
Kini Malik sudah berlalu meninggalkan Celine bersama Malik. Kedua orang itu masih saja berdebat. Gerry yang terus memaksa Celine untuk pulang bersamanya, sedang Celine masih terus menolak. Selain tidak ingin merepotkan orang lain, dia pun sejatinya masih menaruh sedikit rasa kesal pada si pria.
"Cepat kemasi barang-barangmu! Aku akan menunggu di depan," ujar Gerry tegas.
"Tidak perlu repot mengantar saya. Saya bisa pulang ke New York sendiri," tolak Celine untuk kesekian kalinya.
Gerry menatap datar wanita di depannya ini. "Ternyata selain aneh, kamu juga keras kepala dan susah di atur, yah!"
Celine melirik tajam pria di sampingnya itu, "Anda bukan siapa-siapa sampai memiliki hak untuk mengatur saya!" tekan Celine mulai terpancing.
"Cepatlah. Jangan egois! Ibumu sudah menunggu di sana."
Saat mendengar Gerry menyebutkan ibu, Celine kembali tersadar bahwa dia sudah banyak membuang waktu percuma dengan berdebat. Tanpa berkata-kata, Celine pun bergegas masuk ke kamar untuk mengambil tas ranselnya. Semua barang miliknya masih rapi di dalam tas karena dia memang tidak mengeluarkan semua itu.
Sebelum mengantar Celine Gerry menemui sang tuan muda lebih dulu untuk berpamitan. Walau bagaimanapun, dia datang bersama tuan mudanya. Tidak mungkin dia pergi tanpa memberitahu tuan mudanya.
Gerry menghampiri si tuan muda yang kini tengah bersama istri dan anaknya. Mereka sedang menikmati sarapan yang sedikit terlambat dari waktu sebelumnya.
"Tuan Muda, boleh saya bicara sebentar?" tanya Gerry dengan posisi berdiri di samping kursi yang diduduki oleh si tuan muda.
"Bicara saja. Memang aku pernah melarangmu berbicara?"
"Saya mau minta izin untuk kembali ke New York sekarang," ucap Gerry.
"Kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Danendra. Dia bahkan sampai berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tidak ada, Tuan. Semua baik-baik saja," jawab Gerry.
"Terus, kenapa tiba-tiba minta izin kembali ke New York sendirian?" tanya Danendra lagi. Kini dia meneguk air putih.
"Saya tidak sendirian, Tuan. Saya akan mengantar Celine," kata Gerry dengan lugas. Kaget, Danendra sampai menyemburkan air putih yang sempat masuk ke mulutnya itu.
Semburan air putih itu bahkan mengenai kemeja si sekretaris andalannya. Danendra buru-buru mengambil tissue dan memberikannya pada Gerry.
"Maaf, tidak sengaja. Habis kamu mengagetkanku," ucap Danendra.
Adeline sampai menahan tawa saat melihat kejadian yang baru saja terjadi. Ini adalah momen unik yang pernah dia saksikan antara suami serta tangan kanan suaminya.
Gerry menerima tissue pemberian Danendra, lalu mengelap bagian yang terkena semburan sang tuan muda. Tidak ada raut wajah kesal sedikitpun atas ulah Danendra barusan.
"Tidak apa-apa, Tuan," balas Gerry datar.
"Kenapa tiba-tiba mau mengantar Celine?" tanya Danendra heran, pasalnya semalam sang sekretaris menolak mentah-mentah rencana Perjodohan itu.
"Ibunya sakit, Tuan. Dia harus segera kembali ke negara kita karena di sana hanya ada adiknya saja," terang Gerry.
"Tapi kenapa harus kamu yang mengantarkannya?" tanya Danendra lagi, dia belum puas mencari jawaban atas rasa herannya itu.
"Saya tahu dia belum pernah bepergian jauh seperti ini, Tuan. Maka dari itu saya berniat mengantarnya dari pada terjadi sesuatu yang buruk padanya," jawab Gerry.
"Cih! Seperhatian itu kau padanya, yah!" sindir Danendra yang kini mulai paham.
"Tidak, Tuan. Saya hanya memikirkan nasib ibunya saja," elak Gerry.
"Kalau sudah sampai memikirkan keluarganya, itu artinya sudah lebih dari rasa suka, loh, Sayang," sahut Adeline yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Nah, itu dia, Sayang. Sepertinya asistenku ini mulai menaruh hati pada gadis tomboi itu," kelakar Danendra. Namun, Gerry enggan menanggapi, dia masih memasang ekspresi datar.
Danendra melirik Gerry yang masih diam di tempatnya. Dalam hatinya, Danendra bersyukur karena sang sekretaris mulai membuka diri untuk wanita lain. Dia tidak ingin melihat Gerry galau hanya karena wanita pengkhianat seperti Indira.
__ADS_1
"Ya sudah, sana. Antar dia sampai tujuan dengan selamat. Jangan terus-terusan gaduh seperti Tuan Crab dan Plangton."
"Baik, Tuan Muda."
Gerry pun berlalu dari sana. Dia bergegas menuju halaman depan villa untuk menunggu Celine. Namun, saat sampai di luar ternyata Celine lah yang justru sedang menunggunya. Wanita itu sudah duduk manis di dalam mobil.
"Cepatlah! Kau ini lelet sekali." Celine memaki Gerry yang sudah membuang-buang waktunya untuk menunggu orang yang katanya akan mengantarnya.
Gerry ikut masuk ke dalam mobil. Dia duduk berdampingan dengan Celine di kursi penumpang karena mobil itu memang sudah ada sopirnya.
"Aku meminta izin tuan muda dulu. Tidak mungkin aku pergi tanpa memberitahu dia," timpal Gerry.
"Jalan, Pak!"
Mobil itu pun melaju menuju bandara internasional Soekarno-Hatta. Selama di perjalanan keduanya saling diam. Namun, saling lirik juga. Mereka sama-sama gengsi jika harus memulai percakapan.
Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai di bandara. Gerry langsung membeli tiket pesawat untuk mereka berdua. Beruntung, pada jam itu langsung ada penerbangan menuju New York. Jadi, mereka tidak perlu membuang waktu dengan menunggu.
Keduanya buru-buru masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi lepas landas. Mereka duduk berdampingan. Gerry sempat melihat Celine yang sudah semakin tegang. Sepertinya wanita itu memikirkan keadaan sang ibu di negaranya.
"Sudahlah, kau istirahat saja dulu. Ibumu pasti akan baik-baik saja." Gerry berkata demikian karena tidak ingin Celine semakin khawatir.
"Bagaimana aku bisa beristirahat jika pikiranku terus melayang?"
"Cobalah berpikir positif. Doakan saja agar ibumu baik-baik saja," kata Gerry menasehati.
Sementara itu, Romi baru saja sampai di villa setelah mengantar bibinya pergi ke pasar. Pria itu berniat mencari Celine untuk memastikan kebenaran tentang calon suami wanita itu. Dia merasa ada yang janggal karena Celine belum mengatakan iya saat dia bertanya kebenaran tersebut.
Dia mengelilingi villa luas itu untuk mencari keberadaan Celine. Namun, Celine belum juga tampak. Padahal, dia sudah mencari ke segala penjuru. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menghampiri Celine di kamar.
Romi mengetuk pintu kamar Celine. Hingga tiga kali ketukan, Celine belum juga keluar. Romi tidak menyerah begitu saja. Dia terus mengetuk pintu berkali-kali dengan ritme yang lumayan cepat.
"Rom, ngapain, sih?" tanya Malik heran.
"Nyari Celine," jawabnya singkat, dia masih melanjutkan kegiatannya mengetuk pintu.
"Mau kamu ketuk sampai ribuan kali pun, Celine enggak akan keluar."
Romi membalik tubuhnya menghadap Malik. Dia menatap Malik dengan ekspresi kesal karena ucapan Malik barusan.
"Apa maksud kamu? Mau bilang Celine sengaja menghindar dariku?"
"Dia udah pulang ke New York!"
"Hah! Dia pulang sendiri atau bareng calon suaminya?"
"Calon suami?" tanya balik Malik.
"Iya, cowok tadi calon suaminya, 'kan?"
"Kamu tahu dari mana kalau dia calon suami Celine?" tanya Malik pemasaran.
"Dari cowok itu sendiri. Dia bilang dia calon suami Celine," jawab Romi dengan nada kesal.
"Oh, jadi Gerry sudah gerak cepat, toh!" Malik membatin, senyum samar terbit di bibirnya yang sedikit tebal.
*****
Pesawat yang ditumpangi oleh Celine dan Gerry akhirnya mendarat dengan selamat di New York. Perjalanan panjang itu terasa sangat lama untuk Celine karena pikirannya terus melayang memikirkan keadaan sang ibu.
__ADS_1
"Mau pulang dulu atau ke rumah sakit langsung?" tanya Gerry pada Celine.
"Rumah sakit saja," jawab Celine singkat, dia sudah sangat lelah dan pikirannya pun kacau.
Di bandar internasional John. F Kennedy sudah ada orang yang menjemput Gerry di sana. Mereka pun segera menuju rumah sakit, tempat di mana ibu Celine dirawat.
Celine duduk dengan gelisah. Dia terus saja memikirkan keadaan sang ibu. Celine merasa tidak berguna menjadi anak. Dia tidak mampu memberikan yang terbaik untuk sang ibu hingga wanita tua yang sudah melahirkannya itu harus terbaring lemah di rumah sakit.
Gerry tanpa sadar memegang tangan Celine, dia menggenggamnya dengan erat. "Yakinlah, semua akan baik-baik saja," ucapnya berusaha menenangkan si wanita.
Celine hanya mengangguk. Ucapan Gerry barusan berhasil menenangkan hatinya yang kacau.
Mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit. Celine buru-buru turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit. Gerry pun mengejar Celine yang terus berlari. Ketika sedang berlari menuju ruang IGD kebetulan Celine bertemu dengan sang adik.
"Mawar, gimana keadaan ibu?" tanya Celine khawatir.
"Keadaan ibu sudah lebih baik, Kak. Ibu juga sudah dipindahkan ke ruang rawat," jawab mawar –adik Celine.
Celine menghela napas lega setelah mendengar jawaban sang adik. "Syukurlah. Sekarang bawa kakak menemui ibu!"
"Ayo, Kak!"
Mawar pun menunjukkan ruang rawat ibu mereka. Celine buru-buru masuk untuk menemui ibunya. Wanita tomboi itu tidak sadar jika ada Gerry yang terus mengekorinya.
"Ibu!" seru Celine saat melihat sang ibu tengah berbaring di brankar pasien.
"Celine," panggil si ibu dengan suara lemah.
Celine bergegas mendekat, kemudian memeluk tubuh kurus ibunya. "Ibu kenapa bisa masuk rumah sakit, sih? Ibu pasti maksain diri buat kerja, 'kan?"
Si ibu tersenyum lembut, lalu membelai penuh kasih wajah lelah sang putri sulung. "Ibu enggak kerja, kok! Ibu cuma bantu mawar untuk setrika pakaian pelanggan aja," jawab si ibu.
"Celine udah bilang, laundry biar mawar yang urus untuk mengisi waktu senggangnya sambil cari uang untuk jajan dia sendiri. Kenapa ibu masih bandel aja, sih?" Tanpa sadar, Celine meneteskan air matanya.
Si ibu hanya tertawa kecil saat mendengar putri sulungnya itu mengomel. Dia tahu, anak itu memarahinya karena memang sangat menyayanginya.
"Celine, jangan menangis, Nak. Kamu tidak malu sama pacarmu itu?"
"Hah! Pacar?" Celine menoleh ke belakang, ternyata Gerry berdiri dengan anteng di sana.
"Kamu ngapain masuk ke sini?" tanya Celine dengan nada datar.
"Celine, jangan galak-galak sama pacar. Nanti dia kabur!" tegur si ibu kepada anaknya.
"Dia bukan pacar Celine, Bu," kata Celine menjelaskan.
Ekspresi wajah Gerry seketika berubah saat Celine berkata seperti itu. Entah kenapa, dia merasa kesal dan tidak terima.
"Kalau bukan pacar, lalu dia siapa, Celine?" tanya si ibu dengan nada semakin lemah.
Gerry berjalan ke sisi brankar, kemudian menyapa ibu Celine dengan ramah. "Kami memang tidak berpacaran, Bu. Tapi kami akan segera menikah," katanya tanpa berpikir panjang.
Ucapan Gerry barusan sudah seperti Sambaran petir untuk Celine. Wanita tomboi itu tidak menyangka Gerry akan berkata seperti itu.
"Benarkah, Celine? Kamu akan segera menikah?" tanya si ibu dengan tatapan penuh harap.
"Ti–"
"Kami akan menikah setelah ibu keluar dari rumah sakit," potong Gerry sebelum Celine sempat menjawab.
__ADS_1