
Jika Adeline sedang merasa kesal karena ulah suaminya yang semakin membuatnya malu. Tidak jauh berbeda dengan Grasiella, adik yang selama ini disayangi sepenuh hati oleh Adeline itu juga sedang kesal, hanya saja sebabnya karena sang kakak yang saat ini mulai berani menjawab ucapannya dengan kasar. Wanita yang terpaut sepuluh tahun darinya itu bahkan berani terang-terangan berucap bahwa mulutnya bagaikan sampah.
"Kurang aj*r! Aku pasti akan membalasmu, Elin. Lihat saja, sebentar lagi suamimu akan beralih di pelukanku," teriak Grasiella seraya menatap tajam sebuah potret yang menampilkan wajah sang kakak.
Marah, wanita itu bahkan melemparkan bingkai foto yang menampilkan wajah cantik Adeline hingga membentur dinding dan akhirnya pecah berserakan di lantai. Tanpa pikir panjang, Grasiella menuntun kursi rodanya mendekat lalu menyiram bahan bakar di atas foto sang kakak yang sudah berserakan dan menyalakan api untuk membakar potret cantik sang kakak.
"Aku menyesal sudah merebut laki-laki tidak berguna seperti Richard! Laki-laki yang dengan kurang aj*rnya selalu berani mengancamku. Laki-laki yang sudah menyebabkan aku tidak bisa berjalan lagi. Ini semua karena ulahmu, Elin." Grasiella melemparkan beberapa bingkai foto yang terhias oleh wajah Adeline ke dalam kobaran api tersebut.
Dasar Grasiella yang aneh, dia sendiri yang berulah dan sekarang justru menyalahkan Adeline yang sama sekali tidak tahu menahu tentang apapun tentangnya.
Saat Grasiella masih sibuk memasukkan lembar demi lembar foto sang kakak yang berada di pangkuannya ke dalam kobaran api yang masih membesar itu tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya hingga membuat wanita itu tersentak kaget. Buru-buru dia berniat memasukkan lembar foto terakhir yang dia pegang.
"Kamu ngapain, Kak?" tanya Zico seraya merebut selembar foto yang ternyata adalah gambar sang kakak sulung.
"Gausah ikut campur!" sentak Grasiella yang berniat merebut kembali foto tersebut.
"Lo ngapain foto Kak Elin? Kenapa di bakar?" tanya Zico menuntut dengan raut wajah garang.
"Gue mau musnahin semua kenangan dari cewek enggak tahu diri kaya dia!" bentak Grasiella tanpa mau menatap wajah adiknya.
Kedua mata Zico membulat sempurna. "Lo benar-benar udah berubah, Ella! Lo udah bukan kakak yang gue kenal dulu. Kak Elin enggak punya salah apapun sama Lo. Kenapa Lo berani fitnah dan berkata kasar tentang dia?" tanya Zico penuh emosi.
"Apa Lo bilang? Dia enggak punya salah sama gue?" tanya balik Grasiella penuh dendam. "Dia yang udah nyebabin gue selalu di hukum sama kakek dan nenek waktu kecil dulu. Dia udah rebut kasih sayang mama papa, dan dia selalu di sukai sama cowok yang gue suka!"
"Itu bukan salah Kak Elin. Itu salah elo sendiri yang lebih asik menggunakan topeng dari pada menunjukkan wajah asli Lo!"
__ADS_1
Semakin berkobar amarah Grasiella saat kembarannya justru membela orang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan mereka dari pada membelanya yang jelas-jelas lahir dari rahim yang sama dan selama sembilan bulan selalu bersama di dalam perut ibu mereka.
"Gue itu kakak Lo, Zico!" bentak Grasiella emosi.
"Kak Elin juga kakak gue dan dia yang selalu bela gue ketika gue ada masalah. Enggak kaya elo yang cuma bisa ngumpet di Ket*ak papa!"
Dua saudara kembar itu saling berselisih paham. Mereka saling menaikkan volume suaranya hingga terdengar oleh sang ibu. Monica yang mendengar keributan di kamar Grasiella akhirnya masuk ke dalamnya. Alangkah terkejutnya wanita paruh baya itu ketika melihat kobaran api yang berada sangat dekat dengan putri kesayangannya.
Buru-buru Monica berlari dan menarik kursi roda yang diduduki oleh Grasiella untuk menjauh dari kobaran api tersebut. Melihat kehadiran sang ibu membuat Zico terdiam seketika. Pemuda itu malas sekali jika nanti kembarannya itu kembali menggunakan topeng kepalsuannya.
"Kamu ngapain main api di kamar, Ella? Ini sangat berbahaya." Monica menasehati putrinya dengan suara sedikit meninggi.
Apa yang di khawatirkan oleh Zico benar-benar terjadi. Wanita yang sejak tadi begitu hebat mendebat kembarannya itu, kini tiba-tiba tertunduk. Samar-samar terdengar suara Isak tangis dari si wanita yang duduk di kursi roda.
Tangan yang masih terlihat mulus itu mengulur lalu menyentuh dagu sang putri, sedikit menariknya ke atas agar dia dapat melihat wajah putri kesayangannya itu.
"Maaf, bukan maksud mama mau memarahi kamu, Sayang."
Grasiella masih saja bungkam. Isak tangisnya semakin terdengar pilu. Wanita licik itu sengaja agar sang ibu tidak memarahinya dan justru memarahi kembarannya.
"Zico! Kenapa hanya diam saja? Cepat padamkan api itu!" Perintah Monica dengan tegas.
Meski malas melakukan tugas dari sang ibu, akan tetapi Zico tetap memadamkan kobaran api itu menggunakan Alat pemadam api ringan yang tersedia di rumah besar tersebut.
Begitu api sudah berhasil di padamkan, Zico berniat untuk segera keluar dari sarang wanita ular yang sialnya adalah kembarannya sendiri itu. Namun, sang ibu memanggil dan menyuruhnya untuk tetap berada di sana.
__ADS_1
"Kamu apakan kakak kamu, Zico?" tanya Monica dengan aura kepempimpinan.
"Zico enggak ngapa-ngapain Ella, Ma. Dia aja yang freaks," jawab Zico tanpa takut.
Walaupun di hina sebagai orang aneh oleh kembarannya sendiri, Grasiella memilih untuk tetap diam. Di depan sang ibu, dia tidak ingin keluarga yang lain ikut membencinya dan beralih pada kedua saudaranya yang sangat menyebalkan.
"Zico! Sejak kapan mama mengajarimu kurang ajar pada kakakmu." Monica yang mengajukan keberatan atas hinaan yang terlontar dari mulut putranya.
"Terserah! Zico semakin tidak betah berada di rumah ini sejak Kak Elin pergi. Aku peringatkan, Ma, mama pasti akan menyesal karena terlalu mempercayai Ella," ujar Zico sebelum melenggang pergi dari sana.
Pemuda itu sudah cukup pusing oleh masalah keluarganya dengan sang istri. Entah kenapa sekarang istrinya itu bersikap seakan-akan tidak membutuhkannya sama sekali. Tidak jarang wanita hamil itu menghinanya bahkan di depan seluruh keluarga besar.
Sudah berkali-kali dia ingin segera pergi meninggalkan wanita yang sekarang semakin bertindak semena-mena itu. Namun, lagi-lagi nasib sang janin yang ada di rahim istrinya itu yang membuatnya tidak dapat melakukan apapun dan hanya bisa menurut.
Sekarang, dia juga ikut di pusingkan oleh terbongkarnya rahasia tentang sang kakak yang ternyata hanyalah seorang anak angkat dari kedua orang tuanya, padahal dia merasa sudah sangat menyayangi wanita tersebut. Tetapi, walau bagaimanapun dia tetap akan menganggap wanita dewasa yang selalu membelanya itu adalah kakak kandung meski tidak ada ikatan darah antara mereka.
"Siapa yang menyuruhmu untuk datang, Anak S*alan." Grasiella memaki dalam hati.
"Ma-ma, Zico," lirih Grasiella yang semakin berlakon sebagai seorang yang tersakiti.
"Sudah, biarkan saja. Adikmu itu sudah biasa bersikap seperti itu. Sekarang tenangkan diri kamu agar lekas membaik," ujarnya menenangkan sang putri.
"Iya, Ma," jawab Grasiella menurut.
"Lain kali jangan bermain api di dalam kamar, Sayang. Bukan apa-apa, mama hanya tidak ingin kamu dalam bahaya saja. Lagi pula, apa yang kamu bakar itu?" tanya Monica yang tentu saja membuat Grasiella kebingungan untuk menjawabnya.
__ADS_1