Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kau Mengerjaiku, yah!


__ADS_3

Seorang pria paruh baya baru saja keluar dari mobil mewahnya setelah sang bodyguard membukakan pintu untuknya. Seorang pria paruh baya lainnya berdiri tegak di depan pintu mansion mewah untuk menyambut tamu spesialnya. Senyum merekah di wajah si pemilik mansion ketika melihat sang tamu berjalan ke arahnya. 


Pria itupun merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang tamu dengan pelukan hangat. Si tamu juga melakukan hal yang sama. Mereka saling berpelukan serta menepuk punggung satu sama lain. 


"Apa kabar, Rocky?" tanya sang pemilik mansion setelah mereka melepas pelukan. 


"Aku baik. Kau bagaimana?" 


"Tentu saja aku baik. Apa lagi sekarang putraku sudah memiliki pendamping. Aku jadi lega, Rocky," jawabnya dengan binar bahagia menghiasi wajah tampan yang sudah tidak lagi muda itu. 


Rocky tersenyum senang ketika mendengar pengakuan sang sahabat. Laki-laki itu merasa lega karena sang putri berada di lingkungan yang tepat. Mungkin dengan cara seperti ini akan membuat Rihanna sadar dari obsesi gilanya. 


"Aduh, aku sampai lupa mempersilahkan besanku untuk masuk. Saking bahagianya aku bisa mempererat hubungan kita, Rocky," ujarnya seraya merangkul pundak sang sahabat dan menuntunnya masuk. 


"Terima kasih, Baim. Kamu sudah bersedia menjadikan putriku sebagai menantumu," ujar Rocky tulus. 


Ibrahim mendorong pelan tubuh sahabatnya untuk duduk di sofa lalu menyusul duduk di samping sang besan. Pria paruh baya itu memukul pelan lengan Rocky ketika menyadari sikap sang sahabat sedikit berbeda. 


"Kamu ini aneh sekali, Rocky. Tidak perlu bersikap sungkan seperti itu. Mana sahabatku yang memiliki kepercayaan diri setinggi gunung Everest?" 


Rocky hanya tersenyum kecut. Dia sudah tidak ingin menjadi pribadinya yang dulu. Sombong, congkak, kejam, dan tidak memiliki hati nurani. 


"Aku ingin mengubah sifat dan sikapku, Baim. Sekarang, aku sengaja datang untuk berterima kasih pada keluargamu. Tolong, aku titipkan putri tunggalku padamu, Baim. Ajarkan dia semua kebaikan yang kalian miliki," pinta Rocky dengan sorot mata penuh harap. 


"Kamu semakin aneh, Rocky. Memangnya kenapa kamu sampai melakukan hal tersebut? Kenapa kamu tidak jujur pada putrimu bahwa perjodohan ini atas keinginan kamu?" tanya Ibrahim yang sebenarnya penasaran dengan alasan sang sahabat. 


"Apa kamu pikir jika aku yang memintanya lalu dia akan menurut? Rihanna itu keras kepala. Kamu tahu sendiri bagaimana aku? Rihanna bahkan melebihiku, Baim. Aku sudah tidak bisa mendidiknya," keluh Rocky penuh sesal. 


"Baiklah. Aku janji akan mengajari Rihanna tentang kehidupan yang lebih baik. Kamu jangan khawatir, aku menganggapnya sebagai putriku, bukan menantuku." 


*****


Di tempat yang berbeda, Malik baru saja sampai di kantornya. Para karyawan menatap pimpinan mereka penuh heran. Pria yang biasanya rapi, cool, dan berwibawa itu kini terlihat lemas, lesu, dan lunglai. Seperti kehabisan tenaga. Tidak hanya itu saja, penampilannya yang acak-acakan tentu membuat gempar seisi kantor. 


Malik berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Jika biasanya Malik akan menatap para karyawan yang berani menggosipinya dengan tatapan mengintimidasi, saat ini Malik sama sekali tidak berniat melakukan hal itu. 


Dari kejauhan Celine memperhatikan sang bos yang memang terlihat berbeda dari biasanya. Wanita yang kini kembali berpakaian khas gadis tomboi itu berlari mendekati Malik. 

__ADS_1


"Bos, kau kenapa?" tanya Celine sambil menatap sekelilingnya. 


Para karyawan masih terus terpaku pada Malik. Celine pun mendelik tajam ke arah para karyawan itu sambil mengibaskan tangannya sebagai tanda menyuruh mereka untuk membubarkan diri. Berkat perintah dari Celine, mereka akhirnya kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing. 


"Aku tidak apa-apa!" 


"Anda ini pengantin baru, kenapa malah loyo seperti ini?" tanya Celine menyindir. 


Malik memberikan tatapan mengintimidasi ke arah sekretarisnya. Gadis tomboi itu benar-benar tidak bisa menjaga privasi sama sekali. Di kantor, tidak ada satupun yang mengetahui tentang pernikahannya selain Celine, sang sekretaris. 


"Sekali lagi kau berucap sembarangan dan sampai membuat gempar kantor ini, aku akan memutasi jabatanmu menjadi OG!" tekan Malik dengan suara pelan. 


"Piss, Bos. Aku kelepasan tadi." 


Keduanya berjalan bersama masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan CEO. Ketika lift terbuka mereka pun keluar. Namun, langkah mereka terhenti saat Malik tiba-tiba berhenti. 


"Ada apa, Bos?" tanya Celine heran. 


"Aku tiba-tiba ingin kopi. Belikan di cafe depan!" perintahnya kepada sang sekretaris. 


"Untuk apa beli, bukankah kantor kita juga tersedia pantry? Aku bisa membuatnya seperti biasa, Bos." 


Celine mendengus kesal, tetapi mengayunkan langkah untuk kembali masuk ke dalam lift. Sayangnya, Malik tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang langsung membuat Celine lemas. 


"Siapa yang menyuruhmu naik lift? Turun lewat tangga darurat!" 


"Astaga, Bos. Kau mau mengerjaiku, yah!" 


"Kau semakin berani padaku, Celine. Tampaknya memang kau ingin menemani kekasih OBmu itu, yah!" ancam Malik dengan tatapan menyeramkan. 


"Iya-iya. Aku turun lewat tangga darurat." 


Ketika Celine baru saja melangkah menuju pintu darurat. Langkahnya kembali terhenti saat Malik kembali memanggilnya. Celine sempat menghela napas lega karena mengira bosnya itu berubah pikiran. 


"Ada apa, Bos. Kau pasti lebih ingin kopi buatanku, 'kan?" 


"Cih! Percaya diri sekali kau. Jangan lupa, saat naik nanti juga lewat tangga darurat. Aku akan memantaumu lewat CCTV!" ancam Malik tidak main-main. 

__ADS_1


"Ha!" pekik Celine yang merasa tiba-tiba lututnya lemas. 


"Waktumu hanya 10 menit, Celine." Malik menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. 


Celine buru-buru melarikan diri turun dari tangga darurat. Bayangkan saja, akan selelah apa dia saat ini. Lima belas lantai bolak-balik hanya dalam waktu sepuluh menit, belum lagi mengantri kopi di cafe yang pasti juga memakan waktu yang tidak sebentar. 


Akhirnya Celine sampai di cafe depan kantor Ibrahim Corporation. Masih dengan napas tersengal dia segera memesan kopi kesukaan sang atasan. Para pelayan di cafe itu sampai menahan tawa saat melihat sekretaris CEO perusahaan ternama itu seperti tengah dikejar setan. 


"Kau jangan menertawakan aku!" bentak Celine tidak terima. 


"Maaf, Nona." 


Celine kembali melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah menghabiskan waktu 7 menit, tetapi kopi belum juga selesai dibuat. 


'Kalian lelet sekali. Cepatlah! Karirku sedang diujung tanduk!" gerutu Celine memaki para pelayan. 


"Ini, Nona. Silahkan." 


Celine merebut kopi kesukaan Malik lalu bergegas kembali ke kantor. Gadis tomboi itu sama sekali tidak sadar bahwa dia belum membayar pesanannya. Dia berlari dengan cepat untuk memburu waktu yang hanya tinggal sebentar. 


Langkah Celine begitu lebar hingga dapat menjangkau 4 anak tangga sekaligus dalam satu kali langkah saja. Beruntung hari ini dia menggunakan sepatu Cats yang memudahkan dirinya untuk berlari. Tidak terbayangkan jika dia memakai Hells tinggi dan harus berlarian seperti saat ini. 


Waktu hampir habis, Celine semakin mempercepat langkahnya agar tidak kehabisan waktu. Sebenarnya dia tahu, di belakang ada seseorang yang mengejarnya. Namun, dia tidak peduli, saat ini yang terpenting adalah mengantarkan kopi itu dengan waktu yang sudah ditentukan. 


"Bos!" seru Celine sambil membuka pintu ruangan CEO. 


Gadis tomboi itu kembali berlari mendekat. Wajahnya sudah berubah warna ketika melihat Malik meliriknya sekilas lalu kembali menatap jam tangan mewah di tangannya. 


"Kau terlambat lima detik, Celine." 


"Astaga, Bos. Kau benar-benar kejam. Jangan hitung detik akhir itu. Aku sudah sampai saat sepuluh menit tepat di depan pintu ruangan mu, loh!" 


"Nona, anda belum membayar kopinya!" 


Keduanya menoleh ke belakang. Malik semakin menatap tajam Celine yang sudah ceroboh saat menjalankan tugas.


"Memalukan!" 

__ADS_1



__ADS_2