangan menghalangi aku untuk melindungi kalian. Ini sudah menjadi tugasku," kata Danendra masih berusaha membujuk Adeline. 


Pria itu berkali-kali menoleh ke belakang, tempat di mana mobil yang dibajak oleh musuh berhenti. Danendra semakin cemas saat melihat segerombolan orang keluar dari mobil yang sudah ringsek itu, di tangan mereka memegang masing-masing satu pistol. Sementara itu, sang istri masih saja menghalanginya. 


"Tuan, bagaimana ini?" tanya Gerry yang sudah menghentikan mobilnya serta turun dan langsung mendekati sang majikan. 


"Kau antarkan istri dan menantuku pulang! Mereka biar aku yang tangani." Danendra dengan tegas mengambil keputusan, pria itu langsung turun dari mobilnya. 


Usai Danendra turun dari kursi kemudi, kini Garry yang akan menggantikan tugas tuan mudanya. Namun, baru saja dia naik, sang nyonya muda justru turun. 


"Nyonya, jangan turun!" teriak Gerry panik, pria kepercayaan Danendra itu langsung berlari mengikuti sang nyonya muda begitupun juga Nabila, wanita paruh baya itu juga ikut mengejar Adeline.  


Segerombolan musuh itu menarik pelatuknya masing-masing saat melihat sasarannya sedang berjalan ke arahnya. Suara tembakan pun memenuhi jalanan sepi itu. Danendra berkali-kali bersembunyi ketika mereka masih saja menembaki dirinya. 


Tidak mau kalah oleh para musuh pengecut itu, Danendra juga mengambil pistol miliknya yang berada di sela-sela pinggang, kemudian mengaturnya hingga dalam siap tembak.


Suara baku tembak pun tidak terelakkan, di sebuah jalanan sepi itu, banyak darah yang berceceran, ada juga yang sampai tersungkur ke jalan dengan kondisi bersimbah darah. 


"Bedebah sialan! Kalian sudah berani mengganggu ketenanganku!" Danendra tanpa rasa belas kasih membombardir musuh menggunakan senjata api kesayangannya. 


Terlalu asik melayani tembak menembak dengan musuh, Danendra sampai tidak peka dengan keadaan sekitar. Pria itu sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang dari balik pepohonan.  


"Sayang, awas!" seru Adeline, wanita dewasa itu berlari menghampiri suaminya, lalu memeluknya dengan erat ketika melihat seseorang sedang berniat jahat kepada suami tercinta. 


"Agh!" Suara rintihan keluar tanpa sengaja dari bibir mungil sang istri, ketika dagingnya terpaksa berkenalan dengan logam pipih beruncing tersebut.


"Nyonya muda!" teriak Gerry saat melihat seseorang menancapkan sebilah pisau di punggung istri tercinta tuan mudanya. 


Danendra membalik tubuhnya, "Sayang!" pekik Danendra terkejut. 


Seketika Danendra naik pitam ketika melihat seseorang yang masih berdiri di belakang punggung istrinya. Cairan kental berwarna merah mengalir dari punggung wanita dewasa itu. 

__ADS_1


"Elin!" teriak Nabila dengan suara nyaringnya, wanita paruh baya itu menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Dia masih tidak percaya sebab sang putri mengorbankan diri untuk menyelamatkan suaminya. 


"Dasar, bedebah!" teriak Danendra, tangan kanannya langsung mencekal pergelangan tangan si pelaku penusukan yang berniat kabur, sedang tangan kirinya digunakan untuk menopang tubuh sang istri. 


Melihat keadaan yang semakin kacau, Gerry pun ikut mengeluarkan pistol miliknya. Dia menembaki para musuh yang belum juga menyerah. Sementara itu, Danendra sendiri sedang memelintir tangan pelaku yang sudah menyakiti istrinya itu hingga menjerit. 


"Kau sudah berani menyakiti istriku, sekarang terima akibatnya." Pria itu memelintir semakin keras lalu menendang pantat si pelaku hingga terdorong ke depan, otomatis tubuhnya pun ikut tertarik, tetapi tidak dengan tangannya, tangan itu masih ditahan oleh Danendra dengan erat hingga pelaku itu menjerit kesakitan memohon ampun.


"Maaf, Tuan," mohon si pelaku, tetapi hati Danendra sama sekali tidak tersentuh. 


Danendra dengan sekuat tenaga justru mengangkat si pelaku menggunakan satu tangannya lalu membantingnya ke bawah. Gerry yang sudah selesai melayani baku tembak dengan para musuh, kini berlari mendekati sang tuan muda. 


Tidak puas hanya membuat si pelaku cedera pada bagian tangan serta membantingnya ke bawah, Danendra berniat ingin menendang kepala si pelaku dengan kakinya. Namun, Gerry dengan cepat menahannya. 


"Jangan, Tuan. Jika dia mati, kita tidak akan mendapat petunjuk apapun," ucap Gerry. 


Raut wajah Danendra masih merah padam, giginya bergemelatuk mengartikan bahwa pria itu tengah dikuasai oleh amarah. Namun, saat melihat sang tangan kanan yang menahannya, Danendra pun semakin emosi. 


"Tidak, Tuan. Mana mungkin saya mengkhianati anda," jawabnya yakin, Gerry melihat kembali Kondisi istri sang tuan muda yang semakin berlumuran darah, "Lebih baik anda bawa nyonya ke rumah sakit, Tuan. Biar dia saya yang mengurusnya," sambung Gerry, seketika Danendra mengubah ekspresinya yang semula penuh amarah menjadi khawatir, apa lagi Adeline kini dalam keadaan tidak sadar. 


"Sayang, bangun!" serunya kepada Adeline, sayangnya tidak ada jawaban apapun. 


Nabila berlari menghampiri sang menantu yang kini membopong tubuh putri sulungnya, "Ndra, kita bawa Elin ke rumah sakit sekarang!" 


Danendra pun bergegas pergi ke rumah sakit, berbeda dengan Gerry yang mengurus pelaku penusukan sang nyonya untuk dibawa ke markas. Dia akan mengintrogasi pelaku itu tentang siapa orang yang menjadi dalang dalam insiden penyerangan tersebut. 


*****


Seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Nabila menatap sendu sang menantu yang sedang duduk di lantai bersandar pada dinding. Kepalanya tersembunyi diantara kedua lututnya. 


Kasihan pada anak sang sahabat sekaligus menantunya itu, Nabila beranjak, lalu berjalan mendekat pada Danendra. Wanita paruh baya itu berlutut di samping sang menantu. 

__ADS_1


"Ndra, jangan bersedih. Doakan saja agar Elin baik-baik saja di dalam sana," ujarnya dengan lembut, tangan kanannya mengelus-elus lengan Danendra. 


Tidak ada reaksi apapun, tidak juga terdengar suara siapapun. Hanya ada suara orang yang berlalu-lalang di sana. Danendra masih sibuk menyesali kelalaiannya. 


"Danendra, mama tahu kamu sedih. Tapi tidak perlu menyalahkan diri sendiri, mama paham, saat ini kamu pasti sedang menghukum diri kamu sendiri, 'kan?" 


Pria itu pelan-pelan mengangkat kepalanya, hingga terlihatlah wajah tampan yang sedang suram itu. "Ini memang salah Nendra, Ma. Adel celaka karena kecerobohan Nendra," katanya tetap menyalahkan diri sendiri. 


"Kamu tidak salah apa-apa, sudahlah. Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Lebih baik kita fokus pada kesembuhan Elin. Mama yakin dia wanita yang kuat," ujarnya terus menguatkan Danendra. 


Sorot mata Danendra kini penuh amarah, terlihat dari kedua mata itu yang berubah merah. Nabila paham dengan perasaan sang menantu saat ini. 


"Jika ada sesuatu yang terjadi pada Adel, aku akan mencincang pelaku yang sudah menyakiti istriku, Ma," tekad Danendra penuh amarah. 


"Kita pikirkan itu nanti, Ndra. Yang terpenting kita tahu dulu bagaimana keadaan Adeline," balas Nabila. 


Danendra merogoh saku celana, kemudian mengeluarkan gadgetnya. Pria itu menghubungi seseorang. Tanpa menunggu lama, orang yang dihubungi oleh Danendra langsung menerima panggilan tersebut. 


"Kau sudah introgasi dia?" 


'Belum, Tuan. Saya baru saja memasukkannya ke dalam sel bawah tanah. Bedebah itu masih melakukan perlawanan meskipun tangannya sudah patah akibat perbuatan anda,' jawab Gerry menerangkan. 


"Jangan introgasi dia. Aku sendiri yang akan mengintrogasinya dengan caraku!" perintah Danendra lugas. 


'Baik, Tuan!' 


Sambungan terputus setelah Danendra yang mengakhirinya. Di markas, Gerry sedang geleng-geleng kepala, memikirkan nasib si pelaku yang begitu malang karena sudah mencari masalah dengan mengusik kehidupan tuan mudanya. 


"Kau tidak dicincang dan diberikan ke piranha sebagai makanan sedikit demi sedikit itu sudah sangat beruntung. Sayangnya, mungkin Tuan Muda akan memberi makan ikan-ikan peliharaannya yang sudah lama berpuasa daging lezat," gumam Gerry, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya yang rupawan. 


__ADS_1


__ADS_2