
Adeline, Zico, dan Queen terpaksa mengantarkan Monica ke permakaman Grasiella. Meski mereka sedikit takut jika sang ibu akan kambuh lagi, tetapi mereka tidak ingin mengecewakan ibunya dengan menolak permintaan wanita paruh baya itu.
Adeline dan Queen menggandeng tangan Monica menuju tempat peristirahatan terakhir Grasiella. Sementara itu, Zico berjalan dibelakang dengan membawa beberapa kantong plastik berisi bunga untuk sang ayah serta kembarannya.
Monica menghentikan langkah saat melihat sebuah nisan bertuliskan nama Grasiella. Pelupuk matanya tiba-tiba penuh dengan cairan bening yang sebentar lagi akan mengalir deras ke pipinya. Terlebih lagi saat melihat pusara yang berada di samping Grasiella, nama sang suami terpampang jelas di nisan itu.
"Ini makam papa dan Ella, Elin?" tanya Monica seraya menatap putri sulung yang selama ini disia-siakan.
"Iya, Ma. Itu rumah terakhir papa dan Ella," jawab Adeline, sorot matanya penuh kesedihan saat melihat reaksi sang ibu.
"Makam mereka sangat indah, Elin. Kamu pasti rajin menjenguk mereka," ujar Monica tersenyum, tetapi Adeline dapat merasakan ada kepedihan dari senyuman itu.
"Mereka keluarga Elin, Ma. Elin sayang sama mereka," tutur Adeline lembut.
Makam Ella dan Antonio memang sangat terawat. Rumput hijau memenuhi makam tersebut, tidak ketinggalan bunga-bunga indah juga menghiasi kedua makam sepasang anak dan ayah itu. Orang suruhan Adeline selalu mengganti bunga di kedua makam itu.
"Terima kasih, Elin. Karena sudah mencintai dan menyayangi mereka," ucap Monica seraya mengelus lembut pipi Adeline.
"Kasih sayang kalian tidak akan pernah bisa Elin bayar dengan apapun, Ma. Hanya inilah yang bisa Elin lakukan," balas Adeline dengan lengkungan tipis di bibirnya.
Monica kembali melanjutkan langkahnya. Wanita paruh baya itu berhenti saat sudah berada di tengah-tengah antara Antonio dan Grasiella. Monica menjatuhkan dirinya telat ditengah-tengah suami dan anaknya.
"Papa, Ella, mama datang. Maafkan mama karena tidak pernah datang," kata Monica menatap pusara Antonio dan Grasiella bergantian, kedua tangannya juga mengusap-usap kedua makam tersebut.
Adeline berjalan menghampiri sang ibu, sedangkan Zico dan Queen, mereka berjongkok di samping pusara Antonio.
"Mama mau tabur bunga dulu?" tawar Adeline.
"Boleh, Elin," jawab Monica.
Zico menyerahkan kantong plastik berisi bunga kepada Adeline yang langsung diterima oleh wanita beranak satu itu. Dia membuka kantong tersebut lalu menyodorkannya kepada Monica.
"Terima kasih," ucap Monica seraya meraup kelopak bunga mawar merah dan menaburkannya ke atas pusara Grasiella dan Antonio.
Kini kedua makam itu semakin penuh dengan kelopak bunga mawar merah serta beberapa tangkai bunga berwarna-warni yang sengaja diletakkan di papan nisan. Luruh sudah air mata Monica yang sejak tadi berusaha dia tahan. Monica menangis di atas kedua pusara orang-orang terkasihnya. Adeline merangkul sang ibu dan memberikan elusan lembut di bahu untuk menenangkan wanita tersayangnya.
__ADS_1
"Mama kuat, jangan terus larut dalam kesedihan. Elin, Zico, Nendra, dan Queen akan selalu ada buat mama," tutur Adeline.
"Mama sudah ikhlas atas kepergian mereka, Elin. Mama harap mereka akan bahagia di kehidupan selanjutnya," kata Monica penuh harap.
"Ella, maafin mama karena selama ini mama sudah gagal menjadi ibu yang baik. Semua kesalahan yang kamu lakukan, itu adalah bentuk dari kegagalan mama mendidik kamu. Maafkan mama, Ella," sesal Monica karena telah salah dalam mendidik anaknya.
Kini Monica beralih pada Makam Antonio. "Papa, maafkan mama atas kesalahan mama, Pa. Mama menyesal karena membohongi papa. Mama bahkan tidak memiliki kesempatan untuk jujur pada papa sampai kamu pergi meninggalkan kita semua. Jika masih memiliki kesempatan, mama janji akan menjaga kesetiaan mama hanya pada papa."
Kata-kata itu tentu saja membuat Adeline dan Zico terkejut. Yang mereka tahu, selama ini sang ibu sangatlah setia pada ayahnya. Namun, apa yang mereka dengar saat ini bagaikan Sambaran petir yang datang tiba-tiba.
*****
"Apa?"
Suara seseorang terdengar menggelegar di salah satu ruangan mewah kantor. Orang itu kaget setelah mendapat laporan dari bawahannya tentang kegiatan yang sedang dilakukan oleh istrinya.
"Nyonya muda mendatangi makam orang tua dan adiknya, Tuan."
"Aku dengar ucapanmu tadi. Aku tidak tuli, Bodoh!" bentak Danendra yang seketika membuat orangnya menunduk.
"Maaf, Tuan. Kalau Tuan dengar, kenapa tadi bertanya lagi?"
"Lalu apa, Tuan?"
"Hanya kaget saja."
"Oh. Saya kira Tuan bertanya tadi," balasnya lagi sambil menyengir.
"Sudah. Sekarang kita susul istriku! Aku khawatir mertuaku akan mengamuk lagi." Danendra melangkah dengan terburu-buru.
Si anak buah dengan sigap membukakan pintu untuk tuan mudanya. Pada saat bersamaan ternyata Gerry juga akan masuk ke ruangan sang tuan muda.
"Tuan muda –"
"Nanti saja, Ger. Aku harus menyusul Adel ke permakaman Antonio," potong Danendra cepat.
__ADS_1
"Kenapa harus disusul, Tuan. Bukankah sudah biasa Nyonya muda datang ke sana?"
"Ah, masalahnya dia membawa Monica ke sana. Aku takut Monica akan mengamuk seperti tadi malam lagi," terang Danendra yang seketika membuat Gerry merasa panik.
"Apakah wanita itu melukai nyonya muda, Tuan?"
"Tidak. Tapi dia menangis histeris, meraung tidak jelas seperti orang gila."
"Lah, wanita itu memang baru keluar dari rumah sakit jiwa, Tuan."
"Aku tahu!" bentak Danendra semakin kesal karena asistennya itu masih saja mendebatnya.
Danendra kembali melanjutkan langkahnya bersama si anak buah yang memberi informasi tentang Adeline, meninggalkan sang asisten yang sekarang lebih fokus pada urusan perusahaan dari pada urusan pribadi Danendra sendiri. Wajar saja jika sekarang Gerry tidak terlalu banyak tahu tentang apa saja yang terjadi pada kehidupan pribadi tuan mudanya.
"Loh, Tuan. Saya ikut!" teriak Gerry berniat menyusul Danendra.
"Tidak usah. Kau fokus saja urus perusahaan! Jangan sampai rugi besar, istriku akan mengoyakmu jika perusahaannya mengalami kerugian!" teriak Danendra tanpa menghentikan langkah.
"Dasar, bos menyebalkan. Sekarang aku sama sekali tidak dibiarkan mengurusi rumah tangganya. Padahal dulu aku yang diandalkan saat berusaha menaklukkan hati Nyonya Adeline," gerutu Gerry.
*****
Malik dan Rihanna baru saja pulang ke mansion Ibrahim. Sopir yang menjemput mereka setelah Malik menghubunginya dan meminta untuk dibawakan pakaian untuk mereka.
"Malik, Mami pasti marah karena kita tidak mengabarinya," ucap Rihanna tiba-tiba.
"Tidak perlu dipikirkan, Sayang. Mami pasti mengerti jika kita membutuhkan waktu berdua," balas Malik santai.
"Tapi, kamu memang salah, Malik. Seharusnya kamu mengabari mami dulu."
"Kamu kok malah nyalahin aku, sih!"
"Terus aku harus nyalahin siapa? Kan memang kamu yang salah."
"Salah mami sendiri, dia yang nggak kasih izin kita buat bulan madu!"
__ADS_1
"Bulan madu, bulan madu, bulan madu ajalah yang ada di pikiran kamu. Lama-lama lengket gara-gara kebanyakan madu!" gerutu Rihanna kesal.
"Kamu ini istriku, tapi selalu memihak pada mami, Kay. Tidak mami, tidak kamu, kalian sama saja." Malik memasang wajah cemberut.