Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Boom


__ADS_3

Perdebatan berlangsung alot dan memakan waktu yang cukup lama. Namun, Danendra masih enggan memberikan izin kepada sang istri untuk tinggal di sebuah mansion yang bahkan sudah ditinggal oleh si pemilik. 


"Kamu egois banget, Ndra. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Devan," kata Adeline, dari nada bicaranya terlihat sekali bahwa ada kekecewaan dalam diri wanita dewasa itu. 


"Kita tidak perlu bersembunyi, Sayang. Aku yang akan menjaga kalian dengan nyawaku," balas Danendra tanpa keraguan sedikitpun. 


 "Kenapa kamu harus membawa kami dalam situasi seperti ini, Ndra? Aku benar-benar takut jika Devan celaka," ujarnya lirih. 


Danendra membelai lembut pipi istrinya, "Aku janji, aku akan memperketat penjagaan untuk kalian, Sayang. Kamu dan Devan adalah nyawaku, mana mungkin aku membiarkan kamu dan Devan celaka." 


"Tapi … kamu tidak mungkin dua puluh empat jam menjaga kami, Ndra. Bagaimana jika musuh kalian kali ini bertindak nekat?" tanya Adeline yang tetap berpikir hal terburuk. 


"Tenanglah, apa kamu tidak percaya dengan kemampuanku, Sayang?" tanya balik Danendra yang sedikit kecewa karena sang istri justru meragukan dirinya. 


"Bukan aku meragukan kamu, Ndra. Tapi kita tidak tahu bagaimana sifat musuh kita, 'kan?" 


"Sudahlah, jangan dibahas terus. Lebih baik kamu istirahat saja," pungkas Danendra seraya merapikan selimut sang istri yang sedikit tersingkap. 


"Baiklah, selamat malam, Ndra," balas Adeline mengalah. 


"Selamat malam, Sayang." Danendra melayangkan kecupan singkat di kening sang istri.


*****


Keesokan harinya Rihanna dan Malik datang berkunjung ke rumah sakit. Pagi-pagi sekali, Rihanna sudah memaksa suaminya untuk mengantar dirinya menemui sang kakak yang sedang mengalami musibah. 


Kini mereka sedang berjalan di koridor rumah sakit untuk mencari ruang rawat Adeline. Setelah cukup jauh berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan bertuliskan VVIP 1. Rihanna yakin bahwa ruangan itu memang ruang rawat sang kakak. Terbukti dengan adanya dua pengawal yang setia berjaga di depan pintu. 


"Nona," sapa kedua pengawal yang mengenali Rihanna. 


Rihanna hanya menanggapinya dengan senyum serta anggukan kecil. Si pengawal pun sigap membukakan pintu untuk salah satu keluarga tuan mudanya. 


Saat pintu sudah terbuka, Rihanna langsung berjalan cepat saat melihat sang kakak terbaring di brankar pasien. Tanpa basa-basi dia menghampiri sang kakak yang kini berusaha untuk bangun setelah melihat kedatangannya.


"Hati-hati, Sayang!" tegur Danendra, dia membantu sang istri perlahan. 


"Kakak ngapain bangun, sih? Itu lukanya pasti masih sakit," omel Rihanna yang kini sudah berada di sisi lain brankar. 


Adeline tersenyum lembut, "Kakak udah baik-baik saja, kok! Dokter juga sudah memperbolehkan kakak untuk pulang," kata Adeline dengan nadanya yang lembut. 


"Jangan bohong, Kak. Meskipun dokter udah kasih izin kakak pulang, tapi aku tahu sakitnya masih terasa," timpal Rihanna yang tidak langsung percaya, walau bagaimanapun dia juga pernah merasakan luka semacam itu. 


"Iya juga, sih," balas Adeline dengan cengiran khas menghiasi wajahnya. 


"Kakak belum ceritain tentang kejadian yang sebenarnya, Kak. Gimana bisa kakak sampai rela jadi tameng buat Kak Nendra?" tanyanya penasaran. 

__ADS_1


"Musuh papa kemarin ngikutin kita, Rii. Terus aku berusaha melawan mereka, tapi kakak kamu ini bandel sekali. Dia malah jadikan punggungnya korban dari para bedebah itu," sahut Danendra menjelaskan. 


"Musuh Om Ale, yang mana, Kak?" tanya Rihanna dengan kening berkerut. 


"Dark Blood," jawabnya singkat. 


Rihanna membulatkan matanya saat Danendra menyebut kelompok klan mafia yang dulu pernah dikalahkan oleh Alefosio. Sudah lama sekali mereka menghilang, dan sekarang justru datang lagi dengan misi balas dendam. 


"Kakak serius?" tanya Rihanna dengan nada cukup tinggi. 


"Untuk apa aku berbohong. Mereka sudah berkali-kali meneror papa," balas Danendra. 


"Kalau begitu, istri dan anak kamu dalam bahaya, Ndra. Mereka pasti akan melakukan hal nekat lainnya," sahut Malik, walaupun dia tidak berkecimpung di dunia gelap, tetapi sedikit banyak Malik tahu tentang bengisnya kelompok-kelompok mafia. 


"Itu sebabnya aku ingin ikut mama pindah ke mansionnya," sahut Adeline dengan cepat. 


Rihanna yang tadinya fokus pada kedua laki-laki di ruangan itu, kini menoleh pada kakaknya, "Memangnya mama pulang ke mansion papa, kak?" tanya Rihanna. 


"Iya, Mama bawa Devan pulang ke sana. Katanya mama sudah diminta pulang ke mansion oleh papa kamu, Dek." 


"Oh, terus kakak mau tinggal di sana?" 


"Maunya gitu, tapi Nendra enggak kasih izin," kata Adeline seraya menatap sang suami. 


"Aku tahu, Kak. Kak Nendra kuat, tapi dunia gelap ini sangat baru untuk Kak Elin. Kak Nendra harusnya lebih mengerti akan ketakutan istri kakak," ucap Rihanna menasehati laki-laki keras kepala itu. 


Danendra masih diam, dia masih mencerna ucapan Rihanna barusan. Ketika ruangan itu sedang dalam keadaan senyap, seorang perawat datang ke ruangan tersebut. 


"Permisi, Tuan, Nyonya. Izin untuk memeriksa pasien," ucap sang perawat yang membawa buku catatan medis. 


"Silahkan," balas Rihanna mengizinkan, karena Danendra sendiri masih saja terdiam. 


Si perawat melakukan beberapa pemeriksaan sebelum si pasien di putuskan boleh pulang atau belum. Tidak berselang lama seorang dokter datang menyusul. 


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa si dokter dengan raut wajah ceria.


"Selamat pagi, Dok," jawab Rihanna, Adeline, dan Malik kompak. 


"Bagaimana keadaan nyonya? Apakah sudah merasa lebih sehat?" tanya si dokter kepada pasiennya. 


"Saya sudah lebih baik, Dok. Terima kasih karena sudah merawat saya dengan baik," balas Adeline. 


"Itu sudah tugas kami, Nyonya." Si dokter berjas putih itu beralih pada si perawat. "Gimana catatan medis Nyonya Adeline?" tanya si dokter. 


"Silahkan, Dok." Si perawat memberikan catatan medis si pasien. 

__ADS_1


Dokter membaca dengan teliti semua yang tertulis di kertas itu, "Baiklah, karena keadaan nyonya muda sudah lebih baik, jadi nyonya sudah boleh pulang." 


"Em, terima kasih, Dok." Adeline menghela napas lega. 


"Saya permisi," pamit si dokter dan perawat itu. 


"Jadi mau pulang ke mana?" tanya Rihanna setelah dokter pergi meninggalkan mereka.  


"Ke mansion mama," jawab Adeline. 


"Enggak! Aku enggak kasih izin kamu untuk tinggal di sana." 


"Kak Nendra, lebih baik tekan dulu keras kepala kakak itu. Mengertilah perasaan Kak Elin sekarang. Jangan memaksa dan merusak mentalnya," tegur Rihanna. 


Malik berjalan ke sisi lain brankar, msndekati sang sepupu yang terus saja bersikap keras kepala. "Ndra, aku rasa memang lebih baik menyembunyikan istri dan anak kamu dulu. Bukan kita meragukan kemampuan kamu, tapi aku khawatir jika istrimu akan tertekan dengan situasi ini." Malik berbisik tepat di telinga Danendra. 


Usai berpikir cukup lama, akhirnya Danendra menyetujui usul dari Rihanna dan Malik. Kini mereka sedang berjalan keluar. Namun, di tengah jalan Rihanna melihat seseorang yang mencurigakan. 


"Kak, lebih baik kita ke toilet sebentar," bisik Rihanna, kemudian menarik pelan sang kakak. 


"Ada apa, Dek?" tanya Adeline bingung. 


"Nanti aku jelaskan. Kak Nendra jaga depan pintu, yah!" Perintah Rihanna kepada kakak iparnya. 


Kedua wanita itu masuk ke toilet, sedang kedua laki-laki berstatus suami itu menunggu di luar. Beberapa saat kemudian, ponsel Danendra berdering. Dia menyipitkan matanya saat melihat nomor siapa yang tertera di layar ponsel. 


"Ada apa?" tanya Danendra tanpa basa-basi. 


"Perintahkan anak buah perempuan kakak untuk masuk ke toilet! Aku melihat ada seseorang yang mengintai kita sejak tadi." 


"Kamu juga merasakan itu?" tanya Danendra lagi, sebenarnya dia pun melihat gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang seperti mengikutinya. 


"Makanya kita harus kecoh mereka. Aku tidak ingin Kak Elin celaka karena ulah mereka," ujar Rihanna. 


"Baiklah." 


*****


Setelah seorang perempuan yang merupakan anak buah Danendra datang dan bertukar pakaian dengan Adeline, mereka keluar satu persatu. Danendra berjalan bersama si anak buah yang menyamar manjadi istrinya. Sementara itu, Adeline dibawa oleh Rihanna dan Malik menuju mobilnya. 


Danendra dan sang anak buah masuk ke mobil mewah milik Danendra. Keduanya saling tatap saat mendengar sesuatu yang berbunyi di kursi belakang mobil. 


"Sial!" maki Danendra. 


Tidak berselang lama, terjadi ledakan besar yang berasal dari salah satu mobil yang berada di tempat parkir. Orang-orang yang berada di tempat itu ikut terluka sebab terkena ledakan tersebut. 

__ADS_1


__ADS_2