Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Titip Mama


__ADS_3

Dengan berat hati Zico dan Adeline menyetujui saran yang diberikan oleh Queen. Hal itu tentu saja sudah di pertimbangkan dengan matang. Semua demi kebaikan Monica yang memang mentalnya terganggu setelah kehilangan Grasiella. 


Wanita paruh baya itu memang sangat menyayangi Grasiella, semua kesalahan yang di perbuat oleh putrinya itu bahkan selalu dia bela. Karena didikannya itulah yang akhirnya membuat Grasiella memiliki kepribadian yang buruk. 


"Semoga mama akan lebih baik di tempat ini, Zico. Jika kakak tidak sedang hamil, kakak pasti akan merawatnya sendiri. Tapi kamu tahu kan, Kakak tidak bisa memaksakan hal itu, karena sekarang kakak tidak hidup sendiri." 


"Tidak apa-apa, Kak. Mama memang lebih membutuhkan mereka yang memiliki keahlian di bidang psikologi seseorang. Jika kita yang merawat mama sendiri, belum tentu apa yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk mama," jawab Zico seraya menatap sang ibu yang duduk di sebuah ranjang besi berukuran lebih kecil. 


"Ya sudah, kita pulang sekarang," ajak Danendra kepada sang istri. 


"Kak, sebentar." Zico menahan sang kakak yang akan pergi dari sana. 


"Ada apa, Co?" tanya Adeline heran. 


Adiknya itu tiba-tiba menyodorkan ponsel yang dia ketahui adalah milik Monica. Adeline masih ragu untuk menerima benda tersebut. 


"Di dalam ponsel ini, ada rekaman Ella sebelum dia mengakhiri hidupnya, Kak." 


Setelah mengetahui hal itu Adeline pun menerima uluran ponsel dari Zico. Wanita hamil itu membawa pulang ponsel Monica ke mansion. 


Ketika sampai di mansion Adeline bersama sang suami segera membersihkan diri. Mereka duduk bersandar di kepala ranjang setelah berganti pakaian dengan baju tidur. 


Sebelum tidur Adeline memang sering kali menghabiskan waktu dengan bercerita tentang apapun keseharian kepada sang suami. Dia yang tiba-tiba ingat tentang ponsel pemberian sang adik segera mengambil benda tersebut di dalam tasnya. 


Adeline mengotak-atik ponsel Monica dan langsung memeriksa semua Vidio yang berada di dalam ponsel tersebut. Hingga pilihannya jatuh pada satu Vidio yang menampilkan wajah pucat Grasiella di atas brankar pesakitan. 


"Hai, Kak. Kalau kakak sudah melihat Vidio ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi." Grasiella terlihat mengulas senyum lebarnya. 


"Kamu tega sekali meninggalkan kakak, Ella," lirih Adeline seakan mereka sedang berbincang. 

__ADS_1


"Maaf, yah! Lagi-lagi Ella merepotkan kakak. Ella sudah sadar atas semua kejahatan Ella selama ini, Kak. Ella minta maaf karena selalu bersikap buruk pada kakak," lanjut Grasiella seraya menarik napas panjang. 


"Adik bod*h! Harusnya kamu masih berada disini dengan kakak, Ella." 


"Ella yakin, sekarang kakak sedang memaki aku dengan sebutan adik bod*h, 'kan?" senyum yang begitu manis terbit di bibir pucat Grasiella. 


Adeline tertawa lirih tetapi dengan kedua mata berkaca-kaca. Wanita itu kembali memperhatikan apa yang akan disampaikan sang adik padanya. 


"Ella titip mama, yah! Sayangi dan jaga dia seperti ibu kandung kakak sendiri. Terlepas semua kesalahan yang kami perbuat, kami merasa beruntung karena memiliki kakak sebaik dan sesempurna kakak. Oh iya, aku hanya ingin bilang, meski kita saudara beda ibu dan ayah, tetapi tolong selalu ingat adikmu yang nakal ini, yah, Kak." 


"Apa maksud Ella mengatakan kami berbeda ibu dan ayah? Bukankah ayah kita adalah papa Antonio?" tanya Adeline heran saat Vidio itu sudah berakhir. 


Danendra yang berada di samping sang istri segera merebut ponsel tersebut dan menyimpannya di laci nakas. 


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur!" perintah Danendra kepada sang istri. 


"Enggak, aku masih penasaran dengan ucapan terakhir Ella, Nendra!" seru Adeline menolak. 


"Aku mana bisa tidur kalau dalam keadaan penasaran seperti ini." 


"Kalau begitu, aku yang bantu tidurkan." 


Adeline hanya bisa menyesali ucapannya tadi. Suaminya itu bukannya membantu dia untuk tidur terlelap, justru membuat dia tidak berbus*na di malam yang dingin ini. 


Danendra baru melepaskan sang istri setelah wanita itu meminta ampun dan berjanji akan segera tidur. Benar saja, cara yang di gunakan oleh Danendra terbukti ampuh. Tanpa menunggu waktu lama, Adeline kini sudah terlelap di alam mimpinya. 


"Dasar, istri nakal. Disuruh tidur saja harus mendapat jahat dulu," ujar Danendra tanpa malu. 


Padahal dalam hal itu justru dialah yang paling di untungkan. Selain mendapat jatah lebih, dia juga merasa puas saat bisa melihat sang istri mend*sah di bawah kungkungannya. 

__ADS_1


Beruntung Adeline sedang hamil, jadi Danendra melakukannya dengan sangat pelan agar tidak menyakiti calon anaknya. Pria itu benar-benar memperhatikan dengan detail kesehatan istri dan bayi yang berada di perut istrinya. 


Laki-laki itupun menyusul sang istri ke alam mimpi. Mereka tidur dengan saling berpelukan. Namun, sayangnya baru saja Danendra nyenyak dalam tidur, tiba-tiba dia mendengar suara rintihan sang istri. 


Kedua mata Danendra yang sempat terpejam kini kembali terbuka. Di lihatnya sang istri tidur dengan gelisah. Dia beberapa kali memanggil nama sang ayah dan adiknya. Keringat sudah membanjiri wajah cantik wanita hamil itu. 


"Sayang, bangun!" Danendra berusaha membangunkan sang istri. 


Adeline belum juga bangun. Wanita itu bahkan menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Rintihan belum juga berhenti dari mulut tipis wanita tercinta Danendra tersebut. 


"Sayang, bangun!" seru Danendra sedikit menggoncang kan tubuh istrinya. 


Beberapa saat kemudian Adeline berhasil bangun dari mimpi buruknya. Wanita itu langsung terduduk dengan napas terengah-engah. Danendra segera mengulurkan segelas air putih kepada istrinya yang langsung diminum hingga tandas. 


"Kamu kenapa?" tanya Danendra setelah kembali menaruh gelas yang sudah kosong. 


"Aku mimpi, Nendra. Papa dan Ella sedang berlari dan ada beberapa orang misterius sedang mengejarnya." 


"Sayang, itu hanya bunga tidur. Papa dan Ella sudah tenang di sana, kamu pasti tadi lupa berdoa sebelum tidur, 'kan?" 


"Tapi, Ndra. Ella sempat berteriak meminta pertolongan." 


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Sekarang, tidur lagi! Aku akan menjaga kamu," ujar Danendra yang tidak ingin sang istri memiliki beban apapun. 


"Atau mungkin aku bermimpi karena sebelumnya melihat Vidio Ella, yah?" tanya Adeline kepada sang suami. 


"Kamu itu terlalu stres karena kehilangan berturut-turut seperti ini. Mereka pergi dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Belum lagi mama yang juga masuk rumah sakit jiwa. Saran dariku, kamu harus bisa mengontrol diri, Sayang. Sekarang ada bayi yang berada di perut kamu. Kasihan dia," ujar Danendra menasehati. 


"Mau bagaimana lagi, Nendra. Mereka adalah keluargaku, aku hidup bersama mereka sejak kecil. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa mereka sudah pergi dengan cara yang tragis." 

__ADS_1


"Kamu saja, orang-orang sampah seperti mereka saja masih di sayangi. Aku bahkan tidak habis pikir, terbuat dari apa hati kamu itu!" Danendra bergumam dengan sangat lirih.


"Kamu ngomong apa, Nendra?" tanya Adeline dengan tatapan tajam.  


__ADS_2