Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Calon Pacar


__ADS_3

"Lo kenal Kayla, Ndra?" tanya Malik seraya menatap Rihanna dan Danendra bergantian. 


Rihanna hampir mengangguk. Namun, dia mengurungkan niatnya saat mendengar jawaban dari Danendra. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. 


"Gue enggak kenal, cuma sebatas tahu nama aja." 


"Sebenci itukah kamu sama aku, Kak?" tanya Rihanna yang hanya mampu terucap di benaknya saja. 


"Oh, kirain kenal beneran. Eh, istri lo mana?" tanya Malik seraya mengedarkan pandangannya. 


"Ada, bentar gue panggilin." 


"Kak, aku tunggu di mobil saja, ya." bisik Rihanna terpaksa bersikap sangat sopan. 


"Loh, ngapain? Enakan juga disini." 


Sayangnya meski Malik tidak mengizinkan Rihanna tetap melepaskan tangannya yang melingkar di lengan si laki-laki. Perempuan muda itu berlari keluar dari mansion. 


"Kayla," panggil Malik tetapi tidak digubris oleh Rihanna. 


Ketika Malik hendak mengejar Rihanna Danendra kembali memanggilnya. Laki-laki itu pun menoleh ke arah saudaranya berada. Danendra dan Adeline berjalan mendekat dengan bayi mungil yang berada di gendongan Danendra. 


"Lo mau kemana, Mal? Tadi aja tanyain bini gue." 


"Em, gue mau kejar Kayla. Dia kabur," balas Malik terlihat cemas. 


Walau bagaimanapun dia adalah orang yang membawa Rihanna ke tempat itu dan lagi wanita itu juga tengah dikejar oleh orang-orang yang sepertinya rombongan orang jahat. 


"Paling juga ke mobil. Lo gak perlu cemas gitu deh. Kek cewek lo aja," cibir Danendra seraya tertawa kecil. 

__ADS_1


"Dia emang calon pacar gue, Ndra." 


Perkataan itu membuat Danendra sedikit tersentak. Dia tidak menyangka bahwa Rihanna akan memiliki hubungan dengan orang lain. Padahal hingga beberapa Minggu yang lalu perempuan itu masih mengejarnya. 


"Lo serius?" tanya Danendra sedikit tidak percaya. 


Sebenarnya Malik hanya mengarang cerita. Mendapatkan cibiran dari saudranya itu tentu saja membuat dia tengsin kalau sampai dicela tidak memiliki pasangan di depan istri saudaranya tersebut. 


"Ngapain juga gue bohong? Eh, ini istri lo?" tanyanya mengalihkan pembahasan. 


"Oh iya. Ini istri gue. Kenalin, deh!" 


"Malik," ucap Malik memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. 


"Adeline," balas wanita dewasa itu seraya menerima jabatan tangan dari laki-laki yang merupakan saudara suaminya. 


"Senang bertemu kamu. Semoga langgeng dan bahagia bersama keluarga kecil kalian, ya." Malik menyempatkan diri untuk memberikan doa terbaik untuk pasangan orang tua baru itu. 


"Ya udah. Gue mau cari cewek gue dulu, Ndra," pamit Malik kepada Danendra. 


Tanpa menunggu jawaban dari saudranya, Malik bergegas keluar dari mansion yang masih ramai itu. Dia segera menuju mobil miliknya, membuka pintu kendaraan tersebut. Namun, dia sama sekali tidak menemukan perempuan muda yang dia bawa ke tempat itu. 


"Duh. Itu cewek ke mana, sih?" tanyanya pada diri sendiri. 


Lain halnya dengan Rihanna yang sedang berada di dalam dekapan hangat seorang wanita paruh baya. Ketika keluar dari mansion tadi, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dengan paksa dan membawanya ke arah taman samping mansion. 


"Rihanna, kamu datang, Sayang. Mama rindu sekali," ujar seseorang itu yang tidak lain adalah Nabila, ibu kandung Adeline dan Rihanna. 


Rihanna sama sekali tidak berontak ketika Nabila memeluknya dengan erat. Dia justru menikmati pelukan hangat yang sudah lama tidak dia dapatkan. Tidak hanya itu saja, Rihanna bahkan juga menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. 

__ADS_1


"Kamu datang sama siapa, Nak? Nendra tidak mungkin mengundang kamu, 'kan?" tanya Nabila begitu melerai pelukai. 


"Aku datang sama temanku, Ma. Aku tidak tahu kalau dia mengajakku ke mansion Kak Nendra." Rihanna menjawab sambil mengusap kasar wajahnya yang sedikit basah oleh air mata. 


Tidak menampik kenyataan bahwa dia juga begitu merindukan wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu. Sejak dulu, meski hubungan mereka tidak terlalu hangat, tetapi dia tidak pernah jauh terlalu lama dari Nabila. 


"Mama apa kabar?" tanya Rihanna dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum. 


Pertanyaan yang dia berikan benar-benar tidak berbobot. Sekarang, dia melihat sendiri bagaimana keadaan ibu kandungnya tersebut. Wanita paruh baya itu terlihat lebih gemuk dari dulu ketika masih hidup bersamanya.


"Mama pasti sehat. Terlihat dari tubuh dan wajah mama yang semakin bersinar. Anak pertama mama pasti mengurus mama dengan baik. Tidak seperti Rihanna," gumamnya dengan lirih. 


Nabila menggenggam tangan sang putri yang sudah lama tidak dia temui. "Dia kakak kamu, Rihanna. Apakah kamu sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu?" 


"Ma, Rihanna tidak masalah jika mama ingin hidup bersamanya. Tetapi tolong, jangan paksa Rihanna untuk menerima dia secepat ini," pinta Rihanna seraya sedikit melepaskan genggaman tangan sang ibu. 


"Sayang …." 


"Maaf, Ma. Rihanna harus segera pergi," timpal Rihanna yang belum ingin membahas permasalahan itu. 


Setelah mengucapkan kata itu Rihanna meninggalkan sang ibu tanpa menoleh lagi pada wanita paruh baya itu. Rihanna benar-benar belum dapat menerima kenyataan bahwa dia dan si perebut cinta pertamanya itu merupakan saudara satu ibu. 


Rihanna bergegas kembali ke mobil milik laki-laki yang membawanya datang ke mansion Danendra. Di sana ternyata laki-laki itu sudah berdiri dengan pandangan menengok ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang. Rihanna pun mempercepat langkahnya untuk segera menghampirinya. 


"Lo cari gue?" tanya Rihanna dari belakang yang seketika membuat laki-laki itu menoleh. 


Malik terlihat menghela napas lega setelah melihat Rihanna berada di hadapannya. "Ah, aku sempat khawatir tadi. Aku pikir kamu di culik orang-orang tadi," ujarnya dengan lembut. Sangat berbeda dengan sikapnya pertama bertemu dengan Rihanna. 


"Gue ke toilet tadi. Lo udah selesai acaranya?" tanya Rihanna memastikan. 

__ADS_1


"Udah. Ayok kita pulang," ajaknya tanpa sadar menggandeng tangan Rihanna. 


"Pulang ke mana?" 


__ADS_2