Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Perketat penjagaan


__ADS_3

Rihanna mengurung diri di dalam toilet rumah sakit. Perempuan itu belum juga dapat menerima kenyataan bahwa ternyata dia dan wanita yang begitu dibenci memiliki ikatan darah. Mereka saudara satu ibu meski berbeda ayah. 


Perempuan itu tertunduk lesu dengan tangan yang menjadi penyangga tubuhnya yang terasa lemas. Perlahan-lahan dia menegakkan wajahnya hingga bayangan wajah yang terpoles make up itu dapat dia lihat di cermin. Senyum sinis terbit di kedua sudut bibirnya. 


"Aku memang menginginkan saudara, tapi kenapa harus dia? Kenapa harus wanita yang merebut cinta pertamaku?" 


Emosi yang membuncah membuatnya reflek meninju cermin di depannya hingga pecah. Darah keluar dari buku-buku tangannya yang terluka akibat terkena pecahan cermin tersebut. Namun, perempuan itu sama sekali tidak memperdulikan rasa sakit di tangan kanannya itu. 


"Mama, kenapa mama memberikan aku takdir serumit ini? Aku Rihanna, sejak kecil aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi, apakah harus aku merebut cinta pertamaku dari kakakku sendiri?" teriak Rihanna mengacak-acak rambutnya. 


Keadaan perempuan yang biasanya rapi dan menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang glamor itu sudah tidak lagi terlihat, Rihanna sudah berantakan dengan lumuran darah. 


Cukup lama Rihanna meratap hingga ingatannya kembali pada saat Silvia mengatakan bahwa Adeline sama sekali belum mengetahui tentang hal ini. Wajah frustasinya kini bercampur dengan seringai licik. 


"Aku masih belum kalah!" serunya dengan suara lirih. 


Rihanna keluar dari toilet setelah selesai merapikan penampilannya kembali. Dia pun sudah membersihkan tangannya yang sempat mengeluarkan darah. Tidak ketinggalan, dia juga kembali memoles make up tebal untuk menyembunyikan perasaannya saat ini. 


Perempuan itu hendak kembali ke tempat Silvia yang masih setia menunggu sang sahabat di luar ruangan. Karena keadaan Nabila belum memungkinkan untuk di jenguk, jadi yang menunggu hanya bisa berada di luar ruangan saja. 


Ketika Rihanna datang, di sana sudah ada Adeline dan Danendra yang saling berpegangan tangan. Mereka duduk berdampingan dengan wajah ceria. 


"Kamu boleh berbahagia sekarang, tapi permainanku belum selesai," gumamnya dengan sangat lirih. 


"Tante, sebaiknya Tante dan Kak Nendra pulang saja dulu. Rihanna bisa, kok, jagain mama dengan baik," ujar Rihanna sedikit menyindir. 


"Kamu serius bisa menjaga mama kamu sendirian?" tanya Silvia memastikan. 


Sebenarnya dia pun ingin segera pulang. Bagaimanapun dia memiliki suami yang harus di perhatikan. Namun, untuk berpamitan sejak tadi dia pun merasa tidak tega. Apa lagi sampai detik ini, sang ayah belum juga menampakkan diri. 


Rihanna mengangguk pelan dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. "Yakin, Tante. Lagi pula kasihan istri Kak Nendra, bukankah dia sedang hamil?" 


Silvia yang terkejut dengan ucapan Rihanna barusan reflek menoleh ke arah sang menantu. "Kamu hamil, Elin?" tanya Silvia dengan mata berkaca-kaca. 

__ADS_1


Adeline tersenyum canggung, wanita dewasa itu merasa tidak enak karena belum memberi tahu kepada mertuanya tentang kabar gembira tersebut. 


"Iya, Mam. Mama akan segera memiliki cucu, maaf kita belum memberi tahu mama. Karena kami baru saja memeriksa keadaan janin di kandungan Adel," jawab Danendra yang paham dengan suasana hati sang istri. 


"Syukurlah! Terima kasih, Sayang! Kamu sudah mewujudkan keinginan mama," ujarnya dengan gembira, Silvia bahkan sampai menarik Adeline ke pelukannya. 


"Selamat ya, Kak!" 


Walaupun merasa panas saat melihat adegan di depannya ini, Rihanna menguatkan dirinya agar tidak kembali berulah. Dia menyembunyikan segala rasa sakit di hatinya agar mereka semua tidak curiga. Namun, perubahan Rihanna yang begitu cepat justru membuat Danendra merasa aneh. Laki-laki itu hanya menjawab ucapan selamat dari Rihanna dengan anggukan kepala. 


"Ayo, Mam, Sayang, kita pulang!" ajak Danendra kepada kedua wanita berharganya. 


Pelukan antara Adeline dan Silvia terlepas. Wanita paruh baya itu kini beralih pada Rihanna. Memeluk putri kedua sang sahabat dengan erat. 


"Mama pasti akan baik-baik saja, kamu tidak perlu terlalu larut dalam penyesalan," bisik Silvia ketika memeluk Rihanna. 


"Iya, Tante," jawabnya singkat. 


Begitu sampai di mansion, Danendra langsung membawa sang istri ke dalam kamar. Memastikan wanita hamil itu segera beristirahat setelah membersihkan diri. 


"Selamat beristirahat, Sayang," ujar Danendra setelah sang istri membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. 


"Nendra," panggil Adeline sedikit ragu.


"Iya, Sayang, ada apa?" tanya Laki-laki berparas tampan. 


"Kamu masih akan terus memantau perkembangan Aunty Nabila, 'kan?" tanya Adeline yang memutuskan untuk mengungkapkan kecemasannya sejak tadi. 


Danendra tersenyum lalu mengacak rambut sang istri pelan. "Iya, Sayang. Kamu fokus saja pada kehamilan kamu sekarang," jawab Danendra gemas. 


"Nendra, jangan di berantakin," rengek Adeline dengan manja. 


Wanita hamil itu berusaha memejamkan kedua matanya. Mengistirahatkan tubuhnya yang memang terasa sangat lelah. Tidak memakan waktu lama, Adeline telah mengarungi mimpi indah di balik selimut tebal yang di pakaikan oleh sang suami. 

__ADS_1


Laki-laki bertubuh kekar itu menatap wajah polos sang istri yang terlelap. Membenarkan selimut yang sedikit turun itu agar dapat menghangatkan tubuh sang istri. Setelah itu Danendra beranjak dari tempatnya, keluar dari kamar pribadi mereka. 


Danendra berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Laki-laki itu sibuk mengurus pekerjaannya yang terbengkalai karena ulah Rihanna. Hingga fokusnya teralihkan oleh ketukan pintu dari luar. 


"Siapa?" tanya Danendra dari dalam. 


"Papa, Ndra," jawab si pengeruk pintu yang ternyata adalah tuan besar Alefosio. 


"Masuk, Pa," teriak Danendra mempersilahkan. 


Pintu terbuka, menampakkan seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan meski ada beberapa rambut yang terlihat sudah memutih. Pria yang merupakan ayah kandung Danendra itu berjalan menuju tempat sang putra yang masih terlihat duduk di depan laptop kerja. 


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Alefosio setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Danendra. 


"Masih ada pekerjaan yang perlu Nendra urus, Pa. Seharian ini Nendra sibuk dengan urusan Aunty Nabila," jawab Danendra tanpa mengalihkan pandangan dari laptop miliknya. 


Alefosio mengangguk paham. "Mama bilang Aunty Nabila tertembak oleh Rihanna," ujar sang ayah yang memang sengaja ingin mendengar sendiri dari penjelasan putranya. 


Kini Danendra menutup laptop yang berada di hadapannya. Laki-laki itu menangkupkan kedua tangannya di atas meja. Wajahnya yang tadi serius karena pekerjaan kini berubah semakin serius karena akan membahas permasalahan pribadi keluarga mereka. 


"Ini yang buat Nendra khawatir, Pa. Mama juga sudah mengungkap jati diri istriku kepada Rihanna. Nendra merasa Rihanna belum akan berubah." 


Alefosio tentu saja terkejut dengan ungkapan sang putra barusan. "Kalau begitu, Adeline akan dalam bahaya, Nendra. Rihanna pasti akan membocorkan kebenaran ini kepada Rocky," ujar pria paruh baya itu khawatir. 


"Nendra juga bingung, Pa. Kenapa mama begitu ceroboh." 


"Kalau begitu, kamu harus secepatnya mengajari Adeline bela diri," perintah sang ayah dengan cepat. 


"Tidak bisa, Pa. Adeline sedang mengandung keturunan Alefosio," ungkap Danendra yang membuat sang ayah semakin terkejut. 


Alefosio memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Bagaimana bisa sang istri begitu ceroboh percaya pada ular jadi-jadian seperti Rihanna. 


"Kalau begitu perketat penjagaan untuk menantu serta cucuku, Nendra!" perintah tuan besar. 

__ADS_1


__ADS_2