Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Penolakan


__ADS_3

Rasa bahagia bercampur haru merasuk ke dalam jiwa laki-laki muda itu. Pada akhirnya keinginan kedua orang tuanya dapat dia turuti secepat ini. Padahal, dia pun tidak terlalu berharap akan ada anak di saat masalah demi masalah hadir di kehidupan istrinya. 


"Kamu serius, Sayang?" tanyanya dengan binar bahagia menghiasi wajah tampannya. 


"Dokter bilang begitu, Nendra. Tapi aku tidak yakin," ujar Adeline yang memang masih belum menyangka akan secepat ini mendapatkan kabar baik tersebut. 


Usianya yang sudah tidak lagi muda sempat membuat dia merasa insecure, apa lagi akhir-akhir ini pikirannya sedang kalut karena di rundung masalah bertubi-tubi. 


"Kalau begitu, kita periksakan segera, biar kamu yakin." Laki-laki itu menarik pelan tangan istrinya. 


Adeline tidak serta merta mengikuti keputusan sang suami. Wanita dewasa itu menahan langkah yang tentu saja membuat Danendra tidak dapat menariknya. 


"Kenapa?" tanya Danendra heran. 


"Gimana dengan Aunty Nabila kalau aku tidak bisa mendonorkan darahku, Nendra?" tanya balik Adeline, sejak tadi yang hal itulah yang mengganjal di hatinya. 


Danendra berdecak kesal karena sang istri masih saja memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. "Sayang, aku tahu kamu ini orang baik. Tapi plis, untuk kali ini saja menurut padaku," ucap Danendra sambil menatap dalam kedua netra sang istri. 

__ADS_1


"Aku hanya takut terjadi apa-apa pada Aunty Nabila, Nendra. Apakah aku salah jika aku peduli padanya?" lirih Adeline yang tiba-tiba mellow. 


"Astaga." Danendra sedikit meraup wajahnya kasar. "Kamu tidak salah, Sayang. Aku yang salah," jawab Danendra frustasi. 


"Kamu bahkan belum tahu tentang kenyataan itu, tapi kepedulian kamu sudah melebihi kepedulian Rihanna, Adel. Apakah ini yang dinamakan ikatan batin?" monolog Danendra dalam benaknya. 


Danendra dapat membaca perasaan Adeline meski hanya lewat raut wajahnya saja. Dia yakin, istrinya itu memang tulus mengkhawatirkan Nabila. Berbeda dengan Rihanna yang hanya terlihat menyesal karena telah melukai sang ibu meski tanpa sengaja. 


"Aku serius, Nendra! Bagaimana nasib Aunty Nabila nanti?" tanya Adeline kesal. 


"Kamu tenang saja, Gerry yang akan mengurusnya. Sekarang, kita periksakan kebenaran tentang bibit unggul kita ini." Danendra beralih mengusap lembut perut istrinya yang masih rata. 


Walaupun dari kejauhan, Rihanna dapat menangkap kemesraan yang di tunjukan oleh Danendra dan istrinya itu. Perempuan muda yang masih menyesali perbuatannya itu tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya menunjukkan raut ketidaksukaan pada kemesraan yang tersaji barusan. 


"Rihanna," tegur Silvia yang paham dengan perasaan Rihanna saat ini. 


"Ya, Tante," jawab Rihanna menoleh ke arah Silvia, wanita paruh baya itu mengulas senyum yang dapat menenangkan siapa saja yang melihatnya. 

__ADS_1


"Kamu tidak ingin mendengar kelanjutan cerita Tante tadi?" tanya Silvia yang kembali akan membuka tabir rahasia tentang kehidupan sang sahabat. 


Rihanna menautkan kedua alisnya bingung, dia juga sudah lupa dengan pembicaraan mereka tadi. "Cerita yang mana, Tante?" tanya Rihanna, setelah beberapa saat mencoba mengingat, tetapi tidak berhasil mengingatnya. 


"Tentang saudaramu, Rihanna. Kamu tidak ingin tahu, siapa dia?" 


Raut wajah kesal akibat melihat pemandangan yang menyakiti hatinya tadi, kini berubah menjadi rasa penasaran. Perempuan muda itu juga ingin tahu maksud dari sahabat ibunya ini. 


"Memangnya siapa, Tante?" tanya Rihanna dengan cepat menajamkan pendengarannya. 


"Dia adalah wanita yang kamu benci, Rihanna. Kakakmu adalah istri sah dari putraku," ungkap Silvia dengan lugas. 


Mulut Rihanna menganga lebar dengan gelengan kepala keras. Ketika mendengar kenyataan yang di ungkap oleh wanita paruh baya di sampingnya, Rihanna langsung lemas di tempatnya. 


"A-deli-ne? Ta-nte serius?" tanya Rihanna dengan suara tercekat. "Enggak mungkin!" Rihanna melakukan penolakan tentang kenyataan yang dia ketahui saat ini. 


Rihanna berdiri dari duduknya, perempuan itu berniat pergi dari sana. Kenyataan macam apa yang baru saja di ungkapkan oleh sahabat dari ibunya ini. Dia sama sekali tidak percaya bahwa sang ibu memiliki putri lain, yang ternyata usianya terpaut jauh lebih dewasa darinya.

__ADS_1


__ADS_2