
"Astaga! Kegilaan apa lagi yang kamu perbuat, Nendra? Kau beli pemb*lut sebanyak ini untuk apa?" pekik Adeline menatap tidak percaya pada dua box besar berisi beraneka ragam barang pemb*lut.
"Aku salah apa lagi, Sayang? Aku tadi kan menghubungimu untuk bertanya, tapi kau sudah marah-marah duluan. Jadi aku beli saja semua macam yang ada di supermarket itu," ujarnya tanpa beban, akan tetapi wajahnya terlihat bad mood.
Adeline menepuk keningnya pelan. Ternyata dia salah target dalam meminta tolong menyelesaikan masalahnya kali ini. "Walaupun bingung, seharusnya beli saja satu atau dua pack, tidak perlu beli sampai dua box begini, Nendra. Astaga! Polos sekali suamiku," keluh Adeline yang bingung dari mana pemikiran aneh sang suami datangnya.
Nendra terlihat semakin kesal saat mendengar Omelan Adeline. "Sudahlah. Aku kapok membelikan kamu barang aneh itu. Mana si pelayan aneh sekali lagi," rutuknya semakin kesal.
"Memang pelayan di sana kenapa?" tanya Adeline penasaran.
"Dia bilang aku mau pilih yang bersayap atau tanpa sayap. Ya aku jawab, memang kamu pikir istriku burung sampai harus memakai sayap. Eh, malah aku di tertawakan para pengunjung lain." Nendra mengomel sambil berkacak pinggang.
"Pft … ha-ha-ha, kau benar-benar bilang seperti itu, Ndra? Astaga, Tuhan. Salah apa yang aku lakukan di masa lalu sampai kau kirimkan makhluk polos ini sebagai pasanganku?" Adeline tertawa terpingkal-pingkal akibat kepolosan sang suami.
Raut wajah Danendra berubah datar saat melihat sang istri justru ikut menertawakan dirinya. Pria itu tanpa permisi langsung mengayunkan langkah meninggalkan istrinya yang masih tertawa itu.
"Dasar, istri menyebalkan! Tidak tahu terima kasih. Sudah aku turuti, malah aku pula di tertawakan," gerutu Nendra yang saat ini masuk ke kamarnya.
Setelah Nendra pergi, Adeline baru tersadar akan kelakuannya saat ini. Pria yang biasanya banyak bicara dan gemar merengek manja itu tiba-tiba diam dan pergi meninggalkan dirinya.
"Apa aku terlalu keterlaluan, ya? Ah, hormon datang bulanku merusak suasana hatiku. Kasihan Nendra sejak pagi terkena omelanku terus," gumam Adeline merasa bersalah.
Akhirnya Adeline memutuskan untuk kembali membersihkan dirinya dan memakai pembal*t yang dibelikan oleh suaminya. Setelah selesai Adeline mengetuk kamar sang suami dengan hati-hati.
"Nendra, buka pintunya," perintah Adeline yang merasa khawatir, karena sang suami tidak menyahut sejak tadi.
"Masuk saja. Aku tidak pernah menguncinya untukmu," jawabnya dengan telak.
Adeline memberanikan diri untuk masuk ke kandang macan yang sedang merajuk itu. Ketika perempuan dewasa itu masuk, ternyata Nendra sedang merebahkan diri di ranjang dengan posisi membelakangi sang istri. Pelan-pelan Adeline melangkah mendekat lalu duduk di ranjang sisi yang lain.
"Maaf, Ndra. Aku sudah keterlaluan. Aku janji tidak akan seperti itu lagi," ujar Adeline seraya memainkan jari-jarinya. "Aku juga sedang datang bulan, Nendra. Jadi moodku pasti hancur saat seperti ini," jelas Adeline yang tidak ingin ada kesalahpahaman antara mereka.
Nendra tidak menjawab dengan kata-kata ataupun gerak tubuh. Pria itu masih saja diam dan membuat Adeline semakin merasa bersalah. "Aku tahu aku salah, Nendra. Kau boleh menghukumku dengan cara apapun," ujar Adeline lirih.
Kali ini Nendra sedikit melirik ke arah sang istri yang masih menundukkan kepalanya. Sepertinya perempuan tercintanya itu benar-benar menyesal dengan perlakuannya hari ini.
"Kau serius aku boleh menghukum kamu?" tanyanya memastikan, agar sang istri tidak berbohong.
"Iya, aku serius. Tapi … jangan aneh-aneh," jawab Adeline yang langsung membuat Nendra bangkit dari posisinya.
"Belum apa-apa sudah bilang jangan aneh-aneh. Otakmu itu selalu negatif tentangku, Adel. Entah apa yang salah padaku, sampai kamu sama sekali tidak bisa mempercayaiku," keluh Nendra dengan lantang.
__ADS_1
Adeline tersenyum kecut dengan mata terpejam. "Aku bukan tidak percaya padamu, Nendra. Aku hanya belum bisa berdamai dengan takdirku sendiri," gumamnya dalam hati.
"Sudah sana keluar! Tidak ada gunanya kamu disini," ujar Nendra yang kembali melanjutkan acara merajuknya.
"Baiklah, kau mau minta apa, Nendra?" tanya Adeline mengalah, jika di teruskan juga hanya akan membuat situasi semakin buruk.
"Panggil aku sayang, dan selalu peluk aku kapanpun aku mau."
"Apa? Kamu jangan mengambil kesempatan di dalam kesempitan, Nendra!" pekik Adeline tidak terima.
Pria yang sudah resmi menyandang gelar suami itu turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. "Terserah mau bilang apa, yang jelas apa yang aku minta adalah memang hakku. Jika kamu tidak mau memberi ya tidak apa-apa. Aku bisa minta pada … ulat bulu," ujarnya sengaja memancing sang istri, karena sejak awal istrinya ini selalu tidak terima jika dia dekat dengan si ulat bulu itu.
Benar saja, Adeline langsung bangkit dan tanpa aba-aba memeluk tubuh Nendra dari belakang. Entah kenapa, meski belum memiliki perasaan khusus pada berondong itu, akan tetapi Adeline merasa tidak terima jika suaminya didekati perempuan lain.
"Jangan berani membiarkan tubuhmu dijamah orang lain, Nendra. Jika kau berani melakukan itu, aku pasti akan membuat kamu jadi gemb*l." Adeline tanpa berpikir panjang mengancam sang suami.
Nendra menyeringai jahat dengan tatapan mata fokus pada tangan sang istri yang melingkar di perutnya. Pria yang usianya lebih muda dari sang istri itu menyentuh tangan mulus yang masih erat memeluknya.
"Aku janji, Adel. Aku tidak akan pernah membiarkan tubuhku tersentuh orang lain, selain kamu," batinnya penuh ketulusan.
Berbeda dengan isi hatinya, Danendra justru melepaskan tangan sang istri yang memeluknya dengan erat lalu membalikkan tubuh. Dia memasang wajah tidak bersemangat di depan sang istri.
"Kamu jangan memaksa diri, Adel. Aku tahu, hatimu bukanlah untukku. Pergilah jika kamu memang ingin pergi," ujarnya yang langsung meninggalkan Adeline yang mematung di tempatnya.
Meski sudah berteriak dan menebar ancaman nyatanya Danendra tidak kembali. Pria itu pergi entah kemana, bahkan ketika Adeline mencarinya di setiap sudut ruangan apartemn, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan sang suami.
"Dia marah? Dia marah padaku. Dia juga akan seperti Rich yang tega meninggalkanku hanya karena salah paham. Dia tidak berbeda dengan pria lain. Dia pria pengecut yang hanya ingin mempermainkan perasaanku," lirih Adeline menjatuhkan dirinya di lantai.
Adeline menangis sejadi-jadinya karena lagi-lagi merasa gagal dalam hal percintaan. Haruskah dia mengalami kisah yang tidak jauh berbeda dengan kisah cintanya terdahulu dengan Ricardo Bima Nugraha, suami Grasiella yang merupakan adik iparnya saat ini.
Luka di hatinya bahkan belum sembuh, lalu harus kembali terluka oleh hubungan yang ternyata harus kandas hanya karena kurangnya komunikasi yang mengakibatkan kesalahpahaman antara dia dan pasangannya.
"Aku tidak mau gagal lagi! aku harus bisa jatuh cinta pada suamiku, pria yang sudah menjadikanku Ratu dalam kehidupannya meski usia kami terpaut jauh. Dia adalah hadiah terbaik dari Tuhan ketika aku dalam keterpurukan. Dia yang akan membantuku terlepas dari belenggu masa lalu ini," ujar Adeline penuh tekat.
Perempuan dewasa itu bangkit lalu merapikan pakaiannya yang sempat berantakan karena ulahnya sendiri. Setelah itu dia keluar dari apartemn untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan dia siapkan untuk sang suami.
Dia sudah bertekad akan belajar mencintai si berondong jagung yang sudah berhasil mendapatkan sedikit rasa dalam hatinya, meski Adeline belum yakin jika itu rasa suka, apa lagi cinta.
Sementara itu, Danendra sebenarnya tidak pergi kemana-mana, pria itu hanya berpindah ke apartment di sampingnya yang merupakan hunian Gerry. Namun, Adeline sama sekali tidak mengerti jika asisten suaminya itu ternyata tinggal tidak jauh dari mereka.
Sedangkan Gerry merasa heran karena tidak biasanya sang atasan justru datang ke apartmentnya tanpa pemberitahuan apapun. Pria itu hanya duduk menonton siaran langsung sepakbola.
__ADS_1
"Tuan," panggil Gerry dengan lirih.
"Apa?" tanyanya singkat tanpa menoleh.
"Tumben anda kemari, memangnya televisi di apartemen anda bermasalah?" tanya balik Gerry masih dengan ekspresi bingung.
"Televisiku tidak bermasalah, hanya otakku saja yang sedang bermasalah."
"Akhirnya sadar juga," batin Gerry tertawa jagat.
"Jangan berani mentertawakan aku, meski dalam benakmu sekalipun, Gerr. Atau kau mau aku cabut segala fasilitas yang aku berikan pada kekasihmu?" ancam Nendra tidak main-main.
"Saya tidak berani, Tuan." Seketika Gerry memasang wajah datar seperti biasanya.
"Aku menginap disini dulu malam ini. Aku ingin memberikan pelajaran untuk istri nakalku itu. Biar dia kapok dan tidak terus-terusan jual mahal," jelasnya meski tanpa Gerry bertanya.
Danendra memang sosok yang aneh. Dia pria yang sulit di tebak. Kadang dingin dan kadang berubah menjadi hangat. Kadang menjadi iblis, tetapi tidak jarang juga bagaikan malaikat. Semua tergantung suasana hatinya sendiri.
"Anda tidak kasihan jika membiarkan nyonya muda kedinginan, Tuan. Bukankah pengantin baru seharusnya masih hangat-hangatnya?"
Danendra melemparkan remote televisi yang ada di meja ke arah sang sekretaris yang langsung sigap menangkapnya. "Kau seperti tidak paham. Istriku itu belum mencintaiku. Mana mau dia tersentuh oleh tubuh jelekku ini!" makinya kepada diri sendiri.
"Anda jangan merendah, Tuan. Saya tidak setuju dengan ucapan anda barusan," ujar Gerry berusaha memperbaiki mood sang atasan.
Merasa lelah dengan sikap sang istri di hari pertama pernikahan, Danendra sampai merebahkan diri di sofa ruang tamu di apartemen Gerry.
"Nyatanya Adeline selalu menolakku, Gerr. Dia sama sekali tidak tertarik dengan segalanya yang aku miliki," keluh Danendra dengan senyum kecut.
"Anda tidak curiga dengan sesuatu yang janggal di keluarga nyonya muda, Tuan. Kalau saya, jujur saya curiga sejak hari pertama saya datang ke rumah itu. Ada yang tidak beres dengan hubungan kekeluargaan nyonya muda," ungkap Gerry pada akhirnya.
"Maksudmu janggal bagaimana?" tanya Danendra seraya bangkit dari posisinya, pria itu penasaran dengan penjelasan yang akan diberikan sang sekretaris.
Gerry sejenak terdiam, berusaha berpikir logis tentang apa yang selama ini mengganggunya. Sadar bahwa dia adahal orang kepercayaan Danendra, dia harus menyampaikan fakta yang juga di perkuat dengan bukti-bukti yang kongkrit.
"Saya menilai bahwa hubungan kekeluargaan nyonya muda seperti tidak baik-baik saja, Tuan. Saya mencuriga ayah dan ibunya selama ini tidak tulus menyayangi nyonya muda. Lalu … adik perempuan serta adik adik iparnya … saya rasa ada sesuatu di antara mereka. Yang jelas si suami dari adik perempuan nyonya seperti tidak terima ketika nyonya mendapat lamaran dari anda," jelas Gerry panjang lebar.
Danendra terlihat sedang berpikir, dan benar saja. Detik berikutnya pria itu menanyakan bukti-bukti yang memperkuat dugaan sang sekretaris.
"Saya sempat merekam menggunakan camera tersembunyi yang selalu saya bawa, Tuan. Sebentar, biar saya ambilkan dulu."
Rahang Danendra mengeras sempurna saat sudah melihat bukti rekaman yang diambil oleh sang sekretaris. Benar apa dugaan pria kepercayaannya itu. Mereka hanya membahas perkara harta dan jabatan dari calon suami Adeline. Kemungkinan mereka menerima pernikahan dadakan itu juga karena uang yang di sediakan oleh Gerry sebagai ganti rugi karena mereka diharuskan membatalkan segala acara yang mereka miliki. Namun, ada sesuatu yang semakin membuat Danendra terbakar amarah. Tatapan pria yang merupakan adik iparnya itu kepada Gerry seperti seseorang yang sedang ingin melenyapkan musuhnya.
__ADS_1
"Jadi seperti ini history kekeluargaan istriku? Aku yakin, pria yang menjadi adik ipar istriku itu menyimpan perasaan pada istriku. Gerr, sekarang tugasmu untuk mencari tahu kebenarannya!"