
Atas permintaan Adeline, Danendra akhirnya mau membantu mencari Grasiella. Berbekal keahlian setiap anggotanya. Tidak diperlukan waktu lama, Grasiella pun di temukan di sebuah hotel terpencil di pinggir hutan.
Monica menangis histeris saat melihat keadaan putrinya tanpa busana. Yang membuat lebih syok lagi adalah ketika dia melihat banyak darah yang berasal dari pertengahan pangkal paha sang putri.
Grasiella dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter milik Danendra karena keadaan wanita itu sudah sangat lemah tidak sadarkan diri.
Monica, Zico, dan tidak ketinggalan Adeline juga ikut menunggu kabar dari dokter yang sedang menangani Grasiella. Danendra masih setia mendampingi sang istri tanpa meninggalkan wanita hamil itu sendirian.
"Ma, bagaimana bisa Ella pergi sama teman mama, dan justru di temukan dalam keadaan seperti ini?" tanya Zico menuntut.
"Mama enggak tahu, Zico. Dia juga tidak bisa di hubungi," jawab Monica yang ketakutan.
Selain kecewa karena sang kekasih justru melukai putrinya, Monica juga takut jika kebenaran ini diketahui oleh Zico dan Adeline.
"Beritahu Zico, dimana alamat laki-laki itu, Ma!"
"Zico, kamu jangan sibuk dengan itu dulu. Kita harus memastikan keadaan kakak kamu baik-baik saja," ujarnya berusaha mengalihkan kemarahan sang putra.
Danendra hanya melirik sekilas tanpa berniat mengeluarkan sedikitpun suara. Dia sudah tahu apapun yang disembunyikan oleh wanita paruh baya tersebut, bahkan kebenaran tentang anak-anak wanita itu sekalipun.
Cukup lama dokter menangani Grasiella, pintu ruang IGD terbuka. Dokter keluar dengan wajah lesunya. Mereka pun langsung menghampiri sang dokter untuk mengetahui keadaan Grasiella.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Monica dengan raut wajah khawatir.
"Kami harus melakukan operasi pengangkatan rahim, karena pendarahan yang di alami oleh pasien cukup berdampak buruk. Belum lagi kami mencurigai adanya satu penyakit yang di derita oleh pasien," jelas sang dokter yang fokus pada intinya saja.
"Penyakit apa itu, Dok?" tanya Zico penasaran.
"HIV yang sudah stadium lanjut."
__ADS_1
Semua orang disana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Monica langsung teruduk di lantai karena begitu terpukul atas penyakit yang di derita oleh sang putri kesayangannya.
"Lakukan yang terbaik untuk adik saya, Dok." Adeline yang memutuskan untuk meminta dokter melakukan perawatan medis untuk Grasiella.
Sementara itu, Zico tetap berusaha menenangkan sang ibu yang masih histeris. Wanita itu tidak menyangka bahwa Grasiella akan mengalami kemalangan ini.
Atas persetujuan dari keluarga dokterpun melakukan operasi pengangkatan rahim Grasiella. Sebenarnya dokter sempat menanyakan keberadaan sang suami pasien, tetapi dari keluarga tidak ada yang tahu tentang laki-laki itu.
Beberapa jam setelah operasi Grasiella yang belum juga sadarkan diri terpaksa di rawat di ruang Observasi. Di ruangan itu sangat steril, bahkan tidak ada satupun orang yang di izinkan untuk menemaninya di dalam.
Adeline menatap sang adik dari balik kaca, melihat sang adik dalam keadaan koma membuatnya merasa sangat kasihan pada wanita itu. Meski Grasiella berkali-kali melakukan kejahatan padanya, nyatanya Adeline masih sangat menyayangi wanita malang tersebut.
"Sayang, kita pulang dulu, yah! Kamu sudah dua hari menunggu di sini. Ingat pesan dokter kamu tidak boleh lelah dan stres," ajak Danendra yang mengkhawatirkan sang istri.
"Tapi Ella belum sadar, Nendra."
"Ada Zico dan mamanya yang akan menemani."
Adeline mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah. Danendra begitu perhatian memijat kaki sang istri.
"Nendra, kamu tidak pergi ke kantor?" tanya Adeline karena suaminya itu sekarang selalu berada di sampingnya.
"Aku masih bisa mengurus urusan kantor dari rumah, Sayang. Lagi pula disana ada Gerry yang bisa aku andalkan. Untuk sekarang, prioritas utamaku adalah kesehatan kamu dan bayi kita."
Adeline tersenyum senang. Betapa beruntungnya dia memiliki suami siaga seperti Danendra. Meski usianya masih sangat muda, tetapi suaminya itu sangat cekatan dalam mengurus semua keperluannya.
"I love you, Nendra," ungkap Adeline dengan suara lirih. Wanita itu masih sedikit malu untuk mengakui perasaannya.
"I love you more, Sayang," jawab Danendra dengan seulas senyum manisnya.
__ADS_1
Hari-hari Adeline berjalan dengan begitu sempurna dengan adanya orang tua, mertua, serta suami yang begitu mencintainya. Cinta yang dilimpahkan oleh mereka dapat sedikit menghibur Adeline dari kesedihannya atas kem*tian sang ayah satu bulan yang lalu.
Kini Adeline sedang berada di ranjang, sedangkan Danendra tengah membersihkan dirinya. Laki-laki itu memiliki janji temu dengan seorang client penting hari ini. Sebenarnya Danendra sempat menolak, tetapi Adeline meyakinkan suaminya bahwa dia akan baik-baik saja di mansion.
Akhirnya Danendra menyetujui pertemuan dengan salah satu client. Laki-laki itu hanya memberikan waktu kepada clientnya selama 2 jam. Dia tidak ingin meninggalkan sang istri dalam jangka waktu yang lama.
"Aku berangkat dulu, Sayang." Danendra mengecup kening istrinya setelah rapi dengan pakaian kantornya.
"Hati-hati, Sayang."
Danendra pun berjalan keluar meninggalkan sang istri di kamarnya seorang diri. Setelah kepergian sang suami, Adeline mengambil bingkai foto yang menampilkan wajah cantiknya yang tersenyum bersama sang ayah.
Jemari lentiknya meraba foto bagian wajah Antonio yang tersenyum dengan gagahnya. Adeline tersenyum kecut saat kembali mengingat masa kecilnya sebelum hadirnya kedua adik kembarnya.
"Papa, terimakasih sudah memberikan Elin masa kecil yang tidak terlupakan. Meskipun sejak kelahiran Ella dan Zico papa berubah. Elin tahu, papa menyayangi Elin," gumamnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Suara pintu yang terbuka membuat Adeline buru-buru menyeka wajahnya dan segera menaruh kembali bingkai foto dirinya dan sang ayah.
"Elin," panggil Nabila dengan suara lembutnya.
"Ya, Ma," jawab Adeline berusaha mengulas senyum.
"Nendra bilang dia ada meeting, jadi dia meminta mama untuk menemani kamu di sini," ucap Nabila berjalan mendekati sang putri.
"Dia itu berlebihan sekali, Ma. Padahal Elin tidak apa-apa di sini sendirian. Dia menganggap Elin seperti bayi," keluh Adeline yang berusaha mengalihkan kesedihannya.
Nabila tahu, putrinya itu baru saja menangis. Namun, wanita itu enggan untuk membahas perihal kesedihan putrinya. Dia sudah bertekad untuk membantu putri sulungnya untuk lepas dari segala beban yang selama ini berada di pundaknya.
"Suami kamu itu sangat menyayangi kamu, Elin. Dia memang terkadang bersikap berlebihan, tetapi mama tahu, dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Nabila menasehati putrinya agar memaklumi sikap suaminya yang terkesan begitu posesif.
__ADS_1
Saat keduanya sedang berbincang-bincang tiba-tiba Zico menghubungi Adeline. Itu memang sudah permintaan Adeline agar sang adik selalu mengabari keadaan Grasiella yang berada di rumah sakit.
"Kak, keadaan Ella semakin buruk. Mama menangis terus-menerus. Aku bingung karena saat ini juga mertuaku mengabari kalau Queen akan melahirkan."