Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Ajari Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Ana, maafin kakak. Gara-gara kakak kamu jadi seperti ini," ujar Adeline merasa bersalah.


"Kak, jangan menyalahkan diri. Aku mohon jangan menangis!"


"Tapi kamu seperti ini karena kakak!"


"Tidak, Kak. Aku seperti ini karena takdir. Lagi pula dengan adanya kejadian ini, akhirnya aku sadar bahwa Malik begitu mencintaiku," ungkap Rihanna dengan senyum di bibirnya.


"Kamu sudah menyadari hal itu?"


"Ya, Kak. Dia sangat mencintaiku sampai dia memutuskan untuk tidak menuntut balas atas perasaannya. Seperti yang kakak bilang bahwa cinta itu memberi dengan tulus, aku dapat merasakan ketulusan itu sekarang, kak."


"Baguslah, kakak harap rumah tangga kalian akan abadi sampai maut memisahkan."


Sementara itu, Danendra beberapa kali melirik saudaranya yang kini duduk dengan tenang di sampingnya. Laki-laki yang tidak kalah tampan darinya itu sama sekali tidak terlihat menyesal atas keputusan yang sudah dia ambil.


"Malik, kau terlalu baik pada mereka!" tegur Danendra yang sedikit merasa kecewa.


Saudaranya itu memutuskan untuk menyerahkan mereka pada pihak berwajib. Padahal Danendra sudah memiliki rencana untuk membalas kejahatan sepasang kekasih gila itu. Namun, karena Danendra menghargai Malik sebagai saudaranya, akhirnya Danendra mengalah.


"Kita sebagai manusia memang wajib memaafkan kekhilafan seseorang, Ndra. Aku enggak mau hanya karena dendam, akhirnya mengubahku menjadi orang jahat," jawab Malik tanpa sadar jika ucapannya itu menyindir sang saudara.


"Jahat kaya gue, yah!"


"Eh, Sorry. Aku enggak bermaksud, Ndra."


"Sellow aja kali, gue udah biasa disebut penjahat, kok!"


Kini keduanya sedang dalam perjalanan kembali ke rumah sakit. Hari sudah mulai gelap saat mereka sampai di rumah sakit tempat di mana Rihanna mendapatkan perawatan.


"Ndra, gue minta maaf," ujar Malik ketika Danendra mendorong kursi rodanya menuju kamar rawat Rihanna.


"Minta maaf buat apa?"


"Karena aku sudah membuat istrimu ketakutan. Sungguh aku tidak bermaksud," jelasnya disertai sesal yang dalam.

__ADS_1


"Enggak usah dipikirin. Gue ngerti, kok! Istri gue juga pasti bisa memaklumi," jawab Danendra santai.


"Makasih Karena sudah mengajakku bertemu dengan pelaku sebenarnya, Ndra."


"Sama-sama, gue cuma mau buktiin kalau kecelakaan ini bukan karena ulah istri gue aja, kok! Dan, sebagai bentuk rasa terimakasih gue karena Rihanna udah selamatin istri gue," urai Danendra.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan ruangan rawat Rihanna. Danendra mendorong Malik masuk ke dalam ruangan itu. Di sana sudah ada seluruh keluarga yang menemani Rihanna. Wajah wanita hamil itu perlahan sudah tidak pucat seperti sediakala.


Sekarang bibir yang tadinya pucat itu justru sedang tersenyum bahagia. Malik dapat merasakan betapa Rihanna merasakan kebahagiaan karena banyak sekali orang yang peduli padanya. Selama ini Rihanna selalu mengharapkan memiliki momen seperti saat ini. Di mana dia dapat merasakan ramainya keluarga yang meyayanginya dengan tulus.


"Kalian dari mana saja?" tanya Adeline saat melihat kedua laki-laki itu masuk.


"Kami dari kantin," jawab Danendra cepat, dia tidak ingin jika Malik mengungkapkan bahwa mereka baru saja menemui mantan kekasih istrinya itu.


"Oh, kenapa lama?"


"Tadi ramai, jadi kami mengantri," jawab Danendra lagi.


Malik mengerutkan keningnya serta menggaruk tengkuknya saat melihat Danendra membohongi istrinya. Laki-laki itu terkesan menutupi kenyataan sebenarnya bahwa mereka baru saja bertemu dengan para pelaku kejahatan yang hampir melukai kedua kakak beradik itu. Namun, Malik memutuskan untuk tidak ikut campur dalam perkara tersebut. Mungkin saudaranya itu memiliki alasan yang kuat melakukan itu.


"Elin, sudah hampir malam. Lebih baik kamu pulang! Kasihan Devan jika hanya bersama suster," ujarnya seraya membelai Surai hitam putri sulungnya.


"Memangnya tidak apa-apa kalau aku pulang dulu?" tanyanya yang seketika membuat semua orang di sana mengangguk.


"Kakak pulang saja! Aku sudah aman bersama suamiku," ujar Rihanna tiba-tiba.


Hal tersebut membuat beberapa orang di sana terkejut. Tidak biasanya Rihanna bersikap begitu baik dan terkesan sedang membanggakan suaminya. Malik tidak kalah terkejutnya, laki-laki itu bahkan menganga tidak percaya.


Melihat reaksi semua orang di tempat itu yang sepertinya terkejut dengan ucapannya, Rihanna pun seketika menunduk malu. Dia baru tersadar dengan sikap manisnya barusan.


"Kalau begitu lebih baik kita semua pulang. Biarkan Malik saja yang menjaga Rihanna di sini," ajak Silvia kepada setiap manusia yang berada di ruangan yang sama dengannya.


Rihanna tidak merespon, dia masih terlihat malu-malu karena sindiran dari sahabat ibunya. Selain malu karena sikap manisnya yang baru saja keluar, Rihanna juga malu karena sikapnya yang dulu selalu mengejar Danendra.


"Itu lebih baik, Tante. Kalau yang menemani Kayla terlalu banyak, yang ada dia tidak beristirahat. Dia itu terlalu senang jika banyak yang perhatian dengannya, "timpal Malik yang seketika membuat setiap orang di sana merasa bersalah.

__ADS_1


*****


Karena hari sudah mulai larut, atas persetujuan semua anggota keluarga, mereka semua pulang. Hanya ada Riani dan Malik yang menemani Rihanna di rumah sakit. Keadaan Malik yang belum sembuh membuat geraknya terbatas. Jangankan untuk mengurus Rihanna seorang diri, mengurus dirinya sendiri pun dia masih memerlukan bantuan.


Malik dan Riani menerapkan sistem jaga bergantian. Saat ini Riani lebih dulu tidur, sedangkan Malik menemani Rihanna yang belum juga mau tidur. Wanita hamil itu terus saja membuka mata hanya untuk menatap sang suami yang merasa semakin gugup.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu?"


"Kamu yakin mencintaiku, Malik?" tanya balik Rihanna.


"Aku mencintai kamu, Kayla. Sangat!" tekan Malik yakin.


"Aku percaya, boleh aku minta tolong?"


"Apapun itu, Kayla."


"Ajari aku mencintai kamu, Malik. Aku tidak ingin anakku hidup tanpa hadirnya cinta di antara kedua orang tuanya," pinta Rihanna serius.


Malik sangat terkejut dengan permintaan Rihanna barusan. Dia menggosok kedua telinganya agar lebih dapat mendengar dengan jelas. Laki-laki tampan itu mengira dia hanya sedang berhalusinasi atau salah dengar.


"Kamu yakin, Kayla? Kamu tidak akan menyesal dengan keputusan kamu sekarang?"


"Aku yakin, tapi aku hanya memberi kamu waktu enam bulan untuk kamu berusaha membuatku jatuh cinta."


Malik menyunggingkan senyum bahagia. Meskipun waktu yang diberikan Rihanna tidak banyak, tetapi setidaknya dia mendapat waktu dan kesempatan tersebut. Dia bertekad akan berusaha sekuat mungkin agar istrinya itu bisa jatuh cinta sebelum waktu yang diberikan habis.


"Baiklah. Aku setuju!"


"Terima kasih, aku janji mulai sekarang tidak akan menolak perhatian dan usaha kamu dalam meluluhkan hatiku, Malik. Tolong bersabarlah sedikit, biarkan aku mencoba terbiasa dengan kehadiran kamu."


"Tidak, Kayla. Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih atas kesempatan berharga ini. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya waktu dan kesempatan yang kamu berikan."


Tanpa sadar Malik menggenggam tangan Rihanna dan menariknya dengan pelan. Malik mengecup punggung tangan istrinya begitu lama. Setetes air mata jatuh ke tangan mulus itu. Rihanna terharu saat hatinya tersentuh oleh perlakuan manis Malik. Suaminya itu sudah mulai memberanikan diri untuk lebih dekat dengannya.


"Semoga waktu yang aku berikan untuk kamu tidak berakhir sia-sia, Malik. Aku tidak ingin anak kita hadir tanpa adanya rasa cinta dan kasih sayang di antara kita. Aku ingin dia hidup dengan normal seperti anak-anak yang lainnya," gumam Rihanna yang kini memberanikan diri untuk menyentuh kepala Malik menggunakan tangan kirinya.

__ADS_1


"Jangan bosan untuk mengajariku, Malik."


__ADS_2